Waspada Batuk Lama dan Berdarah Pertanda Kanker Paru

Anisha Saktian Putri24 Nov 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 24 Nov 2020, 14:00 WIB
Benarkah Asma Bisa Sebabkan Kanker Paru? (Pentium5/Shutterstock)

ringkasan

  • Menurut data GLOBOCAN 2018, kanker paru di Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kanker paling mematikan
  • Salah satu cara untuk menekan prevalensi kanker paru di Indonesia adalah dengan cara mengendalikan dan menurunkan prevalensi rokok serta mengendalikan polusi udara
Lanjutkan Membaca

Fimela.com, Jakarta Menurut data GLOBOCAN 2018, kanker paru di Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kanker paling mematikan yang merenggut sebanyak 26.095 jiwa dari 30.023 kasus yang terdiagnosa di 2018.

Artinya, tidak kurang dari 71 orang meninggal setiap hari karena kanker paru. Bahkan, selama lima tahun terakhir, kasus kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 10,85 persen sehingga menempatkan Indonesia pada zona serius.

Salah satu cara untuk menekan prevalensi kanker paru di Indonesia adalah dengan cara mengendalikan dan menurunkan prevalensi rokok serta mengendalikan polusi udara. Berdasarkanpenelitian, sedikitnya 80-90 persen kematian akibat kanker paru di dunia disebabkan oleh asap rokok. Namun, selain berbahaya bagi perokok aktif, asap rokok juga merugikan perokok pasif atau second hand smoker.

Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K), Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengatakan, di dalam asap rokok terdapat kandungan berbagai zat karsinogen danmengotori udara sedangkan udara juga banyak mengandung zat karsinogen. Udara dengan zat polusi itu tersebar di lingkungan. Akibatnya, orang yang tidak merokok berpotensi menghirup zat-zat karsinogen itu dan dapat menimbulkan berbagai penyakit paru, salah satunya kanker paru.

Gejala kanker paru sulit dibedakan dengan gejala berbagai penyakit paru lainnya, terutama gejala saluran napas karena tidak khas, bisa dengan gejala batuk lama, batuk darah, sesak napas, atau nyeri dada.

Namun kadang muncul dengan gejala lain, seperti menurunnya berat badan, demam tidak terlalu tinggi tapi tidak respon dengan obat penurun panas.

"Karena gejala tidak khas, maka sering terabaikan sehingga kanker tersebut telah berada pada stadium lanjut," ujar Prof. dr. Elisna dalam konfersi pers virtual Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru

Tak hanya perokok aktif, perokok pasif juga bisa terkena kanker paru. Bahkan kadang kanker paru itu kanker paru sekunder yaitu kanker dari organ tubuh lain yang menyebar ke paru. Biasanya, kanker yang sering menyebar ke paru dari organorgan tertentu seperti kanker payudara, ovarium, serviks, tulang, usus besar, prostat, dan testis.

"Rokok elektrik pun sama berbahayanya, karena ada pembakaran juga dan zat berbahaya lainnya. Maka sama saja efeknya dengan perokok aktif," tambahnya.

Kanker paru terbagi menjadi dua jenis, yakni kanker paru sel kecil (KPKSK) atau small cell lung cancer (SCLC) dan kanker paru bukan sel kecil (KPBSK) atau non-small cell lung cancer (NSCLC).

"Jadi perlu diketahu tidak semua benjolan itu kanker. Maka harus dilakukan biopsi untuk bisa menetukan itu kanker atau bukan. Bahkan, biposi dapat menentukan jenis kankernya," ujar Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), Dokter Spesialis Paru Konsultan Onkologi.

Pengobatan kanker paru

Waspadai 5 Gejala Kanker Paru yang Tak Biasa Ini! (phugunfire/shutterstock)
Waspadai 5 Gejala Kanker Paru yang Tak Biasa Ini! (phugunfire/shutterstock)

Dr. Sita Laksmi menambahkan, Indonesia telah mengenal imunoterapi untuk kanker paru sejak 2016, yang carakerjanya menstimulasi sistem imun tubuh untuk memberikan respons imunitas antitumo, sehingga meningkatkan harapan hidup pasien-pasien kanker paru stadium lanjut menjadi lebih panjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Cara kerja imunoterapi berbeda dengan kemoterapi. Kemoterapiberfungsi untuk membunuh sel kanker, sedangkan imunoterapi meningkatkan respons imunitas antitumor. Lebih jelasnya, sistem kerja dari pengobatan imunoterapi ini adalah langsung menyasaratau menghambat pertemuan sel imun yang kerap dimanfaatkan oleh sel kanker untuk menghindari serangan dari sistem imun atau daya tahan tubuh.

"Dengan begitu, sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut," paparnya.

Terdapat beberapa jenis imunoterapi untuk pasien kanker paru yang disesuaikan dengan kebutuhanpasien kanker, antara lain imunoterapi penghambat ‘checkpoint’ sistem imun, vaksin kanker berupa vaksin terapeutik untuk membunuh sel kanker, dan terapi sel t adoptive yang mengubah salah satujenis sel darah putih pada penderita kanker untuk dapat kembali menyerang sel kanker

Metode imunoterapi akan dilakukan oleh pasien hingga mereka ada perkembangan penyembuhan. Selain itu, mereka akan diperiksa dan dilihat juga apakah ada efek samping yang bisa ditoleransi atautidak.

Masih dalam semangat Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia di bulan November 2020, melalui kolaborasi dengan beberapa public figure dan juga penggiat kanker, IPKP akan menyelenggarakan kegiatan bersepeda bersama bertajuk #gowesPARUSEHAT. Melalui kegiatan olahraga yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan paru-paru ini, IPKP berkeinginan mensosialisasikan gerakan, meningkatkan pemahaman serta menggalang dukungan masyarakat.

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓