Kisah Pengamat David Helvarg, 38 Tahun Meliput Bencana Alam Perubahan Iklim

Annissa Wulan28 Okt 2020, 19:37 WIB
Diperbarui 28 Okt 2020, 19:37 WIB
Ilustrasi bencana alam

Fimela.com, Jakarta Bencana alam perubahan iklim menjadi berita populer beberapa waktu belakangan, karena adanya kebakaran hutan besar-besaran di bagian barat Amerika, badai di Atlantik yang belum pernah terjadi sebelumnya, suhu tertinggi yang mencapai rekornya, pandemi global, dan tingkah Donald Trump yang tidak memberikan solusi apapun. David Helvarg telah melaporkan tentang apokaliptik yang tampaknya akan menjadi abnormal baru untuk beberapa waktu ke depan.

Selama wawancara dengan Roger Revelle untuk profil majalah San Diego di tahun 1982, Roger mengenalkan David tentang efek rumah kaca, bencana alam yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Roger adalah figur penting dalam sejarah oseanografi Amerika Serikat yang pertama kali menulis tentang emisi karbon dioksida industri yang mengubah kimia atmosfer secara terukur dalam sebuah artikel tahun 1957, bersama Hans Suess, seorang ahli kimia dan fisikawan.

Roger juga mengajarkan hal yang sama tentang bencana alam di Harvard pada tahun 1960-an kepada seorang mahasiswa bernama Al Gore. Di tahun 1992, mulai dari KTT Bumi di Rio de Janeiro, David meliput pendanaan industri minyak terselubung.

David mulai meliput dan mendatangi daerah-daerah dengan bencana alam

Ilustrasi bencana alam
Ilustrasi bencana alam. Sumber foto: unsplash.com/Markus Spiske.

Di tahun 1999, setelah menghabiskan waktu selama 2 bulan bersama para ilmuwan di Antartika, David menulis sebuah opini untuk The New York Times berjudul "Fiddling While Antarctica Burns" yang menunjukkan bahwa di abad ke-21, orang-orang lebih peduli tentang skandal seks yang dilakukan public figure, daripada perubahan bencana alam perubahan iklim.

Sejak saat itu, David selalu melaporkan langsung yang terkena dampak badai Katrina, Rina, dan Ivan, kebakaran hutan Tubbs dan North Complex di California, dan pemutihan karang di Florida, Hawaii, Fiji, Australia, dan Kuba. Selama kariernya, rekor baru terus dipecahkan dalam hal tahun terpanas dan suhu permukaan laut terpanas, karena dampak iklim.

Sayangnya, ini justru lebih merugikan, karena berbagai negara dan perusahaan berebut untuk mendapatkan kekayaan baru, termasuk ikan, mineral, jalur pelayaran baru, minyak, dan gas. Bulan September ini, suhu di California merupakan yang terpanas yang pernah tercatat di bumi. David tidak hanya menuliskan cerita tentang bencana alam yang terjadi, namun juga mendatangi tempat terjadinya bencana.

Jalan keluar menurut David yang telah bekerja sebagai pengamat selama 38 tahun

Ilustrasi bencana alam
Ilustrasi bencana alam. Sumber foto: unsplash.com/Markus Spiske.

Di California, masyarakatnya bahkan mengenakan masker tidak hanya karena pandemi, namun juga sebagai perlindungan terhadap asap kebakaran hutan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Sekian lama bekerja meliput keadaan darurat iklim, David mencapai kesimpulan bahwa sekarang saatnya manusia beralih dari bahan bakar fosil.

Batubara dan minyak adalah sistem energi yang hebat selama abad ke-16 dan ke-19, namun ketika berurusan dengan abad ke-21, hal tersebut tidak lagi bisa disamakan. Pendekatan terbaik yang bisa dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim menurut David adalah menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan dari sekarang.

Menurut David, jika restorasi ekosistem dan pengakuan bahwa keanekaragaman hayati sama dengan keamanan dalam ekonomi politik di tahun 2020 ini, maka manusia masih mungkin dapat bertahan dan berkembang. Pertama, semua orang harus menemukan cara praktis dan terukur untuk memulihkan hutan-hutan yang gundul, mengembalikan tanah pertanian menjadi sehat kembali, produktivitas alga laut untuk mulai menghilangkan kelebihan karbon industri yang telah dikeluarkan ke atmosfer selama 150 tahun terakhir.

 

Saksikan video menarik setelah ini

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓