Selamat Dari Pemboman ISIS, Kisah Perempuan Afganistan Berhasil Raih Hasil Ujian Terbaik

Anisha Saktian Putri01 Okt 2020, 11:00 WIB
Diperbarui 01 Okt 2020, 11:00 WIB
Ilustrasi pendidikan anak

ringkasan

  • Shamsia Alizada, putri seorang penambang batu bara berhasil mendapat nilai tertinggi di negaranya
  • ketekunannya dipuji setelah memuncaki ujian masuk universitas di Afghanistan setelah serangan bom bunuh diri di kampusnya.
Lanjutkan Membaca

Fimela.com, Jakarta Seorang perempuan muda dipuji karena ketekunannya setelah memuncaki ujian masuk universitas di Afghanistan setelah serangan bom bunuh diri di kampusnya.

Melansir Unilad.co.uk, perempuan bernama Shamsia Alizada, putri seorang penambang batu bara berusia 18 tahun, sedang mempersiapkan ujian universitasnya di Akademi Mawdud di Kabul pada tahun 2018 ketika seorang pembom yang dilakukan oleh ISIS meledakkan bahan peledak di salah satu ruang kelas.

Serangan itu menewaskan lebih dari 40 siswa dan melukai lebih banyak lagi, dengan ledakan yang sangat kuat sehingga atap gedung hancur.  Alizada pernah belajar gratis di Akademi Mawdud, namun setelah kejadian tragis tersebut dia mulai mengalami depresi dan memutuskan untuk putus sekolah.

Setelah kerusakan di akademi diperbaiki, para guru mendorong Alizada untuk kembali ke sekolah, dan dia mengikuti ujian masuk universitasnya tahun ini bersama lebih dari 170.000 siswa lainnya.

“Dua tahun lalu, seorang pelaku bom bunuh diri menyerang sekolahnya di Kabul.  Hampir lima puluh siswa tewas,” ujar Alizada

Seandainya serangan itu tidak terjadi, Alizada yakin nilai teratas didapatkan seorang perempuan muda bernama Rahila, yang tewas dalam ledakan itu.

“Tapi sayangnya, dengan semua mimpinya, hari ini, dia ada di kuburan.  Ini sangat menyakitkan,” ujarnya.

 

Mendapat nilai tertinggi

Shamsia Alizada/dok. twitter FolladwandAli
Shamsia Alizada/dok. twitter FolladwandAli

Alizada baru saja mendapat tempat pertama dalam ujian universitas nasional Afghanistan. Cita-cita ia pun ingin menjadi seorang dokter.

Remaja itu yakin dia akan berhasil dalam ujiannya, tetapi dia tidak berharap untuk mencapai nilai tertinggi dari siswa mana pun.  Berita itu diumumkan pada acara berita malam di Afghanistan. 

“Ibuku meneleponku dan memberitahuku bahwa aku lulus ujian.  Saya datang dan memeluk ibu saya dengan sangat erat.  Itu adalah salah satu momen yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan, karena senyum yang saya lihat di wajah ibu saya berasal dari lubuk hatinya,” kata Alizada

Ayahnya pun yang berada di tambang batu bara di bawah gunung.  Mendengar tentang putrinya, beban gunung akan menjadi seperti jerami baginya.Keberhasilan Alizada datang di tengah negosiasi bersejarah antara pemerintah Afghanistan dan Taliban, yang berharap untuk mengakhiri hampir empat dekade konflik berkelanjutan dengan memberikan peran kepada Taliban dalam kehidupan politik Afghanistan.

Tapi Alizada mengatakan dia tidak akan membiarkan politik menghalangi studinya.  "Saya memiliki beberapa ketakutan tentang kembalinya Taliban, tetapi saya tidak ingin kehilangan harapan saya, karena impian saya lebih besar dari ketakutan saya,” ujarnya.

Dia mengatakan ayahnya, yang bekerja di tambang di utara, telah memindahkan keluarganya ke Kabul untuk memastikan dia mengenyam pendidikan.

“Rasa tanggung jawab saya terhadap keluarga saya yang membawa saya ke posisi ini.  Ini adalah impian saya sekarang untuk belajar kedokteran dan melayani rakyat saya, ”katanya kepada Reuters melalui telepon dari rumahnya.

Taliban mengatakan mereka telah berubah dan akan membiarkan anak perempuan dididik, meskipun banyak yang khawatir hak-hak perempuan akan memburuk jika kelompok tersebut mendapatkan kembali pengaruh.

Setelah berhasil dalam ujiannya, Alizada berharap dapat memenuhi mimpinya belajar kedokteran dan menjadi seorang dokter.

 

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓