Ditinggalkan Kekasihnya dan Takut Menikah, Perempuan Ini Memaknai Kehidupan Lajang dengan Cara Lain

Annissa Wulan30 Sep 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 30 Sep 2020, 16:00 WIB
Ilustrasi perempuan lajang

Fimela.com, Jakarta Heather Kenny tidak berencana menikah dan ia ditinggalkan oleh kekasihnya begitu saja. Pada saat itu, kehidupan lajang atau tanpa pasangan terasa tidak layak untuk dijalani.

Kenny berusia pertengahan 40-an dan menghabiskan lebih banyak waktu sebagai lajang. Kenny bahkan menemui terapis karena sang kekasih yang telah bersamanya selama 3 tahun tiba membuatnya ketakutan.

Setelah berdiskusi dengan sangat emosional tentang masa depan bersama, sang kekasih berhenti menanggapi panggilan telepon atau pesan Kenny. Sedangkan Kenny hanya berharap bisa membuat hubungan yang sedang berlangsung lebih permanen, setidaknya dengan tinggal bersama.

Kenny mati-matian mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dan menyelamatkan hubungan tersebut. Ia hampir tidak pernah tidur nyenyak dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merasa panik.

Karena tidak bisa makan banyak, beratnya turun hingga 14 pon dalam 6 minggu. Awalnya, Kenny berasumsi bahwa dirinya akan menikah, terlepas dari pribadinya sebagai feminis, ia berpikir bahwa sebuah pernikahan akan membuat hidupnya lebih mudah, daripada menjadi lajang.

 

 

Asumsi menikah akan memudahkan hidupnya berasal dari sang ibu

Ilustrasi orang bahagia
Ilustrasi orang bahagia. Sumber foto: unsplash.com/Brooke Cagle.

Ide tersebut ia adopsi dari sang ibu yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya. Sayangnya, ibunya menikahi seorang pecandu alkohol saat sekolah menengah atas dan bercerai, serta menghidupi 2 anak di awal tahun 1970-an.

Saat itu, perceraian bukan sesuatu yang umum, terutama di daerah tempat tinggal Kenny. Kenny menyadari bahwa ibunya adalah satu-satunya janda di daerah tersebut.

Walaupun mereka tidak pernah hidup secara berlebihan, namun uang masih terasa sangat terbatas. Suatu waktu, Kenny pernah menemukan surat nikah ibunya dan membuat sang ibu marah.

"Jangan menikah terlalu muda, namun jangan menundanya terlalu lama," kata sang ibu.

Ketika kekasihnya menghilang, Kenny menyadari bahwa keinginannya menikah dijadikan sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab atas hidupnya sendiri. Kenny berpikir dengan adanya seorang pria di sisinya, ia akan merasa lebih aman secara ekonomi dan emosional.

Kenny memaknai kehidupan lajangnya dengan cara lain

Ilustrasi orang bahagia
Ilustrasi orang bahagia. Sumber foto: pexels.com/Andre Furtado.

Saat menyadarinya, Kenny bertanya pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya ingin ia lakukan dalam hidup. Ia ingin lebih banyak bepergian.

Setelah putus dari kekasihnya, Kenny melakukan perjalanan solo ke Tulum, Meksiko. Meskipun merasa agak aneh, ia benar-benar dapat bersantai.

Selama beberapa tahun berikutnya, Kenny pergi ke Puerto Rico, Portugal, Italia, Spanyol, Turki, dan seluruh bagian Amerika Serikat, hampir semuanya ia lakukan sendirian. Tiba-tiba, bagi Kenny, melajang bukan nasib buruk atau kegagalan.

Kenny berhenti merasa malu karena menjadi satu-satunya perempuan di dalam keluarganya yang belum pernah menikah dan memiliki anak. Ia memiliki standarnya sendiri untuk pria yang bisa masuk ke dalam hidupnya, jika ada yang bisa memenuhinya, maka ia akan sangat bahagia, namun jika tidak, Kenny tidak ada masalah dengan itu.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓