Menjadi Pemimpin, Seorang Perempuan Mampu Membawa Perubahan Lebih Baik

Endah Wijayanti22 Okt 2020, 11:15 WIB
Diperbarui 22 Okt 2020, 11:15 WIB
menjadi pemimpin

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: FPP

Pada era revolusi industri saat ini kita semua tahu bahwa wanita telah sejajar dengan kaum pria. Emansipasi dan perjuangan para wanita terdahulu yaitu R.A Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien dan sebagainya, telah membuat wanita tidak dipandang sebelah mata. Menjadi seorang pemimpin bagi kaum wanita pada saat ini bukanlah hal yang asing bagi kita semua terutama di Indonesia. Dengan demikian perempuam dan laki-laki memiliki peluang yang sama dalam kepemimpinan.

Hal itu pun pernah dialami oleh saya sendiri, sejak SMP saya sering mengikuti organisasi dan akhirnya saat saya menduduki bangku perkuliahan saya memiliki tekad untuk menjadi seorang pemimpin. Semester 5 saya terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa. Awalnya saya merasa ragu karena saya merasa kemampuan saya sebagai seorang pemimpin itu masih minim dan beban yang akan saya tanggung tentunya begitu berat, namun teman-teman sering berkata bahwa amanah tidak akan salah memilih pundak. Seiring berjalannya waktu saya pun menikmati masa kepemimpinan.

Menjadi seorang pemimpin pada saat ini penuh dengan suka dan duka. Berbagai macam kegiatan tentunya dilakukan secara daring. Berbagai macam teleconference harus kita kuasai seperti Zoom, MS Teams, Google Meet dan masih banyak lagi. Banyak mahasiswa yang tentunya pro dan kontra atas terpilihnya seorang wanita sebagai seorang ketua. Tentunya bagi kaum pria mereka merasa tidak terima jika mereka dipimpin oleh seorang wanita. Pada saat itulah saya diuji saya harus bisa mengadvokasi para pria agar mereka mengikuti kegiatan dan aturan yang ada. Saya merasa mereka terlalu meremehkan saya karena saya seorang wanita.

Tetap Semangat

teman kuliah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Ternyata selain itu ada ujian yang lain, yaitu adalah tidak sepahamnya pemikiran saya dengan pihak jurusan. Pemikiran kami yang notabene adalah generasi Z yang di klaim memiliki pola pikir cepat, spontan, dan kreatif tidak dapat bersanding dengan pemikiran pihak kampus yang bisa di bilang ‘kolot’. Setiap saya dan rekan-rekan mengajukan suatu proposal kegiatan mereka pasti akan mengubah apa yang telah kita rencanakan. Sedih memang karena itu semua merupakan hasil pemikiran kami namun selalu diubah dan tidak sesuai dengan tujuan. Saya pikir pada saat ini merupakan era saat kita menjunjung kreativitas kita masing-masing namun tentunya beriringan dengan norma dan budaya yang berlaku.

Namun pada akhirnya saya dapat melewati itu semua. Saya tidak terlalu menggubris ucapan negatif dari mahasiswa lain, karena menurut saya itu dapat direspons dengan adanya prestasi yang telah saya dan rekan-rekan capai, pada saat itu saya membuktikan dengan adanya kegiatan yang mengahdirkan seorang Gubernur Jawa Barat yaitu Pak Ridwan Kamil dan Dirjen Kesmas Kementrian Kesehatan yaitu ibu dr. Kirana Pritasari. Lalu saya berusaha mengimbangi pemikiran saya dengan pihak jurusan, karena menurut saya kita sebagai seorang pemimpin harus bisa fleksibel serta dapat menerima saran dan kritik sehingga kita dapat mencapai tujuan bersama tanpa harus ada yang tersisihkan.

So meskipun kita sedang ada di masa pandemi ini kita harus tetap semangat untuk mencapai cita-cita kita. Jangan sampai itu menjadi penghambat untuk kita berkembang. Doakan saya ya untuk menjadi menteri kesehatan selanjutnya.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓