Di Balik Gaji yang Disisihkan untuk Orangtua, Ada Rezeki Tersembunyi

Endah Wijayanti30 Sep 2020, 14:45 WIB
Diperbarui 30 Sep 2020, 14:45 WIB
uang untuk ortu

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Agnes Ferisia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kita sebagai pengeloa keuangan, baik pebisnis, karyawan, bahkan ibu rumah tangga, harus pandai-pandai membagi pos pengeluaran setiap bulannya. Biaya belanja bulanan, uang sekolah anak, tagihan air dan listrik, hiburan dan rekreasi sudah pasti masuk dalam catatan yang harus kita sisihkan setiap bulannya. Namun, bagi saya pribadi, ada satu pos keuangan lagi yang harus saya penuhi, yaitu tunjangan bulanan untuk orang tua.

Sejak tahun kedua saya mulai bekerja, saya berkomitmen pada diri sendiri untuk menyisihkan sebagian kecil dari gaji saya untuk diberikan kepada orangtua. Pada awalnya saya hanya ‘menyetor’ untuk ibu saya yang notabene adalah seorang ibu rumah tangga tak berpenghasilan. Pada saat itu, ayah saya masih bekerja dan berpenghasilan, sehingga prioritas utama saya pada saat itu adalah ibu saya dan itu pun dengan jumlah yang tidak banyak tentunya dikarenakan penghasilan bulanan saya sebagai karyawan swasta tingkat entry level tidaklah seberapa.

Memang cukup sulit untuk terus mempertahankan komitmen tersebut, apalagi sebagai wanita di usia awal 20-an pastilah juga punya keinginan untuk memanjakan diri sendiri di salon, sekadar hang-out dan menonton film di bioskop dengan teman-teman. Terkadang muncul keinginan untuk ‘memangkas’ tunjangan untuk ibu saya. Namun, pikiran akan raut bahagia ibu saat bisa membeli benda idamannya, membuat saya membuang jauh-jauh niat egois saya tersebut. Terlebih lagi, saya memang mengetahui bahwa ibu saya lebih sering menyisihkan uangnya untuk ditabung. Saya semakin terpacu untuk bisa memberikan lebih kepada ibu saya.

Rezeki Selalu Ada

nabung
Ilustrasi/copyrightshutterstock/PR Image Factory

Tahun demi tahun berlanjut, seiring dengan peningkatan karier dan gaji, saya pun mampu bertahan dan menaikkan nominal tunjangan untuk ibu saya. Bahkan setelah saya menikah pun, saya memutuskan untuk terus bekerja agar selain untuk memuaskan hasrat belanja saya yang semakin menggila, saya pun tidak ingin putus memberi kepada ibu. Dan pada saat itulah, saya juga mulai memberi kepada ayah saya yang telah memasuki masa pensiunnya.

Ketika pandemi Covid-19 terjadi dan meluluhlantakkan perekonomian Indonesia, perusahaan tempat saya bekerja pun terkena dampak buruknya. Pemotongan gaji dan PHK tidak terelakkan. Beruntung, saya masih dipertahankan oleh perusahaan walaupun disertai dengan pemotongan gaji. Saya sempat khawatir akan bagaimana saya mampu memberi kepada orangtua saya. Pos-pos keuangan yang tidak perlu seperti belanja pakaian, rekreasi dan hiburan pun saya alokasikan untuk mereka.

Saya percaya bahwa di balik bakti kita kepada orangtua, ada rezeki yang tersembunyi. Dalam kasus saya, walaupun karier dan gaji saya tidak ’wow’ sekali, tetapi paling tidak, tidak ada pengeluaran tidak terduga seperti biaya rumah sakit, biaya perbaikan mobil atau biaya besar lainnya. Artinya hampir setiap bulan pengeluaran saya sudah sesuai prediksi, sehingga masih bisa menabung. Bukankah hal tersebut sudah merupakan rejeki? Terlebih lagi di saat-saat sulit seperti ini, atasan saya malah menaikkan gaji saya sehingga tidak ada kata-kata lain yang bisa saya ungkapkan selain puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓