Menghindari Masalah Keuangan dalam Pernikahan, Ini yang Kulakukan

Endah Wijayanti30 Sep 2020, 09:35 WIB
Diperbarui 30 Sep 2020, 09:35 WIB
menerima kekurangan

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Ranti Uli

Sejak menikah, aku dan suami sangat peduli untuk masalah keuangan. Kami sadar bahwa kami punya perspektif yang berbeda tentang uang. Selain itu, kami pernah membaca dan mendengar bahwa masalah keuangan jadi salah satu masalah paling besar dalam keluarga. Jadi, kami fokus merencanakan keuangan keluarga dengan baik untuk menghindari konflik yang bisa merusak rumah tangga.

Perjalanan keuangan keluarga kami cukup dinamis. Dulu, aku dan suami bekerja di kantor dan punya penghasilan tetap. Kemudian, setelah punya anak, aku memutuskan resign sehingga tidak punya penghasilan alias suami jadi penafkah tunggal. Setahun belakangan, aku kembali bekerja walau secara paruh waktu untuk menambah penghasilan keluarga.

Namun, perubahan yang terjadi dalam menerima penghasilan ini tidak mengganggu perencanaan keuangan. Pasalnya kami sudah punya komitmen untuk budgeting atau membuat anggaran dan disiplin dalam mengikuti anggaran tersebut.

Disiplin Atur Keuangan

budgeting
Menjaga pernikahan./Copyright Ranti Uli

Persentase pengeluaran kami secara garis besar ialah 40% untuk kebutuhan sehari-hari, seperti belanja kebutuhan untuk makan, biaya bensin kendaraan, biaya listrik, air, dan sebagainya. Lalu 20% untuk hiburan, seperti jalan-jalan, beli produk make up atau beli kopi, dan 30% untuk tabungan dan investasi. Kami mengunduh aplikasi pencatatan keuangan di ponsel untuk mencatat setiap pengeluaran hari lepas hari. Bahkan uang parkir Rp5 ribu pun kami catat di aplikasi tersebut. Jadi kami tahu berapa uang yang sudah keluar dan berusaha untuk tidak mengeluarkan lebih dari yang sudah dianggarkan.

Pada awalnya ini memang tidak mudah karena banyak godaan untuk belanja atau membeli barang yang diinginkan. Tapi, setelah terbiasa disiplin dalam budgeting, aku merasakan manfaatnya. Kami bisa hidup bebas dari utang dan punya dana darurat yang cukup untuk keluarga. Kami juga tidak mengenal istilah “tanggal tua” karena semua kebutuhan sudah masuk dalam anggaran. Bagiku, inilah definisi merdeka secara finansial. 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓