Di India, Perempuan yang Bercerai akan Dicap Buruk Seumur Hidup, Ini Kisah Mahevash Shaikh

Annissa Wulan13 Okt 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 13 Okt 2020, 16:00 WIB
Ilustrasi India

Fimela.com, Jakarta Di India, tempat Mahevash Shaikh tinggal, jika ada seorang perempuan belum menikah pada usia 30 tahun, akan dianggap ada yang salah pada dirinya karena melewati usia pernikahan. Keyakinan regresif umum lainnya di tempat itu adalah bahwa perceraian merupakan hal yang memalukan, terutama bagi perempuan.

Sistem kepercayaan di India inilah yang akhirnya membuat Mahevash diremehkan, karena ia menikah dan bercerai sebelum usia 30 tahun. Mahevash menikah di usianya yang ke 25 di tahun 2015 dengan seorang pria yang dicintainya sepenuh hati.

Keluarga dan teman-temannya sangat bahagia karena ia akhirnya menemukan seorang pria yang akan menemaninya seumur hidup. Selain itu, pernikahan khas India hanya akan berlangsung sekali seumur hidup, untuk selamanya, bahkan jika akhirnya pasangan di dalamnya berpisah.

Untuk berbagai alasan, Mahevash berpisah di tahun 2017 dan setelah 1,5 tahun yang sulit, ia resmi bercerai berdasarkan kesepakatan bersama. Mahevash harus menunggu sangat lama untuk meladeni percakapan tentang perceraiannya, karena ia tidak siap berhadapan dengan penilaian, rasa kasihan, dan saran yang tidak diminta.

Ketika akhirnya Mahevash terbuka, ia pikir ia akan mampu menghadapi segala jenis reaksi masyarakat India. Bagaimanapun juga, ia selamat dari PTSD dan depresi berat, karena hubungan yang hancur, jadi ia pikir orang lain akan berempati atau menghormati keputusannya.

 

 

Reaksi masyarakat setelah tahu Mahevash bercerai

Ilustrasi India
Ilustrasi India. Sumber foto: unsplash.com/Vitaliy Lyubezhanin.

Mahevash salah. Yang ia dapati adalah orang-orang menjadi terlalu canggung untuk berada di sekitar Mahevash, berpura-pura bahwa tidak ada yang pernah terjadi, dan menghindar untuk berbicara dengannya.

Tidak sedikit yang meremehkan keputusan Mahevash untuk bercerai, sedangkan saat pernikahan berlangsung, ia telah mengucapkan janji sampai maut memisahkan. Orang-orang bahkan mencoba memberi saran untuk memiliki 1 atau 2 anak sebagai penyelamat pernikahannya.

Ketika Mahevash secara terbuka mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menginginkan anak, orang-orang ini bersikap lebih jahat. Mereka menjadi lebih terang-terangan bertanya tentang apa yang salah, seolah-olah itu adalah urusan mereka untuk mengetahui detail tentang kehidupan pribadi Mahevash.

Pertanyaan-pertanyaan invasif ini bahkan datang dari orang yang tidak dikenal oleh Mahevash, mereka memiliki keberanian untuk bertanya tanpa rasa takut atau ragu. Sebagian besar dari orang-orang ini tidak ingin mengubah perilaku beracun tersebut, sehingga Mahevash yang harus memisahkan dirinya sendiri.

Untungnya, orang-orang yang paling disayanginya, seperti orangtua, saudara perempuan, keponakan, dan bibinya yang belum menikah, mendukung Mahevash. Stigma tentang perceraian masih terasa menyakitkan, bahkan bagi seseorang yang selektif secara sosial seperti Mahevash.

Masyarakat India lebih menghargai kesesuaian budaya

Ilustrasi India
Ilustrasi India. Sumber foto: unsplash.com/Joshuva Daniel.

Masyarakat India lebih menghargai kesesuaian budaya, daripada individualitas. Mereka terkenal karena memiliki keluarga dan komunitas yang erat, yang seringkali justru mengorbankan rasa hormat terhadap pilihan pribadi.

Batasan dan ruang pribadi adalah konsep asing, semua yang dilakukan seorang anak adalah cerminan dari asuhan orangtua. Sehingga orangtua seringkali terpaku pada anak mereka, seperti proyek.

Perceraian adalah aib bagi keluarga, terutama bagi orangtua dari pihak perempuan. Seorang perempuan yang diceraikan akan dicap buruk seumur hidupnya, karena tidak suci lagi dan tidak mampu menjaga suaminya.

Mahevash tinggal di Pune dengan masyarakat metropolitan dari orang-orang terpelajar. Mahevash tidak bisa membayangkan trauma yang dialami para perempuan yang bercerai dari kota-kota kecil.

Tidak heran jika banyak perempuan memilih tetap bertahan dalam hubungan pernikahan yang penuh kekerasan atau mengakhiri hidup mereka, daripada berurusan dengan pendapat orang lain atas dirinya. Lebih buruk lagi, menurut Mahevash, masyarakatnya lebih menyetujui kematian, daripada perceraian.

Saat ini, Mahevash telah belajar untuk menjalani hidup dengan caranya sendiri, tanpa mengkhawatirkan bagaimana orang lain memandangnya. Ia merasa jauh lebih berdaya saat ini, daripada sebelumnya.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓