Pelukan Ibu Menyembuhkan Hati yang Rapuh dan Kini Aku Merindukannya

Endah Wijayanti24 Nov 2020, 11:15 WIB
Diperbarui 24 Nov 2020, 11:15 WIB
cinta dan pelukan ibu

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Intan Permata Sari

Bukan perihal cinta tanpa syaratnya saja, tapi bagaimana cara seorang ibu menenangkan kita di ruang paling indah yang kusebut peluk. Semakin dewasa semakin jelas bagaimana setiap dari kita harus memperjuangkan masa depan. Ada masa di mana tiap kali Tuhan memberikan masalah hidup, dan stok menyerah sudah menjemput  di depan mata. Namun seolah hati kecil mengatakan untuk tidak menyerah. Dan luar biasanya peran ibu, hanya dengan pelukannya saja sudah mampu membuat semangat terisi kembali dan secepatnya menepikan rasa rapuh.

Ingat jelas di beberapa kesempatan ketika semangat memudar, terpampang jelas wajah ibu serta perjuangan luar biasanya. Ibu adalah sosok yang menjunjung tinggi pendidikan. Jika dulu ia hanya mampu menempuh pendidikan di bangku sekolah tingkat menengah atas, anak-anaknya harus mampu setingkat atau beberapa tingkat di atas dirinya.

Jika ia tak bisa menikmati rasanya pelajaran luar sekolah(ekstrakurikuler) anaknya harus mengikuti  berapa pun biayanya. Asal positif. Asal mampu menambah wawasan sang anak. Ibu mana yang tak ingin anaknya pintar agar kelak mampu melahirkan penerus-penerus yang tak hanya mampu membanggakan keluarga, namun jikalau bisa harus berguna bagi nusa dan bangsa.

Ibu, ada rasa rindu memupuk di hati. Ada bulir-bulir air mata merembas di pelindung bantal kala malam tiba. Empat tahun ke belakang ada keheningan di keluarga atas sosokmu, sepeninggalmu yang bahkan sudah cukup lama tapi masih tetap saja ada rasa hilang yang entah kapan akan tertutupi. 

Kini Aku Hanya Bisa Mengirimkan Doa-Doa

cinta ibu dan kenangan bersamanya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/witthayap

Aku bahkan mencoba tegar dan kuat di depan orang banyak, di depan masalah-masalah hidup yang kian menerjang  demi yang katanya menuju proses pendewasaan diri. Andai sosokmu masih ada, mungkin semangatku tak mudah pudar. Mungkin tak perlu hitungan hari untuk mengembalikannya, sebab denganmu hanya  butuh beberapa jam saja aku kembali tegak dari pelukan hangatmu. Ya, ruang paling terindahku.

Rasanya ada yang kurang menuju Desember tanpamu. Menuju bulan cantik yang dulu kutunggu-tunggu selain Mei bulan lahirku. Entah harus bagaiman caraku berterima kasih padamu. Belum saja sempat membahagiakanmu dengan rupiah-rupiah yang kumiliki. Tepatnya baru dua bulan aku merasakan bagaimana nikmatnya menjadi pekerja selepas menjadi sarjana, engkau sudah harus dipanggil Tuhan.

Ada banyak khayalan yang ingin kuwujudkan, tapi tak sempat. Rasanya ada ribuan penyesalan tapi apalah daya dengan takdir Tuhan. Selain mensyukuri setiap kejadian sebab yang Tuhan pilih dan takdirkan sudah pasti yang terbaik.

Kini hanya doa-doa ditiap sujud yang bisa kuhadiahkan selepas salat untukmu. Serta permintaan pada Tuhan untuk mendatangkanmu ke dalam mimpi sembari mengelus- elus bantal tidur dan mengucap doa malam.  Dengan ajaibnya sosokmu pun muncul menyambutku dengan bahagianya di ruang mimpi kita. Tempat yang kita anggap nyata namun juga semu.

Ibu, terimakasih atas 23 tahun hidup bersama yang tak pernah kuduga. Bukan hanya saat engkau masih ada, sepeninggalmu pun akan tetap kujaga baik namamu padaku. Semoga doa-doa yang kulangitkan menyapamu di tempat terbaik Tuhan, Sang Maha Cinta.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓