Bertahan di Tengah Pandemi, Pria Jogja Buat Inovasi Budi Daya Ikan Dalam Ember (BUDIKDAMBER)

Imelda Rahma24 Nov 2020, 14:58 WIB
Diperbarui 24 Nov 2020, 14:59 WIB
Budikdamber

Pandemi memang memberikan banyak perubahan dalam kehidupan sosial, hal ini juga nampaknya dialami oleh Bapak Esperanza yang beralih profesi dari Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Kota Yogyakarta menjadi Inovator Budi Daya Ikan Dalam Ember (BUDIKDAMBER).

Bisnis makanan frozen yang digelutinya mengalami penurunan omzet semenjak pandemi muncul sehingga hal tersebut membuat Bapak Esperanza mencari inovasi baru untuk memertahankan penghasilan. Berbekal niat untuk menstabilkan perekonomian keluarga, akhirnya beliau menemukan inovasi-inovasi di bidang pangan melalui media sosial dan beberapa video tutorial di Youtube.

“ BUDIKDAMBER ini soal ketahanan pangan keluarga, saat pandemi saya juga harus mencari cara agar penghasilan tetap stabil dan melalui budi daya ikan ini hasilnya sangat lumayan serta banyak diminati dan diikuti oleh banyak orang,” jelas Bapak Esperanza saat dikunjungi jurnalis Fimela di kediamannya, Minggu (11/11/2020).

Nah, buat kamu yang penasaran dengan kisah inspiratif dari Bapak Esperanza dan inovasinya di sektor perikanan untuk bertahan ditengah pandemi, Fimela.com telah berhasil meliput kegiatannya. Simak hasil liputannya berikut ini.

Seputar Inovasi BUDIKDAMBER

Seputar Inovasi BUDIKDAMBER
Foto Inovasi BUDIKDAMBER Credit: Dokumentasi Narasumber

BUDIKDAMBER adalah teknik budi daya ikan yang dilakukan dengan memanfaatkan ember sebagai media tumbuh kembangnya. Teknik budi daya ini muncul karena adanya tekanan situasi untuk mengembangkan sektor perikanan di wilayah perkotaan yang biasanya relative sempit dan kecil. Maka dari itu, media yang digunakan adalah ember.

Dilansir dari berbagai sumber, teknik ini juga merupakan pengembangan dari aquaponik, yang mana ikan dan tanaman dapat tumbuh dalam satu wadah. Karena dapat menumbuhkan tanaman dan ikan dalam satu wadah, budikdamber disebut-sebut sebagai solusi untuk masalah lahan dalam budidaya tanaman dan ikan.

Hal ini juga yang diadaptasi oleh Bapak Esperanza, bertempat tinggal di daerah kota, tepatnya di Semaki, Umbulharjo, Kota Yogyakarta membuatnya tidak memiliki lahan besar yang bisa digunakan untuk budi daya ikan. Alhasil, melalui media ember ini, Bapak Esperanza dapat berternak ikan konsumsi sekaligus menumbuhkan tanaman sayur-sayuran.

Adapun jenis-jenis ikan yang dibudidayakan biasanya adalah jenis ikan konsumsi atau ikan air tawar yang hidup di air tenang. Contohya adalah ikan lele, ikan gabus, dan ikan patin. Sedangkan tanaman yang dibudidayakan ialah tomat, sawi, mentimun, cabai, dan sayuran hijau lainnya.

Secara teknis, media yang diperlukan untuk menerapkan BUDIKDAMBER ini terbilang sederhana, kamu bisa menggunakan ember bekas yang berskala 25-liter untuk 10 sampai 15 benih lele. Sampai saat ini diketahui bahwa jumlah ember yang telah dipakai oleh Bapak Esperanza sudah mencapai 9 ember dengan skala yang berbeda-beda, mulai dari yang kecil sampai yang besar dan muat untuk menampung 30 – 35 benih lele dan ikan konsumsi lainnya.

Membangun BUDIKDAMBER Bersama Istri Tercinta

Membangun BUDIKDAMBER Bersama Istri Tercinta
Foto Ibu Winaryati, Istri Bapak Esperanza yang Ikut Mengembangkan Budikdamber Credit: Dokumentasi Narasumber

Menariknya, inovasi BUDIKDAMBER yang tengah dikembangkan oleh Bapak Esperanza ini mendapat dukungan dari keluarga, terutama istri tercinta. Ibu Winaryati selaku istri dari Bapak Esperanza juga ternyata memiliki hobi yang sama dibidang pangan, hanya saja konsentrasinya berbeda. Ibu Winaryati lebih melirik pada sektor pertanian dengan mengembangkan budidaya organik pada tanaman sayur-sayuran.

Sebagai pasangan suami istri yang telah dianugerahi dua orang anak dan sama-sama memiliki hobi di bidang pangan, alhasil inovasi BUDIKDAMBER yang tengah dikembangkan oleh Bapak Esperanza pun dapat berkolaborasi dengan sistem bercocok tanam yang digunakan oleh Ibu Winaryati.

Bentuk kolaborasinya ada pada pemanfaatan lahan sempit dimana satu ember yang digunakan sebagai media peternakan juga bisa menjadi media tempat penanaman tanaman sayur-sayuran. Dengan begitu, lahan yang terbatas bisa menghasilkan ternak lele dan sayur-sayuran.

“Dalam mengolah BUDIKDAMBER ini saya mendapatkan bonus karena diatas embernya ditanami sayur-sayuran sehingga pemanfaatan lahannya menjadi maksimal dan saya juga dibantu oleh istri saya yang juga punya hobi bercocok tanam, jadi cocok saja begitu,” ujarnya.

Teknis Proses Perawatan BUDIKDAMBER

Teknis Proses Perawatan BUDIKDAMBER
Foto Proses Perawatan Budikdamber oleh Ibu Winaryati Credit: Dokumentasi Narasumber

Secara teknis, proses perawatan BUDIKDAMBER ini terbilang mudah dan sederhana. Kamu hanya membutuhkan beberapa ember bekas, benih ikan (bisa ikan lele atau ikan gabus), saluran air yang cukup, dan beberapa peralatan sederhana untuk kegiatan operasionalnya.

Pertama, yang harus dilakukan adalah membersihkan terlebih dahulu ember yang akan kamu gunakan dengan melakukan ‘water treatment’ yakni, ember diisi dengan air lalu diberikan bahan tertentu untuk pemurniannya, contohnya diberikan garam gosok lalu didiamkan selama 2-4 hari. Jika ember yang berisi air tersebut sudah mulai ada jentik-jentik nyamuk, maka tandanya ember tersebut sudah siap sebagai media ternak ikan.

Kemudian, untuk tanaman sayurnya sendiri bisa ditaruh diatas tutup ember yang sebelumnya telah dilubangi sesuai dengan ukuran dari pot atau media yang digunakan untuk bertanam. Kamu bisa menggunakan gelas plastik air mineral dan sebagainya untuk menjadi pot bagi tanaman sayuran. Menurut informasi yang didapatkan dari Bapak Esperanza, ada banyak jenis tanaman yang bisa ditanam diatas tutup ember seperti, kangkung, selada, sawi, dan seledri.

Kemudian untuk proses panennya, biasanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 bulan, baru lele yang diternak bisa diangkat dan diolah, sementara untuk tanamannya menyesuaikan.

Produk Olahan Hasil BUDIKDAMBER

Produk Olahan Hasil BUDIKDAMBER
Foto Produk Lele Siap Goreng Hasil dari Budikdamber Credit: Dokumentasi Narasumber

Sebagai inovasi di bidang pangan, hasil dari BUDIKDAMBER ternyata bisa diolah menjadi beragam santapan yang lezat. Lele hasil ternak didalam ember bisa menjadi beragam produk olahan makanan, mulai dari lele siap goreng, abon, kerupuk, dan bakso. Semua produk olahan tersebut selain lezat, juga menyehatkan dan bernilai ekonomi tinggi.

Produk Olahan Hasil BUDIKDAMBER
Foto Produk Puding Hasil dari Budidaya Tanaman Organik Credit: Dokumentasi Narasumber

Selain hasil ternak ikan, sayur-sayuran hasil budidaya organik yang ditempatkan diatas tutup ember juga bisa diolah menjadi beragam produk olahan makanan. Contohnya sawi, sawi bisa diolah menjadi puding, ekstrak minuman, ataupun dikonsumsi secara langsung. Pastinya karena bahan dasarnya adalah sayuran organik, maka produknya pun sehat dan memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Pemasaran Produk Hasil BUDIKDAMBER dan Keuntungannya

Pemasaran Produk Hasil BUDIKDAMBER dan Keuntungannya
Foto Pemasaran Produk Hasil Budikdamber Credit: Dokumentasi Narasumber

Selama pandemi berlangsung, model bisnis untuk pemasaran produk hasil olahan BUDIKDAMBER yang dipakai oleh Bapak Esperanza ialah model bisnis secara daring atau online. Hal ini dilakukan karena di masa pandemi perlu memerhatikan protokol kesehatan dan juga meminimalisir kemungkinan untuk berkontak sosial secara langsung.

“Bisnisnya saya jalankan secara online melalu chat whatsapp biasanya, tetapi karena ini di masa pandemi tentu saja situasinya jadi bersaing dan ketat. Namun, yang kita jual tidak hanya produknya saja, tetapi juga ember prototypes dan beberapa peralatan lainnya untuk menunjang kegiatan BUDIKDAMBER dan responnya positif dari masyarakat,” ujarnya.

Sedangkan untuk pemasarannya secara langsung, biasanya Bapak Esperanza memasarkan produknya di pasar tani. Pasar tani merupakan event atau kegiatan yang lokasinya berada di halaman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kemudian jika berbicara mengenai persaingan bisnis, Bapak Esperanza merasa bahwa tidak ada persaingan atau menganggap pebisnis lain adalah ‘musuh’. Pebisnis lain baginya adalah partner yang bisa dimanfaatkan dalam proses distribusi sehingga pasokan ikan bisa stabil dan aman jika diperlukan dalam jumlah yang banyak.

Keuntungan yang didapatkan juga cukup besar, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit terkait kisaran nominal yang didapatkan, namun menurut penuturan Bapak Esperanza, keuntungan yang didapatkan sudah mencapai jutaan rupiah dan jumlah tersebut sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan harian hidup keluarga.

BUDIKDAMBER Memiliki Nilai Sosial dan Ekonomi yang Tinggi

BUDIKDAMBER Memiliki Nilai Sosial dan Ekonomi yang Tinggi
Foto Kegiatan Sosialisasi Budikdamber Kepada Masyarakat Credit: Dokumentasi Narasumber

Melihat hasil dari keuntungan tersebut, akhirnya banyak orang yang tertarik dengan model bisnis yang dilakukan oleh Keluarga Bapak Esperanza. Alhasil, inovasi BUDIKDAMBER pun banyak disosialisasikan kepada masyarakat secara masif, mulai dari ranah keluarahan sampai bekerjasama dengan universitas-universitas yang ada di Yogyakarta.

Hal ini karena BUDIKDAMBER merupakan inovasi yang solutif dan tidak hanya memiliki nilai ekonomi saja, tetapi juga memiliki nilai sosial dan juga lingkungan. Secara sosial, jelas inovasi ini adalah alternatif yang baik untuk dikembangkan ditengah pandemi sehingga dapat menjadi pemecahan masalah sosial.

Sementara secara lingkungan, inovasi ini memberikan insight atau pendekatan baru bahwa bercocok tanam dan berternak ternyata bisa dilakukan ditengah kota bahkan dilahan yang sempit dan kecil tetapi dapat memberikan keuntungan yang cukup besar.

Lanjutkan Membaca ↓