Jujur Akui Pernah Kecanduan Kokain, Begini Cara Sang Ibu Cegah Anak Mengulang Kesalahan yang Sama

Annissa Wulan21 Okt 2020, 15:30 WIB
Diperbarui 21 Okt 2020, 15:30 WIB
Ilustrasi keluarga

Fimela.com, Jakarta Anak laki-laki Sarah Leibov pernah bertanya kepadanya tentang penggunaan kokain. "Apa Ibu pernah menggunakan kokain," tanyanya santai.

Dimulai dari percakapan tentang seks saat sang suami sedang melakukan bisnis keluar kota, Sarah dan kedua anak laki-lakinya yang berusia 17 dan 14 tahun menghabiskan waktu dengan mengerjakan pekerjaan rumah dan makan pizza. Saat itu adalah bulan Januari, di mana belum ada kekhawatiran tentang COVID-19.

Tidak ada anaknya yang berkencan pada saat itu. Namun, menurut Sarah, itulah waktu yang tepat untuk memberi pengetahuan yang tepat kepada mereka, Sarah selalu ingin beberapa langkah di depan dari anak-anaknya.

Itulah ketika anak tertuanya bertanya tentang kokain pada Sarah. Ia memberitahu bahwa kelasnya telah menonton film di sekolah tentang risiko menggunakan kokain dan ia ingin tahu pengalaman Sarah.

Sarah akhirnya mengakui bahwa dirinya pernah menggunakan kokain selama periode yang singkat, antara putus sekolah dan kembali ke perguruan tinggi. Namun, Sarah tidak memberitahu anak-anaknya bahwa pertama kali ia mencoba kokain adalah di sebuah pesta dan ia dipaksa melakukannya oleh seorang teman baik yang juga putus kuliah.

Kisah Sarah saat kecanduan kokain

Ilustrasi narkoba
Ilustrasi narkoba. Sumber foto: Document/Michael Longmine.

Saat itu, Sarah tinggal di rumah orangtuanya, bekerja serabutan, dan menghabiskan uang hanya untuk pakaian dan minuman bersoda. Awalnya, Sarah hanya menggunakan kokain di akhir pekan, sampai ia benar-benar kecanduan dan melakukannya hampir setiap hari, di hampir setiap tempat yang dikunjunginya.

Sarah berhenti menggunakan kokain bukan karena alasan kesehatan, namun karena menurutnya, kokain mengambil kemampuannya untuk merasa kagum akan suatu hal, terutama kagum akan dirinya sendiri. Ia keluar dari pekerjaannya dan pindah ke Israel, melakukan segala hal untuk menemukan kedamaian.

Sarah kembali ke Amerika ketika ia siap kuliah, lulus 3 tahun setelahnya, dan menikah. Suatu hari, ketika ia menitipkan anak laki-lakinya yang masih bayi di tempat penitipan anak di gym, ia mencium bau kokain di ruang ganti, membuatnya bertanya-tanya tentang masa lalunya sendiri.

Seorang temannya merasa ngeri bahwa suatu hari Sarah akan bercerita jujur kepada kedua anaknya. Namun, ia memang melakukannya, ia berkata jujur dan tidak menyangkalnya.

Sarah ingin anak-anaknya bisa belajar dari pengalamannya

Ilustrasi keluarga
Ilustrasi keluarga. Sumber foto: Document/Dimitri Houtterman.

Sarah mewarisi sikap jujur ini dari sang ibu yang pernah memberitahunya bahwa ia pernah mencoba LSD bersama teman-teman kuliahnya. Sarah tidak merasa bahwa pengakuan sang ibu berarti memberinya izin untuk mencoba LSD.

Akhir-akhir ini, Sarah lebih sering minum smoothies daripada segelas anggur. Ia mengelola kecemasannya dengan mengatur pola makan, berolahraga, dan meditasi.

Gaya hidup inilah yang akan dengan mudah menyembunyikan masa lalu Sarah. Namun, ia tidak tertarik untuk melakukannya, ia sadar bahwa penggunaan kokainnya bodoh dan berisiko, dan ia merasa beruntung bisa bertahan untuk merenungkannya saat ini.

Sarah tahu dirinya bukan orang yang sempurna dan tidak selalu membuat keputusan yang baik. Ia juga ingin anak-anaknya tahu bahwa mengakui kesalahan adalah hal yang mungkin dilakukan.

"Ibu menggunakan kokain selama 3 bulan? Itu bodoh," kata anaknya. Sarah merasa rencananya berhasil, untuk saat ini.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓