Memilih Career Break, Mempersiapkan Diri Menaklukkan Tantangan Baru

Endah Wijayanti30 Okt 2020, 14:15 WIB
Diperbarui 30 Okt 2020, 14:15 WIB
gap year

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Siti Nopiyanti

Saya yakin bahwa setiap orang memiliki mimpi, harapan, dan cita-citanya sendiri. Selain dukungan internal dari dalam diri, tentunya kita juga butuh dukungan eksternal dari lingkungan terdekat saat berproses dalam mengupayakan itu semua.

Sebagian orang terberkati karena sudah berada dalam lingkungan keluarga maupun pergaulan sosial yang positif dan suportif, sebagian lagi terberkati melalui jalan yang lain. Ada sebagian orang yang harus tetap melangkah, mengembangkan diri, sambil terus menyemangati dirinya sendiri meskipun belum menemukan lingkaran perkawanan yang cukup relevan dan sefrekuensi. Namun, semakin kita dewasa, kita bisa menentukan bagaimana kita ingin menyikapinya, bukan?

Setelah saya menyelesaikan studi Strata-1 saya, saya sudah menetapkan tujuan ke mana saya akan melangkah selanjutnya. Namun, setelah beberapa waktu berikhtiar dalam penantian, jalan yang mengarah pada sesuatu yang hendak saya tuju masih belum terbuka sepenuhnya. Hingga saya berhenti sejenak pada sebuah titik, menyadari bahwa ini bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya bisa saya kendalikan, bukan juga akhir dari segalanya. Saya tetap melanjutkan hidup.

Career Break

Siti Nopiyanti
Siti Nopiyanti./Copyright Siti Nopiyanti

Saya memutuskan untuk gap year selama batas waktu yang telah saya tentukan. Lucunya, gap year merupakan sesuatu yang lumrah di luar negeri namun dianggap sebagai hal yang tabu (membuang waktu) di lingkungan sendiri. Meski demikian stigmanya, saya tidak ingin ambil pusing akan hal tersebut atau apa kata orang lain tentang diri saya.

Saya ingin fokus berproses pada beberapa hal yang telah saya agendakan daripada terburu-buru harus kembali pada sebuah instansi untuk melanjutkan pengalaman mengajar sebagai praktisi pendidikan. Saya masih punya cukup waktu untuk melanjutkan sebuah pengalaman yang sudah pernah saya dapatkan sebelumnya, tepatnya pada saat saya masih menempuh studi Strata-1 di semester kedua. Saya optimis bahwa semua akan ada garis waktunya sendiri.

Sebagian orang menganggap bahwa gap year sama dengan tidak melakukan apa pun. Faktanya, tidak demikian. Saya masih melanjutkan hidup dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang seru, terkadang juga baru, dan tentunya bermakna. Sebagian orang berpikir bahwa career break berarti tidak ada sumber pendapatan sama sekali. Realitanya, tidak demikian.

Saya belajar mengelola investasi properti dan saya sangat mensyukuri setiap pendapatan yang menjadi bagian (rezeki) saya. Saya mensyukuri segala sesuatu dalam momen gap year ini, sadar bahwa saya masih memiliki cukup waktu untuk mengejar apa yang saya inginkan sebelum nantinya kembali menekuni sebuah misi untuk jangka panjang.

Selama gap year, semampu mungkin saya mengupayakan daftar agenda yang sempat tertunda karena suatu hal. Saya ingin agenda-agenda tersebut bisa mencapai progresnya, sekecil apa pun itu. Beberapa di antara agenda tersebut sudah menorehkan tanda centang seperti, terpilih sebagai juru bicara untuk sebuah program gerakan literasi di ruang publik, terlibat sebagai pustakawan sekaligus guru tamu untuk sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan masyarakat dengan target sasarannya adalah anak-anak kurang mampu di daerah marginal, menjadi bagian tim dari mitra media yang ditugaskan untuk misi peliputan sebuah acara, terpilih sebagai 30 terbaik dari 114 grup tari yang berpartisipasi dalam ajang kompetisi tari tradisional, terpilih sebagai pemenang utama Share Your Stories Fimela #BanggaIndonesia, serta menyelesaikan agenda-agenda berkaitan dengan tata rias maupun tata boga yang dapat dilakukan dari rumah selama PSBB berlangsung.

Mencoba Hal-Hal Baru

perempuan milenal
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Bagi saya, penting untuk mendengarkan panggilan terdalam (suara hati), menjadi idealis karena sebuah alasan, dan berusaha semampu mungkin untuk mewujudkannya selama kondisinya masih memungkinkan. Saya tidak akan membiarkan hidup saya terpenjara dalam dikte dan stigma orang lain. Apabila dikte-dikte tersebut dapat membantu saya berkembang menjadi lebih baik untuk mencapai tujuan saya, saya akan mempertimbangkannya sebagai saran yang membangun.

Saya bersyukur di tahun ini bisa menjadi bagian dari perkawanan Fimelahood. Bagi saya, para wanita Fimelahood merupakan sosok Lady Boss dengan versinya masing-masing yang saling menyemangati dan menginspirasi satu sama lain. Mbak N, salah satu Fimelahood yang menginspirasi saya untuk melanjutkan sebuah agenda yang ingin saya kerjakan sebelum pergantian tahun.

Bagaimana pun tantangannya, saya ingin bisa berkembang di atas garis waktu saya sendiri, berhenti membatasi diri saat mengupayakan apa yang saya yakini. Bagi saya, tidak ada yang lebih sensual dalam mencintai kehidupan selain berusaha membidik sebuah mimpi dalam petualangan saya sendiri. Tentunya, petualangan baru yang seru sebagai seorang gadis sagitarius yang ingin menjadi Lady Boss di langitnya sendiri. Semoga semesta mendukung, semoga Tuhan memberkati, aamiin.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓