Sang Ayah Meninggal karena COVID-19 setelah Kunjungannya, Ini Pesan dari Katie Colt agar Liburan dari Rumah Saja

Annissa Wulan19 Nov 2020, 15:00 WIB
Diperbarui 19 Nov 2020, 15:00 WIB
Katie Colt

Fimela.com, Jakarta Dalam kondisi normal, liburan adalah waktu bagi anggota keluarga yang berkunjung untuk berbagi momen spesial, merayakan tradisi, dan memberi hadiah. Namun, musim liburan ini, di tengah pandemi COVID-19, hadiah terbaik yang dapat kamu berikan kepada keluarga dan teman-temanmu adalah tinggal di rumah.

Dengan itu, kamu mungkin bisa menyelamatkan hidup mereka. Di awal Maret tahun ini, Katie Colt beserta suami dan 2 anaknya berkumpul di rumah orangtua Katie, seperti yang telah mereka lakukan sejak lama, walaupun saat itu pandemi COVID-19 sudah dimulai.

Di sana, mereka memesan chinese food dan saling bertukar cerita. Katie beruntung karena tinggal di dekat orangtuanya, di pinggiran kota tempat ia dibesarkan, karena demensia sang ayah yang berkembang pesat.

Hanya beberapa bulan sebelumnya, Katie membawa sang ayah ke fasilitas perawatan terdekat karena ibunya sudah tidak dapat menangani perawatannya sendiri di rumah. Kunjungan Katie kali itu sedikit berbeda dari biasanya.

Katie sakit batu sejak akhir Februari dan karenanya ia tidak berani mencium sang ayah, hanya memberikan pelukan singkat. Beberapa hari setelah makan malam bersama itu, kehidupan berubah dengan cepat karena kasus COVID-19 yang terus meningkat.

 

 

Sang ayah dinyatakan positif COVID-19 dan tak lama kemudian meninggal

Ilustrasi koma
Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Daan Stevens.

Prasekolah anak Katie ditutup, pejabat negara telah mengeluarkan perintah untuk tinggal di rumah, dan fasilitas perawatan sang ayah tidak lagi boleh dikunjungi. Ibu Katie yang terbiasa mengunjungi suaminya setiap hari mulai merasa cemas.

Ibunya mulai sering menelepon menanyakan kabar sang suami, menulis surat kepada anggota staf untuk dibacakan, dan terus mencuci pakaian di rumah. Di awal April, ibu Katie menerima telepon dari fasilitas perawataan suaminya, diberitahu bahwa sang suami dinyatakan positif COVID-19 dan 2 minggu kemudian, ia meninggal.

Kesedihan luar biasa menyertai kematian ayah Katie, ditambah tidak ada ritual yang normal untuk berduka. Katie mengucapkan selama tinggal melalui FaceTime hanya beberapa jam sebelum ayahnya meninggal, pemakaman hanya dihadiri oleh ibunya, pendeta, koordinator rumah duka, dan penggali kubur dengan setelah hazmat lengkap.

Tidak ada pertemuan, tidak ada kunjungan secara langsung. Yang terbayang di benak Katie setelah itu adalah apakah secara tidak sadar ia dan keluarganya lah yang menyebarkan virus tersebut kepada sang ayah.

Tidak lama setelah itu, penghuni dan anggota staf lain di fasilitas perawatan tersebut juga dinyatakan positif. Kemungkinan besar, walaupun tidak menunjukkan gejala apapun, Katie dan keluarganya bisa menjadi katalisator dalam penyakit ayahnya.

Katie berharap semua orang tinggal di rumah saja musim liburan ini

Ilustrasi koma
Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Marcelo Leal.

Katie menjadi sadar pentingnya menyesuaikan tindakannya sebagai keluarga untuk melindungi diri sendiri, orang yang mereka cintai, dan semua orang yang berhubungan dengan mereka. Inilah mengapa menurut Katie, sebaiknya liburan ini tidak dihabiskan dengan berkumpul bersama orang-orang yang disayangi.

Semakin banyak orang berbagi ruangan, risiko juga semakin meningkat. Katie mengabaikan banyak hal ketika ia merindukan ayah dan ibunya saat itu.

Jika ia tahu bahwa penyakitnya berpotensi menyebabkan komplikasi kesehatan jangka panjang pada ayahnya, apalagi kematian, ia akan menjauh. Harapannya saat ini adalah agar semua orang bisa mengesampingkan keinginan dan kebutuhan diri sendiri dan berusaha keras mengisolasi diri di rumah.

Ia tahu bahwa ia tidak lagi memiliki waktu dengan ayahnya, namun Katie berharap siapapun yang masih bisa bersama orangtua atau orang-orang yang dicintai, bisa melakukan segala hal yang diperlukan untuk melindungi mereka. Tetaplah tinggal di rumah.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓