Menjadi Ibu Tunggal yang Multiperan, Hidup Ini Kujalani dengan Penuh Cinta

Endah Wijayanti27 Okt 2020, 09:35 WIB
Diperbarui 27 Okt 2020, 10:26 WIB
menjadi ibu tunggal

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh:  Agung Dewi

Tak kusangka, pandemi Covid-19 menyerang seluruh belahan dunia. Keterbatasanku hanya menjadi seorang single parent dengan tiga orang anak juga harus hidup dalam adat istiadat yang berbeda dari kebanyakan lainnya. Pendapatan bekerja formal menurun drastis, ekonomi kami terhimpit dan kenyataan terberat adalah di-PHK karena perusahaan tempatku bekerja tak mampu beroperasi entah sampai kapan.

Terpuruk hanya boleh sementara kubiarkan. Sambil memutar otak untuk mencari sumber pendapatan demi kelangsungan hidup kami. Keterampilan menjahit baju kebaya dan kamen pun kulakukan dan membuka jasa menjahit dari pagi hingga siang. Waktu istirahat yang Kilat, kulanjutkan sore hari berjualan nasi ayam betutu khas Bali di depan rumahku. Semangat dan kegigihan yang membara dalam rutinitas itu penuh cinta demi ketiga anakku.  Tak kusangkal bila tubuh ini pun lelah karena harus mengerjakan rutinitas sepadat itu setiap harinya.

Banyaknya saudaraku yang hanya fokus sebagai ibu rumah tangga, kumanfaatkan tenaga yang mereka sumbangkan untuk membuka lapak usaha yang lebih besar. Berawal dari banyaknya pelanggan yang ke rumah, kami kurangi dengan menerima order secara online. Hingga kini aku bisa menggaji saudara-saudaraku yang terdampak juga senasib denganku. Menambah uang dapur mereka agar bisa membantu persiapanku berjualan nasi di sore hari. 

Anak-anakku pun turut andil dalam usaha yang kujalani, inisiatif membersihkan tempat  berjualan, membantu mengecek keperluan dan kebutuhan berjualan yang kurang hingga menjadi supporter-ku yang selalu ada di sisiku. Merekalah tawaku juga api semangatku. 

 

Tetap Mensyukuri Semua

menjadi ibu bekerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Makistock

Aku sangat bersyukur, walau tak dilahirkan dari keluarga kaya raya namun rasa syukurku dapat memenuhi, mencukupi segala kesulitan hingga kebutuhanku keluarga kecilku. Dan kemauanku untuk bekerja keras walau harus merintis usaha kecil-kecilan dengan risiko yang harus siap kuhadapi justru membuatku semakin berdaya hingga membantu sedikit tidaknya para ibu rumah tangga yang membutuhkan tambahan uang bagi kelangsungan ekonomi mereka.

Tak sampai di situ, di saat aku dibutuhkan oleh kegiatan adat istiadat di kampung dan harus pulang sewaktu-waktu aku pun tak perlu khawatir karena yang kujalani adalah usaha rumahan yang sangat fleksibel waktunya. 

Sebagai seorang single parent aku banyak belajar menjadi tokoh yang beragam. Menjadi sosok ayah yang melindungi anaknya, menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung untuk menghidupi dirinya sendiri hingga menyisihkan sedikit uang yang ditabung untuk kedua orangtuaku juga kedua mertuaku. Belum lagi pengeluaran apabila ada upacara kegamaan yang mengharuskanku menyisihkan uang darurat.

Aku bangga, karena wanita versiku tak melulu diam di rumah dan mengandalkan orang lain untuk memberi kita uang. Tak selalu harus bekerja formal agar bisa hidup berkecukupan dan tak selalu didampingi oleh pasangan hidup agar bisa tegar menjalani kisah yang sulit dalam kehidupan.

Percayalah bahwa semua wanita itu kuat dan istimewa dalam kisahnya.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by