Berani Berubah: Jatuh Bangun Dua Sahabat Menyulap Sampah Plastik Jadi Bahan Bangunan

Karla Farhana14 Okt 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 12:05 WIB
[Fimela] Rebricks

Fimela.com, Jakarta Di tengah darurat keselamatan lingkungan dan Bumi, masyarakat dunia berbondong-bondong mencari solusi masalah pencemaran dan sampah plastik. Mulai dari daur ulang botol, mengurangi penggunaan kantong kresek, hingga menghindari pengunaan plastik sekali pakai. 

Tapi, selama banyak produk masih menggunakan plastik kemasan, masalah sampah ini belum sepenuhnya terselesaikan. Di antara sampah plastik yang didaur ulang bank sampah, plastik kemasan dibakar begitu saja. Ironisnya, aksi penyelematan bumi dan lingkungan justru memperparah keadaan dengan pembakaran sampah plastik kemasan. 

Melihat hal ini, Ovy Sabrina memutar otak untuk mencari solusi agar sampah plastik kemasan juga bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang berguna untuk kehidupan. Ovy dan sahabatnya Novi, menemukan beberapa jenis sampah plastik yang tidak bisa dijual untuk didaur ulang. Bahkan, jenis-jenis sampah plastik ini ditolak banyak bank sampah. 

"Kita menemukan ada beberapa jenis plastik yang tidak dihargai, tidak ikut dikumpulkan untuk didaur ulang. Mereka (bahkan) menolak. Kalau dapat (sampah plastik jenis tersebut), langsung dibuang ke TPA atau malah dibakar. Salah satunya, sampah plastik multi layer," jelas Ovy saat dihubungi Fimela.com pada Rabu (7/10/20) lalu. 

Sejak itu, Ovy dan Novi fokus pada plastik-plastik tertolak. Di antara banyaknya sampah tertolak, seperti sampah sachet, minyak masak, mi instan, gula, pembungkus makanan kucing, sampah multy layer ini paling banyak ditolak. Meski banyak orang yang mendaur ulang sampah-sampah kemasan menjadi tas, jumlah sampah terus bertambah dan menumpuk jika tidak segera diolah. 

Dengan tekad kuat, Ovy dan Novi kemudian melahirkan Rebricks, sebuah perusahaan yang mendaur ulang sampah plastik tertolak menjadi bahan bangunan.  

Kelahiran Rebricks

[Fimela] Rebricks
Membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk melakukan riset. Akhirnya, Ovy dan Novi berhasil merilis produk paving block pada 2019 lalu. | Rebricks

Dari pengalaman itulah, Ovy dan Novi kemudian mendirikan Rebricks untuk menyulap sampah plastik tertolak menjadi paving block. Meski memiliki bekal ilmu dan peninggalan perusahaan paving block yang dimiliki keluarganya selama 30 tahun, memulai Rebricks bukan suatu hal yang mudah. Alat shredding untuk memecah plastik lunak sulit sekali didapat.

Pasalnya, kebanyakan yang ada dipasaran adalah alat shredding untuk botol plastik. Sebelum berhasil mendapatkan alat yang tepat, Ovy dan tim mengguntingi semua plastik multi layer satu per satu. 

"Cari alat shredding sekitar 3-4 bulan. Sebelum ketemu, kita gunting semua plastik secara manual. Sampai jari lecet," katanya sembari disambut gelak tawa. 

Namun, masalah mesin ini juga tidak selesai sampai di situ. Mesin cetak paving block tua yang dia dapat dari perusahaan ayahnya dahulu rusak dan harus diservisi. Hingga akhirnya, Ovy berhasil membeli mesin cetak baru untuk produksi paving block-nya. 

Pada Juli 2018, Ovy dan timnya mulai melakukan uji coba dengan berbagai metode. Tidak langsung berhasil, malah membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk melakukan trial and error serta tes di lab Badan Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kementerian PerindustrianDibantu seorang technical advicer ahli teknik sipil, tim Rebricks akhirnya berhasil launching produk pertamanya, paving block. 

Selain bertujuan mendaur ulang sampah plastik, Ovy dan Novi juga bertekad untuk membuat bahan bangunan dari bahan daur ulang yang mampu bersaing dengan bahan bangunan konvensional. Rebricks pun berhasil membuat paving block dengan kekuatan tekan 250 kg per cm persegi, sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). 

"Setelah melalui proses yang panjang, goal terindahnya adalah kami berhasil memproduksi paving block yang mampu bersaing dengan produk konvensional, dengan kekuatan tekan 250 kg per cm persegi yang sesuai dengan SNI, tipe B. Paving block ini bisa digunakan untuk lahan parkiran atau pedestrian," ungkap Ovy. 

Dari Kampanye Soal Sampah Plastik hingga Menangkan Sebuah Lomba

[Fimela] Rebricks
Produk pertama Rebricks, paving block, yang dibuat menggunakan sampah plastik kemasan. | Rebricks

Usaha Ovy dan timnya membuahkan hasil. Namun, ternyata belum banyak masyarakat Indonesia yang tahu soal sampah tertolak ini. Lewat Instagram resmi Rebricks, Ovy dan timnya mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik kemasan yang sudah dibersihkan dan mengirimnya ke kantor Rebricks untuk didaur ulang. 

Sebelum kampanye ini mencuri banyak perhatian masyarakat, Ovy dan teman-temannya berkeliling dari warkop ke warkop untuk mengumpulkan sampah plastik kemasan. Hingga akhirnya, seseorang menyebarkan broadcast kampanye tersebut dan mengundang banyak kiriman sampah plastik kemasan dari berbagai daerah di Indonesia. 

"Pengirim paling jauh ada dari Balikpapan, Kalimantan, Bali. Semua mereka kirim pakai ekspedisi dan biaya ditanggung mereka," cerita Ovy. 

Meski kepedulian masyarakat sudah meningkat, Ovy dan tim Rebricks ternyata masih juga menemukan banyak kendala. Meskipun begitu, Ovy mendapatkan suatu pelajaran hidup dari membesarkan Rebricks. 

"Jadi pembuatan Rebricks ini mengajarkan saya satu hal. Do something that you're passionate about. Saya pikir kalimat ini bukan apa-apa, tapi setelah membesarkan Rebricks, saya merasa 1,5 tahun dengan segala research dan failure-nya berkali-kali, ternyata ini justru yang mendorong saya untuk terus maju," katanya. 

Padahal, awalnya Ovy sempat dipandang sebelah mata. Bisnis yang berfokus pada isu lingkungan hidup ini dianggap hanya akan membuang-buang waktu. Begitu banyak kritikan dan keraguan dari orang lain. 

"But I followed my heart, finally. Novi yang selalu menguatkan saya untuk terus berusaha. Akhirnya, jadilah Rebricks!" 

Awal tahun 2020, Ovy dan tim mulai banyak dihubungi perusahaan besar yang ingin membeli paving block dalam jumlah besar. Pemesanan dari individu pun juga berdatangan. Sayangnya, Corona mendera seluruh bisnis di dunia, termasuk Rebricks, di awal Maret 2020. Perkembangan bisnis mulai melambat. Beberapa karyawan dirumahkan. Laboratorium pun tutup. Ovy dan rekan-rekannya terpaksa mundur selangkah, sembari tetap gencar mengedukasi masyarakat soal lingkungan dan sampah plastik. 

Meski COVID-19 menghambat pertumbuhan Rebricks, namun Ovy dan tim memiliki keyakinan kuat akan kesuksesan dan peluang besar di masa mendatang. Di tengah pandemi Corona, Rebricks berhasil menjadi salah satu dari 3 pemenang dalam ajang Circular Innovation Jam yang diikuti 430 peserta dan 25 finalis dari Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, dan India. 

Tahun 2021 nanti, Rebricks berencana akan meluncurkan produk keduanya. Ovy berharap tahun depan Rebricks dapat menggarap proyek-proyek lebih besar yang mencapai ribuan meter. 

"Corona menghambat launching produk baru kami. Harusnya September ini, tetapi karena lab tutup, kami berencana akan meluncurkannya pada 2021 nanti. Kami juga berharap akan ada proyek sampai ribuat meter. Kalau sekarang masih ratusan, sih," katanya. 

Meski keadaan tidak begitu berpihak kepadanya, Rebricks masih memiliki harapan untuk membuka cabang, dengan Bali sebagai salah satu destinasi yang dituju. 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓