Mewujudkan Mimpi Menjadi Penulis dari Rumah

Endah Wijayanti21 Okt 2020, 10:35 WIB
Diperbarui 21 Okt 2020, 10:35 WIB
berkarier 20an

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Ariel

Bagi sebagian orang bekerja di perusahaan besar apalagi bank terbesar di Indonesia mungkin adalah sebuah pekerjaan impian. Bagi sebagian orang tua, melihat anaknya pergi bekerja dengan pakaian necis dan blazer yang tersetrika rapi adalah pemandangan yang mereka dambakan. Namun, bagi saya, kehidupan sebagai pegawai korporat tersebut tidak pernah menjadi impian ataupun sesuatu yang saya nikmati. Meskipun saya terlahir dari orang tua yang menempatkan rasa bangga mereka pada pekerjaan yang disandang anaknya, saya tidak bisa membohongi diri saya: saya tidak bahagia.

Ketidakbahagiaan ini jugalah yang membuat saya tidak ragu mengambil keputusan untuk mengundurkan diri ketika saya menerima surat mutasi ke kampung halaman saya beberapa minggu sebelum pernikahan saya. Saya tidak ingin mengorbankan pernikahan saya hanya untuk menjalani sebuah pekerjaan yang tidak saya sukai. Keputusan saya untuk hengkang dari program management trainee yang tengah saya jalani tentunya tidak datang tanpa harga. Saya harus mengorbankan ijazah saya karena membatalkan kontrak sebelum jatuh tempo. Tentunya sebagai pegawai yang hidup dari gaji bulanan saja, saya tidak punya uang penalti ratusan juta yang diminta perusahaan.

Keputusan saya untuk mengundurkan diri ini tentu saja disayangkan banyak pihak, terutama orang tua saya. Mereka yang tidak tahu menahu tentang keputusan saya sebelum tanggal pernikahan ini terhenyak ketika saya beri tahu setelah resepsi saya selesai. Keputusan saya telah bulat, tidak ada satu orang pun yang  bisa mengubahnya.

Banyak orang di sekitar saya menganggap tindakan saya untuk hengkang dari pekerjaan yang harus melewati seleksi panjang untuk mendapatkannya itu adalah sebuah keputusan yang tergesa-gesa dan tanpa pikir panjang. Walau begitu, saya tahu, saya melakukan sesuatu yang tidak akan saya sesali. Saya ingin jadi ‘lady boss’ untuk diri saya sendiri, saya ingin menjalani hidup dan mimpi saya sendiri, walau harganya adalah kehilangan ijazah yang saya dapatkan dengan darah dan air mata.

Menjadi Ghost Writer

bekerja usia 30 40
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/baoyan

Dari masa sekolah saya, saya adalah seseorang yang menikmati dunia literasi dan kepenulisan. Dulu, mimpi itu sempat mekar, namun patah karena seseorang yang dekat dengan saya sempat melabeli karya saya adalah sampah. Meski awalnya hati saya membara dengan keinginan untuk membuktikan diri, semakin umur saya bertambah, rasa percaya diri saya semakin luntur. Tuntutan untuk bersikap realistis pun membuat saya melupakan mimpi yang tidak pernah benar-benar lenyap dari lubuk hati saya yang terdalam itu. Namun, karena sebuah kebetulan, bara yang sempat padam itu kembali menyala.

Di tengah ketidakpuasan saya terhadap pekerjaan korporat yang saya jalani, saya menemukan pekerjaan sampingan yang menjadi oase. Saya bergabung di sebuah agency ‘penulis hantu’ yang menawarkan jasa penulisan konten website. Di situ, saya menemukan ritme menulis yang sempat lenyap. Di bawah seorang editor yang tegas, saya belajar memperbaiki kekurangan saya dalam menulis dan menemukan sebuah dunia baru: dunia content writer.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, tulisan saya dihargai sebagai seorang profesional. Meski jika dibandingkan dengan gaji korporat yang saya terima saat itu, honor menulis saya hanyalah recehan, ada kebanggaan dan rasa percaya diri yang mulai tumbuh.

Pekerjaan sebagai ‘penulis hantu’ daring inilah menjadi satu-satunya jawaban saya ketika orang-orang mempertanyakan aktivitas saya selain ‘menganggur’ sebagai seorang ibu rumah tangga setelah saya menikah. Namun, sayangnya, status saya sebagai penulis konten tidak bertahan lama, dikarenakan kehamilan dan berbagai masalah yang saya hadapi sebagai ibu baru membuat saya tidak lagi produktif. Agency itu pun memecat saya karena dianggap tidak lagi punya kontribusi.

Saya sangat terpukul dan kecewa terhadap vonis yang dijatuhkan pada saya. Saya kehilangan ‘rumah’ pertama saya untuk menulis. Di tengah kekalutan tersebut, saya pun mencoba kembali menggali mimpi saya yang lain: menulis fiksi. Saya pun menjajal platform novel daring yang acap mengorbitkan penulis-penulis pemula. Meski tidak percaya diri, dan pembaca cerita saya kebanyakan adalah teman-teman saya sendiri, tetapi komentar-komentar yang mereka sematkan di kolom komentar membuat saya terus menulis chapter demi chapter.

Pencapaian-Pencapaian Baru

karakter zodiak
ilustrasi./Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Secara kebetulan, ketika saya merasa buntu setelah berbulan-bulan menulis cerita bersambung yang saya beri judul “Dewi Setengah Dewa” itu, sebuah platform menulis baru muncul dan mengadakan lomba menulis novel selama sebulan. Berbekal kepercayaan diri dan semangat yang mulai tumbuh, saya pun mendaftar sebagai peserta berbekal  “Dewi Setengah Dewa” yang sudah setengah jalan.

Efek tekanan deadline lomba membuat saya menyelesaikan novel perdana saya tersebut dalam tempo sebulan. Sesuatu yang tidak pernah saya sangka: saya menyelesaikan sebuah novel! Meski cerita romansa yang saya tulis itu tidak memenangkan satu kategori pun, rampungnya novel tersebut merekatkan kepingan-kepingan kepercayaan diri yang sempat tercerai-berai. Meyakinkan diri saya sendiri untuk terus menarikan jari saya di keyboard komputer.

Seakan-akan mencoba memastikan saya untuk tidak berkecil hati, Tuhan memberikan saya hadiah kecil setelah kekalahan saya, sebuah cerpen yang saya ikutkan dalam sebuah lomba menulis, masuk 10 besar dan akan dibukukan. Selain itu, sebuah tulisan saya juga memenangkan hadiah tulisan terbaik dari sebuah website.

Meski skala kompetisinya tidak bisa dibandingkan, tapi saya meyakini ini cara Tuhan untuk membuat saya terus melangkah dan tidak menyerah.  Tidak hanya itu, atas rekomendasi seorang teman, saya pun berhasil bergabung sebagai penulis konten di sebuah website yang khusus membahas tentang dunia ibu dan anak.

Saya bisa tetap menulis artikel secara daring sekaligus belajar banyak hal tentang pengasuhan anak: dua hal yang saya sukai melebur menjadi satu! Dengan izin-Nya pula salah satu penerbit indie bahkan menawarkan untuk menerbitkan “Dewi Setengah Dewa”. Jika lancar, sebelum tahun ini berakhir berarti akan ada dua buku fiksi yang memuat nama saya dicetak! Sesuatu yang bahkan tidak pernah berani saya mimpikan sebelumnya, sekarang bisa saya lakukan dari rumah. Siapa yang menyangka?

Mungkin menurut beberapa orang memulai karier atau sesuatu yang baru di usia saya sudah sangat terlambat, tetapi saya yakin jalan saya baru dimulai. Walau di depan sana jalan yang akan saya tempuh penuh lubang dan kerikil, saya tidak akan lagi mengabaikan mimpi yang sempat saya kubur dalam-dalam itu. Bismillah, saya dimampukan untuk terus menulis. Kau pun, meski semuanya terlihat tidak mungkin dan masa depan tampak tidak gemilang, telusurilah dulu jalan itu dengan segenap tekad. Tidak ada yang akan mewujudkan mimpimu selain dirimu sendiri. Be your own lady boss. Lebih baik menyesal setelah mencoba ketimbang menyesal karena tidak pernah mencoba, kan? 

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓