Putus dari Pria yang Tarik Ulur Perasaan, Kepedihanku Tergantikan oleh Kelegaan

Endah Wijayanti22 Okt 2020, 14:35 WIB
Diperbarui 22 Okt 2020, 14:35 WIB
setelah putus cinta

Fimela.com, Jakarta Salah memilih pasangan bisa membuat kita kehilangan kebahagiaan. Menjalani hubungan yang beracun hanya akan menghapus harapan-harapan indah yang pernah kita miliki. Memiliki pasangan yang tarik ulur perasaan pun bisa sangat melelahkan dan menghadirkan kepedihan di dalam hati.

Jael, seperti yang dikisahkan via Buzzfeed menceritakan pengalamannya menjalin hubungan yang sangat menguras emosi. "Aku berpacaran dengan seorang pria selama sekitar setahun dan hubungannya sangat melelahkan secara emosi," ungkapnya. Dia menceritakan bahwa kekasihnya itu punya sikap yang membingungkan. Ada kalanya dia sangat menginginkan Jael tapi ada kalanya dia ingin Jale menjauh.

Mengakhiri Hubungan

Menjalin hubungan dengan pria yang membingungkan dan menarik ulur perasaan jelas membuat Jael tidak tenang. Hatinya seakan dipermaikan. Ya, bisa dibayangkan bagaimana perasaan kita sendiri bila menjalin hubungan dengan seseorang yang suka memainkan perasaan kita seenaknya, pastinya tidak nyaman sama sekali.

Pada akhirnya Jael putus dengan kekasihnya itu. Hanya saja dia kemudian menyalahkan dirinya sendiri atas berakhirnya hubungan tersebut. Jael merasa bukan perempuan yang sempurna.

"Aku mulai merasa tidak percaya diri dan cengeng karena aku tak bisa memercayainya lagi. Aku benci menjadi perempuan seperti ini," katanya.

Meski tidak mudah, Jael pun memblokir semua kontak mantan kekasihnya itu. Dia tegas untuk tidak lagi menoleh ke belakang. Berusaha mengubah kepedihan sebagai kebahagiaan.

Menciptakan Kebahagiaan untuk Diri Sendiri

upaya untuk move on
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/artfotodima

Dalam waktu tiga bulan, Jael memutuskan untuk menjalani liburan akhir pekan seorang diri, khususnya pergi mendaki. "Aku mengelilingi diriku dengan teman-teman, kembali menjalani terapi, dan kembali pergi ke gym. Pada dasarnya aku mulai 'berpacaran' dengan diriku sendiri. Aku masih sedikit terluka tapi aku belajar sangat banyak soal diriku sendiri dan pada akhirnya aku belajar untuk bahagia dalam kesendirian," papar Jael.

Keputusan Jael menjadi semacam titik balik dalam hidupnya. Daripada menghabiskan waktu dan energi untuk seseorang yang hanya menghadirkan kepedihan, lebih baik menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan baru dalam hidup ini. Mengakhiri hubungan tak selalu mudah, tapi bila itu bisa menghadirkan kelegaan maka sangatlah sepadan untuk dialakukan.

Daripada bertahan pada hubungan dengan orang yang salah, sungguh jauh lebih baik menjalani hidup dengan hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas diri. Adakah Sahabat Fimela yang punya pengalaman serupa atau mirip dengan yang dialami Jael?

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓