Seorang Anak Perempuan Pasti Ingin Menjadi Kebanggaan Ibunya

Endah Wijayanti29 Nov 2020, 13:15 WIB
Diperbarui 29 Nov 2020, 13:15 WIB
berjuang bisa kuliah dengan beasiswa

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Muflihatun

Setiap sajak mentari pagi, mengingatkanku pada seorang yang kuat. Tegar menjalani segala rintangan dalam kehidupan. Pencapaian tujuan pendidikan yang pantas untuk seorang putri yang dikasihi menjadikannya semangat itu terus membara.

Kesuksesan merupakan tujuan dari manusia. Seluruh aspek kehidupan yang nyata pasti menginginkan dirinya sukses. Tapi tak jarang, di tengah-tengah masyarakat yang belum terlalu mengenal dengan dirinya akan kesulitan untuk menemukan titik sukses. Di mana ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, walaupun terkadang butuh orang lain untuk merealisasikan tujuan kesuksesan tersebut. 

Bu Jariyah, merupakan salah satu warga di Desa Sendang Asih, Lampung Tengah, Lampung. Pekerjaannya sehari-hari tak lain hanyalah seorang penjual kue kering yang dia hasilkan dari pengalaman ketika muda yakni menjadi karyawan di pusat kota Bandar Lampung.  Ia mempunyai seorang anak yang bernama Syakira Kamila. Itu merupakan nama yang diberikan oleh sang ayah ketika bayi itu baru terlahir dari kandungan ibunya. Sang ayah meninggal dunia ketika Mila berusia 1,5 tahun karena menderita maag kronis yang sejak muda dideritanya.

Mulai dari itu, kehidupan Bu Jariyah semakin sulit untuk pendapat ekonomi. Di samping ayah Mila belum mempunyai kerja tetap juga Bu Jariyah lah yang selalu membantu suaminya itu. Semakin tinggi tingkat pendidikan Mila semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya sekolahnya.

Mila disekolahkan di dekat tempat tinggalnya yakni SMK Ma'arif 1 Sendang Agung, Lampung. Ia terpilih sebagai siswa paling rajin dalam satu sekolah. Karena dilihat dari hasil pengamatan guru terhadap siswa selama ia dimasukkan dalam sekolah tersebut.

Ia merupakan anak yang pintar disekolah, hampir setiap semester ia pasti mendapatkan ranking dengan nilai terbaik. Peluang untuk mendapatkan beasiswa pun membludak, hingga pada akhirnya pihak sekolah memutuskan bahwa Mila layak mendapatkan beasiswa sampai akhir sekolahnya.

Tibalah waktu ketika ia menduduki bangku kelas XII dari Jurusan Administrasi Perkantoran. Karena yang biasanya ujian dilaksanakan dengan kertas, tapi kali ini pemerintah menganjurkan untuk melakukan ujian menggunakan komputer (online). 

Ketika waktu try out tiba, seluruh siswa dianjurkan untuk membawa ponsel android agar bisa mengakses internet dan bisa juga untuk belajar dirumah. Ketika itu, ia tidak mempunyai handphone bahkan HP yang ia miliki hanya bisa untuk mengirim pesan dan telepon saja. Kemudian ia merasa bahwa ia membutuhkan ponsel android itu untuk latihan sendiri dirumahnya. 

Tidak Ingin Mengecewakan Ibu Lagi

cinta ibu dan ketulusan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Chakkaphong+Nutalay

Pada akhirnya ia memberanikan diri untuk bilang ke ibunya bahwa ia membutuhkan ponsel itu dalam waktu dekat. Meskipun terselip rasa kasihan tapi juga ia sangat membutuhkan. Karena itu bisa menjadikan sebagai sarana untuk mendapatkan hasil maksimal dalam Ujian Nasional.

Semakin hari jerih payah ibunya untuk mendapatkan ponsel android agar bisa untuk belajar anaknya semakin lelah pula keadaan erangsur-angsur melemahkan otot-otot yang sudah tua itu. Hingga pada hari ke-15 setelah anaknya meminta ponsel itu padanya, ia bisa memberikan ponsel itu untuk Mila yang dikasihinya. Hingga ia bisa lega, bahwa ia sendiri mampu untuk mendapatkan ponsel yang sangat diinginkan oleh putrinya tersebut.

Ketika ia menyatakan bahwa dirinya bisa mendapatkan ponsel yg diinginkan putrinya, akan tetapi sangat mengecewakan. Ternyata Mila sudah tidak membutuhkan ponsel itu. Sungguh mengecewakan. Tetapi ia tetap memberikan  ponsel itu pada Mila sebagai bentuk kepedulian pada anak yang sangat ia cintai dengan setulus hati.

Dari sinilah Mila sangat merasa bersalah karena sudah menyusahkan ibunya yang selama ini berjuang mati-matian untuk memenuhi segala kebutuhan untuk keperluan yang harus dicukupinya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan bahwa setelah kelulusan ia tidak akan melanjutkan kuliah. Karena ia ingin menggantikan posisi ibunya yang selama ini membiayai nya.

Ketika pengumuman hasil ujian nasional tiba, akhirnya seluruh murid beserta walinya diundang untuk menghadiri acara tersebut. Dan yang paling menakjubkan dari ini yakni ternyata putri yang selama ini ia sayangi dan berusaha untuk membahagiakannya mendapatkan juara 1 ujian tingkat nasional. Hingga salah dari pihak yang berwenang memberikan beasiswa dan memenuhi kebutuhan selama ia kuliah.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓