Mengenal Tasamuh Menurut Perspektif Islam Sebagai Sikap Terpuji dalam Bermasyarakat

Imelda Rahma22 Okt 2020, 17:35 WIB
Diperbarui 22 Okt 2020, 17:35 WIB
Tasamuh

Fimela.com, Jakarta Tidak hanya urusan ibadah saja yang diatur oleh Islam, urusan tentang kehidupan sosial juga ada aturannya, salah satunya adalah anjuran untuk bersikap tasamuh dalam bermasyarakat. Tasamuh adalah salah bentuk akhlak terpuji dan amat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tasamuh adalah perbuatan yang terkait dengan tenggang rasa dan toleransi. Dalam bermasyarakat, tasamuh adalah sikap yang penting untuk diterapkan. Dengan tasamuh, seseorang akan lebih menghargai perbedaan yang ada di dunia. Orang yang memiliki sikap tasamuh paham bahwa daripada persamanaa, hidup di dunia lebih banyak membawa perbedaan.

Sikap tasamuh atau tenggang rasa ini meskipun terlihat sebagai tindakan kecil tetapi dapat berdampak besar. Tasamuh mencegah adanya perselisihan dan konflik karena masing-masing orang memaklumi perbedaan dan tidak menganggap setiap perbedaan adalah sesuatu yang harus ditentang.

Nah, untuk lebih jelasnya, Fimela.com kali ini akan mengulas pengertian tasamuh beserta dalil dan manfaatnya. Dilansir dari Liputan6.com, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Pengertian Tasamuh

Pengertian Tasamuh
Ilustrasi Sikap Tasamuh Credit: pexels.com/mentatdgt

Merujuk pada bahasa Arab, tasamuh berarti toleransi. Sementara toleransi bisa berarti tenggang rasa, lapang dada, dan bermurah hati. Sedangkan menurut istilah, tasamuh adalah saling menghormati dan menghargai antara manusia dengan manusia lain.

Tasamuh adalah sikap terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya, namun masih dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran agama Islam. Tasamuh juga bisa diartikan sebagai sikap menghargai pendirian seseorang mulai dari pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan.

Dalil Tentang Tasamuh

Dalil Tentang Tasamuh
Ilustrasi Al-Qur’an Credit: unsplash.com/Afiq

Dalam Islam, ada beberapa dalil tentang toleransi atau tasamuh. Ajaran al-Qur’an tentang toleransi dapat ditelusuri dari penjelasannya tentang keadilan, kebajikan, dan perdamaian. Berikut dalil yang menggambarkan tentang sikap toleransi dalam Al Qur'an dan Hadis:

Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 8:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 10:

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua sadaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari kesalahan, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR Bukhari).

Manfaat Tasamuh

Manfaat Tasamuh
Ilustrasi Tasamuh Credit: unsplash.com/Hasan

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan manusia tidak bisa menghindari hal tersebut. Perlu ada toleransi dan rasa memaklumi antar sesama agar perbedaan itu dapat diterima. Salah satunya dengan menerapkan sikap tasamuh agar tercipta rasa saling menghargai dan menghormati sesama.

Tanpa tasamuh, intoleransi akan banyak merugikan kehidupan. Sikap tasamuh adalah cara untuk menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin dan saling memahami sehingga menghasilkan solusi terbaik. Di dalam Islam, istilah tasamuh pada dasarnya tidak semata-mata selaras makna dengan kata toleransi, karena tasamuh memberi arti memberi dan mengambil.

Tasamuh lebih menekankan pada tindakan tuntutan dan penerimaan dalam batas-batas tertentu. Orang yang melakukan tasamuh dalam Islam dinamakan mutasamihin, yang berarti “pemaaf, penerima, menawarkan, pemurah sebagai tuan rumah kepada tamu”.

Lanjutkan Membaca ↓