Berawal dari Sakit Saat Mentruasi Perempuan Ini Habiskan 9 Tahun Hingga Didiagnosa Kelainan Rahim

Vinsensia Dianawanti21 Okt 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 21 Okt 2020, 16:00 WIB
Ilustrasi menstruasi | Polina Zimmerman dari Pexels

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan akan mengalami rasa sakit yang berbeda saat menstruasi. Ada perempuan yang mengalami rasa sakit hingga tidak mampu bangun dari tempat tidur, ada pula yang hanya sekadar nyeri di bagian perut. Namun hal berbeda justru dialami oleh Helen Wilson Beevers yang ternyata mengidap kelainan rahim yang disebut Endometriosis setelah 9 tahun merasakan nyeri saat menstruasi.

Beevers adalah satu dari 10 perempuan di dunia yang mengidap endometriosis. Kelainan ini menyebabkan jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh di luarnya. Di sekitar tuba fallopi dan ovarium. Gejala awalnya dimulai dengan menstruasi yang berat, nyeri hingga kelelahan, nyeri saat berhubungan seks, dan depresi. Dibutuhkan waktu 9 tahun bagi Beevers hingga akhirnya ia didiagnosa mengidap kelainan rahim ini.

"Saya membutuhkan 9 tahun untuk didiagnosis. Penundaan yang sebagian besar disebabkan oleh kurangnya penelitian medis yang signifikan dan pelatihan dokter. Saya masih punya rahim hari ini. Tapi saya, itu sebabnya penyelidikan spesfisik itu penting. Saya tidak ingin perjuangan seumur hidup terjadi," ungkap Beevers.

Gejala awalnya dirasakan Beevers sejak ia berusia 14 tahun. Kala itu, ia harus dilarikan ke rumah sakit setelah dirinya kesakitan hingga terjungkal. Para dokter sendiri bingung apa yang terjadi pada tubuh Beevers.

 

Rasa sakit perut tidak berkesudahan

menstruasi
ilustrasi perempuan/copyright Shutterstock

Awalnya ia dianggap mengalami sindrom iritasi usus besar. Seorang dokter umum bahkan menyerah dan memilih mengatakan bahwa sakit perut adalah hal yang biasa. Kenyataannya rasa sakit luar biasa selalu Beevers alami setiap menstruasi. Menyebabkan muntah bahkan hingga pingsan. Rasa sakit yang ia rasakan membuat tubuhnya kelelahan dan perubahan suasana hati yang tidak stabil.

Untuk mengatasi rasa sakitnya, Beevers tidak pernah meninggalkan obat pereda nyeri. Namun obat pereda nyeri yang ia konsumsi hanya menyembuhkan rasa sakitnya sesaat. Pada usia 22 tahun, Beevers dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans setelah ditemukan pingsan di tempat kerja.

Adegan pingsan di tempat umum seolah menjadi hal yang biasa bagi Beevers. Tak lain, ia pingsan diakibatkan oleh rasa sakit luar biasa yang ia alami tanpa mengetahui ia mengidap penyakit apa.

Penyakit ini seolah menjadi kutukan bagi Beevers. Pasalnya, penyakit tersebut memengaruhi setiap hubungan yang ia miliki. Dan hari-harinya selalu diisi oleh rasa kita tak berkesudahan.

 

Operasi untuk menemukan penyakit

Menstruasi/mlg
Ilustrasi siklus menstruasi/copyright shutterstock

Akhirnya, Beever melakukan operasi investigasi untuk memastikan apa yang terjadi pada tubuhnya. Ditemukan endometriosis pelvis dan langsung diangkat oleh tim dokter menggunakan ablasi laser dan anestesi umum. Namun beberapa minggu setelah operasi, rasa nyeri kembali muncul.

Beevers merasakan seperti ada batang logam panas yang dimasukkan ke dalam tubuhnya melalui panggul. Rasa sakit yang luar biasa itu kembali dan kali ini semakin tidak tertahan.

Meski hidup dengan rasa sakit, Beevers akhirnya menikah dan memiliki anak laki-laki. Padahal, sebelumnya ia didiagnosis akan mengalami kesulitan hamil. Namun dokter menyatakan ketika Beevers hamil dan melahirkan gejala endometriosis yang dialaminya akan berkurang.

Kehamilan ia jalani justru membawa komplikasi baru. Ia mengalami rasa sakit saat janin anaknya tumbuh di dalam rahim. Membuat Beevers dan sang suami ketakutan terjadinya persalinan dini dan infeksi rahim pasca melahirkan.

 

Kondisi yang semakin parah

sakit perut
ilustrasi kram menstruasi/copyright By Dragana Gordic from Shutterstock

Setelah melahirkan, Beevers terus merasakan sakit layaknya melahirkan. Ia selalu menghabiskan 3 minggu dalam sebulan dengan kram hebat dan nyeri menusuk. Selama musim panas, ia dirawat di rumah sakit dengan gejala lambung meski observasi dokter tidak menemukan masalah lambung. Ia pun diberi obat menyerupai menopausr dan endometriosis telah menyebar ke area diafragma.

Setelah mencoba semua jenis pengobatan yang ada, Beevers kehabisan pilihan. Hidupnya menjadi benar-benar tidak tertahankan karena rasa sakit akut dan terus menerus. Setelah operasi ke-10nya dan menghabiskan banyak obat penghilang rasa sakit, Beevers berakhir dengan mengonsumsi morfin secara mingguan untuk mengatasi rasa sakitnya. Pada Desember 2015, Beever menjalani histerektomi.

Histerektomi bukanlah obat untuk endometriosis dan dapat menimbulkan komplikasi lain. Namun ia dapat meredakan gejalanya dan menjadi pilihan terakhir Beevers. Setelah menjelani prosedur itu, ia merasa seseorang yang mengeluarkan batu timah dari pinggulnya.

Proses pemulihannya pun berjalan traumatis. Ia mengalami menopause dini dan harus menjalani terapi HRT. Sejak saat itu, ia membutuhkan perawatan untuk nyeri kantung kemih yang merupakan kelanjutan dari endometriosis.

Simak video berikut ini

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓