Dulu Kuliah di Jerman, Sekarang Jadi Distributor Sepeda di Kampung Halaman

Endah Wijayanti14 Okt 2020, 07:15 WIB
Diperbarui 14 Okt 2020, 07:15 WIB
usaha distributor sepeda

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Easter Aulia

Mulanya hanya iseng, saya mencari pabrik sepeda yang kualitasnya baik tapi dengan harga terjangkau di masyarakat. Selain itu juga untuk ikut memajukan usaha orangtua karena mereka menjual alat-alat dan perlengkapan sepeda. Selalu ada orang yang bertanya, mana sepedanya? 

Beberapa tahun yang lalu setelah saya lulus kuliah, saya bingung ingin mengerjakan apa. Kalau berkarier di sini, rasanya susah untuk mendapatkan upah yang layak. Teman-teman lain pernah berpendapat, kalau saya sekolah jauh dan mahal (dulu saya kuliah di Jerman), masa dapat upah sekian. Seumur hidup tidak akan bisa membayar uang kuliah saya. Dari situ saya berpikir, bagaimana cara menghasilkan uang dan berguna bagi orang lain. Background pendidikan saya IT.

Saat saya kuliah di sana, saya sudah mandiri. Bekerja untuk mencukupi kebutuhan dan sedikit menabung karena upah saya disana sebagian saya gunakan untuk travelling.

Seperti biasanya, anak wanita keturunan ataupun suku Sunda mendapat hak lebih sedikit atau bahkan hampir tidak ada dari orang tua, begitupun perlakuan bapak saya terhadap saya. Saya hanya diizinkan membantu usahanya dengan upah seadanya. 

Saya tidak mungkin menuntut atau bertengkar dengan orangtua demi uang. Dari situ saya memikirkan bagaimana mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi hobi saya yang mahal yaitu travelling. 

Menjadi Distributor Sepeda

distributor sepeda
Menjadi distributor sepeda./Copyright Easter Aulia

Akhirnya saya memutar otak untuk memulai usaha sendiri. Apa pun saya kerjakan dan belum berhasil. Jual lulur dari Bali, ternyata di Bandung sudah masuk supermarket dan lebih murah, dst. Beberapa kali usaha saya merugi. 

Setelah berbincang dengan keluarga, mereka mengusulkan menjual sepeda. Mengapa kamu tidak mencoba hal-hal biasa yang kamu kerjakan?

Saya setuju usul tersebut, saya kuras semua tabungan saya untuk modal usaha sepeda. Awalnya hanya dapat 50 buah sepeda saja dari tabungan hasil kerja saya di Jerman waktu kuliah dulu.

Beberapa tahun sudah berlalu, jatuh bangun saya rasakan. Ketika sedang maju dan berencana keuntungannya akan dipakai kredit rumah, ternyata ada pembeli partai besar yang menipu. Membayar dengan giro kosong.

Saya tidak patah semangat. Yang penting nama saya tetap bersih. Semua pemasok saya bayar lunas, sisa hasil keuntungan saya ludes, tapi nama baik tetap terjaga.

Sekarang sudah 5 tahun berlalu dari saat usaha saya terjatuh. Perlahan saya sudah bangkit lagi. Saya memiliki modal lagi untuk beberapa ratus sepeda. Saya bisa mencicil rumah idaman yang saya mau dan tentunya saya lebih berhati-hati dalam berdagang. 

Intinya tetap semangat, jangan menyerah, dan selalu menggunakan kata hati. Saat ini, pengiriman sepeda saya tidak hanya di Bandung saja, tapi sampai ke kota-kota lainnya seperti Sukabumi, Garut, dll.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓