Positif COVID-19, Ini Jarak Bumi dan Langit antara Kisah Seorang Petugas Kebersihan di Rumah Sakit Tempat Donald Trump Sempat Dirawat

Annissa Wulan23 Okt 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 23 Okt 2020, 16:03 WIB
Helen Avalos

Fimela.com, Jakarta Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed di Bethesda, Maryland adalah fasilitas kelas dunia yang didedikasikan untuk merawat mereka yang berani berkorban melayani negara. Presiden Amerika Serikat Donald Trump masuk rumah sakit tersebut di awal bulan lalu karena positif COVID-19.

Donald Trump disambut oleh tim dokter terkenal di dunia yang siap memberinya perawatan medis terbaik, vaksin eksperimental, dan semua sumber daya yang dibutuhkan. Donald Trump tinggal dengan nyaman di kamar kepresidenan rumah sakit yang dilengkapi dengan dapur, ruang tamu, ruang konferensi, dan ruang makan.

Rekan kerja Helen Avalos mengetahui ruangan tersebut dengan baik, karena ia bertugas membersihkan kamar presiden. Helen sendiri telah bekerja sebagai petugas kebersihan kontrak di Walter Reed selama 16 tahun untuk membersihkan toilet, lantai, jendela, langit-langit, dinding, meja dapur, dan masih banyak lagi.

Menurut tulisan yang diunggah oleh Helen di Huffpost Personal, ada 2 jenis pandemi yang terjadi di dalam tembok Walter Reed. Presiden menerima perawatan medis terbaik yang bisa dibeli dengan uang pajak, namun sebagai pengurus rumah, petugas kebersihan, juru masak, keamanan, dan pekerja layanan lainnya di Walter Reed, pengalaman mereka dengan COVID-19 tidak seperti pengalaman Donald Trump.

 

 

Helen sempat positif COVID-19 dan berjuang mengisolasi dirinya sendiri

[Fimela] Ilustrasi rumah sakit
ilustrasi rumah sakit | pexels.com/@oles-kanebckuu-34911

Helen positif terinfeksi COVID-19 awal tahun ini, beserta beberapa rekan kerjanya. Ada beberapa teman dan anggota keluarganya yang juga meninggal karena virus ini, termasuk hampir 140 anggota serikat tempatnya bekerja.

Mereka tidak beruntung untuk dilarikan ke rumah sakit dengan tim dokter yang mengabdi kepada mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengisolasi diri mereka sendiri di rumah dan melakukan apa saja untuk menyembuhkan diri.

Berkat kegagalan pemerintahan Donald Trump menghadapi pandemi, Helen dan petugas lainnya mengalami kesulitan dan kewalahan untuk merawat para pasien yang terinfeksi. Petugas kesehatan membawa pasien ke dalam kamar rumah sakit tersebut, bahkan tidak ada cukup ventilator untuk digunakan.

Ketika mendapati dirinya positif terinfeksi COVID-19, Helen memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Jika dirinya meninggal, siapa yang akan menafkahi keluarganya dan bagaimana nasib anak-anaknya di masa depan tanpa seorang ibu?

Helen merasa kecewa dengan sikap presidennya menghadapi pandemi ini

ilustrasi perawat rumah sakit
ilustrasi perawat perempuan/copyright by Rawpixel.com (Shutterstock)

Tidak seperti presiden, Helen harus menjaga dirinya sendiri dengan minum obat rumahan dan sendirian di kamar tidurnya. Ketika dirinya sudah pulih, Helen dikarantina selama 2 minggu dan terus memakai masker di tempat kerjanya atau ketika ia berada di luar, ia juga menghindari kerumunan.

Ironisnya, presiden justru mengabaikan setiap pedoman yang dengan setia diikuti oleh masyarakatnya. Helen dan semua rekan kerjanya telah melakukan segala cara untuk terhidar dari virus ini, bekerja keras mempertahankan standar tinggi agar bisa tetap hidup, sekaligus bekerja dengan baik.

Helen merasa Donald Trump terus berbohong, bahkan hanya seminggu setelah ia dirawat di rumah sakit. Helen dan mungkin banyak orang lainnya mendambakan seorang pemimpin yang kompeten dan jujur dalam melakukan perubahan yang dibutuhkan.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓