Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Lelahmu Menjadi Karang Tegarkan Hatimu

Endah Wijayanti29 Sep 2020, 13:45 WIB
Diperbarui 29 Sep 2020, 13:45 WIB
perempuan tulang punggung keluarga

Fimela.com, Jakarta Melepaskan impian sendiri demi membahagiakan orang-orang terdekat. Bekerja siang malam tanpa henti demi meningkatkan kesejahteraan keluarga. Berupaya untuk selalu tersenyum meski tubuh terasa lelah luar biasa karena berbagai pekerjaan, tidak mudah tapi tetap kita lakukan. Menjadi perempuan yang punya peran penting sebagai tulang punggung keluarga jelas tidak mudah bagi siapa saja.

Di antara kita mungkin ada yang terpaksa harus menjadi pencari nafkah utama karena berbagai keadaan. Entah karena menjadi ibu tunggal, anak perempuan yang punya tanggung jawab untuk kesejahteraan adik-adik, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk membantu melunasi utang-utang, hingga menjadi perempuan yang sedang memperjuangkan impian orang-orang tercinta. Menjadi tulang punggung keluarga jelas tak mudah. Namun, setiap peluh dan lelah pada akhirnya akan menjadi karang yang membantu kita lebih tegar jalani kehidupan ini.

Setiap Hal yang Kita Lakukan Menghadirkan Makna

Lelah dan letih yang kita rasakan saat harus bekerja melampaui kemampuan bisa membuat kita merasa sedih dan terpuruk. Tak apa jika sesekali kita menangis dan bersedih karena keadaan yang sedang kita hadapi saat ini. Tak apa untuk sesekali jujur bahwa hidup ini terasa berat. Setelah itu, kembali bangkit dan berjalan lagi melakukan hal-hal yang lebih baik. Setiap  hal yang kita lakukan pada akhirnya akan menghadirkan makna baru dalam hidup ini. Bisa membahagiakan dan membantu memperbaiki kehidupan orang tercinta kita sudah merupakan pencapain tersendiri yang luar biasa untuk kita. 

“I believe in being strong when everything seems to be going wrong. I believe that happy girls are the prettiest girls. I believe that tomorrow is another day, and I believe in miracles.”

– Audrey Hepburn

Hidup Mungkin Keras, tapi Jiwamu Lebih Tangguh dari Apa pun

perempuan sulung tulang punggung
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/anontae2522

Kerasnya hidup, ujian dan cobaan hidup yang datang bertubi-tubi mungkin pernah membuatmu merasa kalah. Akan tetapi, bukan berarti hidupmu gagal. Kehidupan yang kamu jalani mungkin lebih keras dan berat daripada orang lain. Menjadi tulang punggung keluarga menghadirkan tanggung jawab sekaligus beban yang sangat berat di pundakmu. Semua itu sangat sulit untuk ditanggung sendiri. Belum lagi bila masih ada cibiran atau sindiran yang harus kita terima di tengah upaya kita untuk memperbaiki keadaan, segalanya terasa suram. 

Tetap tegakkan kepala. Jiwa dan hatimu bisa lebih tegar dan kuat dari yang kamu duga.

Sesekali mungkin kamu akan menitikkan air mata. Izinkan diri untuk bersedih. Tepuk-tepuk bahumu sendiri. Dekap lebih erat lagi tubuhmu. Tak apa merasa sedih dan terluka. Izinkan dirimu untuk jujur pada dirimu sendiri. Setelah itu, kamu akan mendapatkan kekuatan baru untuk kembali bangkit dan berjalan.

“Women are like teabags. We don’t know our true strength until we are in hot water.”

– Eleanor Roosevelt

Lelahmu akan menjadi penguat dirimu hadapi kerasnya realita hidup yang ada. Menjadi tulang punggung keluarga memang berat, tapi bila itu bisa menghadirkan makna dalam hidup, maka kamu akan baik-baik saja.

Selalu ada pelangi setelah badai. Selalu ada titik terang di ujung lorong panjang. Semoga kamu tetap kuat jalani kehidupanmu. Serta, jangan lupa untuk tetap bahagia untuk dirimu sendiri. 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓