Melepas Pekerjaan karena Tak Sesuai Kata Hati, Pilihan Itu Tak Kusesali

Endah Wijayanti19 Okt 2020, 07:45 WIB
Diperbarui 19 Okt 2020, 08:02 WIB
memulai bisnis

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Renny Anggreani

Aku mulai bekerja semenjak lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Aku terlahir dari keluarga sederhana. Bekerja bagiku adalah cara untukku bertahan hidup.

Tidak ada fasilitas apa pun yang bisa diberi orangtua yang bisa menunjang kehidupanku, selain makan dan tempat berteduh jika aku tidak bekerja. Jadi memang sangat sebegitu aku harus bekerja agar memiliki penghasilan.

Aku bercita-cita menjadi wanita karier yang sukses dalam artian memiliki income yang melimpah. Tujuanku menjadi wanita karier adalah materi.

Aku memulai pengalaman pertamaku bekerja pada sebuah mall di daerahku. Menjadi seorang pramuniaga. Aku bekerja dengan sungguh sungguh tanpa malas. Selalu bersemangat.

Tapi tahukah. Aku tidak menyukai pekerjaanku. Kemudian aku memutuskan tidak melanjutkan walau atasannku sudah memohon merengek-rengek agak aku mau bertahan tapi aku tetap tidak melanjutkannya. Aku mencari pekerjaan lain dan mendapati pekerjaan sebagai seorang kasir di salah satu salon ternama di kotaku.

Lagi lagi aku bersemangat. Bekerja tanpa malas. Dan bersungguh sungguh. Bahkan dalam waktu 3 bulan owner mengangkatku sebagai manajer usiaku saat itu masih 18 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana kesungguhanku bekerja sehingga aku bisa mendapati posisi itu, tapi ya aku tidak menyukai pekerjaanku.

Semua teman dan keluargaku heran saat mereka tau aku tidak menyukai pekerjaanku. Tetapi aku selalu berhasil menjalankannya. Hingga suatu hari, aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan itu saat aku diharuskan untuk bekerja tidak menggunakan hatiku sebagai manusia dimana aku harus mencurangi komsumenku. Saat aku harus mengada ada yang tidak ada. Saat aku harus mau bermuka dua dan saat aku harus mau menyikut rekanku sendiri demi karier cemerlang. Ya, aku menolak tegas dan melepas semua yang sudah kubangun setinggi dan sebaik itu. Aku memilih tetap menjadi manusia.

Aku memang tidak menyukai pekerjaanku tapi aku selalu melakukannya dengan hati. Aku tidak mau menghilangkan hatiku walau saat aku tidak menyukai sesuatu hal.

Menjalani Pilihan Hidup

alasan resign
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Wanita itu lembut hatinya. Jadi ketika ia sudah tidak bisa mengontrol hatinya, maka ia sudah gagal menjadi wanita sesungguhnya.

Aku tidak pernah menyesal melepas pekerjaan itu. Karena aku memang meyakini tidak ada yang bisa baik-baik saja ketika tidak ada ketulusan hati di dalamnya.

Aku, aku melihat bukti itu hanya dalam hitungan bulan. Mereka semua hancur tak tersisa. Bahkan owner memohon padaku untuk kembali. Memperbaiki yang telah rusak. Namun, itu sudah terlambat.

Tidak menyukai sesuatu hal bukan berarti memantaskannya untuk kita perlakukan dengan buruk. Aku melakukan nya dengan hatiku dan melepaskannya pun dengan hatiku. Sekarang aku tidak lagi bekerja. Aku tidak berkarier di dunia kerja aku berkarier dalam rumah tanggaku. Aku bahagia karierku berhasil bukan karena jabatan tapi saat hatiku masih bisa mengendalikan obsesiku.

Tuhan akan memberikan cinta pada kita yang selalu memberi kebaikan. Apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Yang dulunya aku butuh bekerja untuk materi tapi karena ada hati yang bisa mengendalikan keburukan. Aku tetap berlimpah materi tanpa bekerja. Tuhan memberiku pemdamping hidup yang juga selalu memperlakukan aku dengan hati sehingga bahagia tetap berpihak padaku. Jadi tak perlu risau, kebaikan akan selalu mendapat kebaikaan.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓