Terlahir sebagai Perempuan Sulung, Aku Tak Terbiasa Meratapi Cobaan Kehidupan

Endah Wijayanti21 Okt 2020, 08:05 WIB
Diperbarui 21 Okt 2020, 08:28 WIB
menjadi psikolog

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Desi Natalia Fendiawati

“God can always turn our pain into gain, our misery into ministry, our tragedy into triumph.”

Ketika aku terlahir ke dunia ini, tentu aku tidak bisa memilih apa jenis kelaminku. Yang jelas, kedua orangtuaku mengharapkan anak perempuan sebagai anak pertama karena mereka percaya anak perempuan kelak bisa membantu dan merawat orangtua. Ekspektasi yang cukup tinggi dari kedua orangtuaku bahkan sebelum aku lahir membuat diriku dididik menjadi pribadi tangguh, kuat ,dan ambisius. 

Di balik semua fasad ketangguhan yang terbentuk, aku tidak bisa berpaling dari naluri seorang wanita yang telah dirancang oleh Sang Maha Pencipta. Sosok mengayomi dan peduli itulah yang sejatinya dirasakan oleh perempuan di belahan dunia mana pun, tak terkecuali aku.

Terlebih karena terlahir sebagai anak perempuan pertama, ada saat di mana aku merasa seperti paradoks; harus menjadi sosok yang lemah lembut dan kuat di saat bersamaan agar dapat diandalkan; menjadi yang paling pertama dalam menanggung harapan dan hasrat orangtua; dididik dengan sangat disiplin agar bisa menjadi contoh yang pantas bagi adik-adiknya; menjadi penampung keluh kesah orangtua ketika kehidupan tidak berjalan dengan lancar; dan menjadi garda terdepan untuk mendamaikan anggota keluarga yang bertengkar.

Senyatanya, menjadi anak perempuan satu-satunya dan sangat dinanti-nantikan, membuat hidupku cukup dimanja. Dimanja bukan berarti aku bisa hidup berfoya-foya, tapi apa yang diminta dan dibutuhkan, orangtuaku selalu berusaha memenuhinya. Terkadang aku tidak sabar untuk mendapatkan apa yang kuiinginkan secepat mungkin. Aku cenderung menutup mata dengan semua pengorbanan dan kerja keras orangtuaku demi memenuhi keinginanku. Pikiranku hanya fokus berusaha mendapatkan apa yang kumau. Ya, sifat ambisiusku yang biasanya menjadi andalanku berbalik menjadi bumerang kali ini.

Namun semua itu berubah drastis 180 derajat dalam semalam karena suatu kejadian yang sangat mengubah hidupku. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tiba-tiba aku mendapatkan kabar dari adikku, bahwa ayahku telah meninggal. Ayahku meninggal karena serangan jantung tepat satu hari sebelum malam pertunjukkan bakat dari acara beauty pageant yang aku ikuti. Duniaku mendadak gelap dan terbalik hanya dalam semalam saja. Segala persiapan untuk pertunjukkan demi membuat kedua orangtuaku bangga seperti tidak ada artinya dan pupus begitu saja.

Kepergian Ayah untuk Selamanya

perempuan sulung
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/atiger

Biasanya ayahku menjadi orang yang paling aku andalkan ketika aku butuhkan, namun sekarang aku harus mandiri dan berjuang mengandalkan diriku sendiri. Jika dulu selalu diberi uang jajan dan tidak diperbolehkan mencari uang sendiri, akhirnya aku harus belajar berjualan demi memenuhi kebutuhanku. Jika aku yang dulu cenderung bertindak sesuka hati, sekarang aku harus berhati-hati dalam melangkah dan mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan yang aku buat. Termasuk mimpiku untuk berjuang menjadi pemenang di acara yang diikuti pun harus kuredam dan kuterima kenyataannya bahwa mungkin itu bukan jalanku.

Demi mewujudkan harapan kedua orangtua, aku harus kuat dan tegar menerima kenyataan meskipun aku merasa sangat kehilangan. Di saat merasa terpuruk dan sedih, aku tidak boleh terlena dan harus segera bangkit. Jika aku hancur, siapakah yang harus menjadi pondasi keluarga ketika ibuku sangat terpuruk karena kehilangan belahan jiwanya dan adikku yang belum cukup umur untuk bisa menerima kenyataan pahit ini?

Tanggung jawab itu harus kuambil dan kujalani karena sudah selayaknya anak pertama adalah anak yang terkuat dan paling dapat diandalkan. Jika bukan karena pertolongan Tuhan, mungkin aku juga tidak akan kuat menahan beban dari ujian yang datang dengan sangat tiba-tiba ini. Aku sangat bersyukur karena masih berpegang kuat pada imanku dan meyakini bahwa ada rencana Tuhan yang lebih indah di masa depan.

Satu hal yang tidak pernah kusangka, hal-hal yang dilarang ayahku semasa beliau masih hidup, sekarang dapat aku lakukan dan itu membuatku menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa dan matang. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa membuka bisnis sendiri, bangun subuh, dan berjualan hingga larut malam sembari bekerja menyelesaikan skripsiku.

Menjadi Lady Boss untuk Diri Sendiri

perempuan sulung tulang punggung
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/anontae2522

Setelah lulus dari kuliah pun, aku dapat pergi merantau keluar kota untuk bekerja serta mencari pengalaman dan kegiatan baru yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dari sini aku belajar bahwa kejadian menyakitkan jika ditanggapi dengan hati yang ikhlas, maka itu akan mendesak diri kita untuk terus bertumbuh serta memacu kita melakukan hal-hal yang kita pikir tidak akan pernah bisa kita lakukan sebelumnya. What doesn’t kill you make you stronger.

Aku pun jadi bertanya dalam hati, benarkah rasa sayang dari orangtua dan keengganan melihat anaknya merasakan hidup susah dapat menghambat perkembangan dari pribadi sang anak sendiri? Meskipun itu demi kebaikkan mereka? Entahlah, yang jelas hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku bukanlah pribadi yang manja dan egois lagi. Dari kejadian ini aku juga belajar untuk berhenti berusaha mengalahkan orang lain dan mulai fokus untuk membenahi kekurangan diri sendiri. Your biggest enemy is yourself, not others.

Dilahirkan menjadi anak sulung perempuan memang bukanlah pilihanku. Namun aku telah memilih untuk bertanggung jawab atas amanah yang Tuhan berikan saat aku dilahirkan ke dunia ini. Meskipun aku merasa belum menjadi lady boss yang patut dicontoh banyak orang, namun aku belajar untuk menjadi lady boss bagi diriku sendiri dan keluargaku. Aku harus mampu berdamai dengan kenyataan, bangkit dari keterpurukan dan merajut masa depan demi membuat kedua orangtuaku bangga. 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓