5 Modus Penipuan via Digital yang Wajib Kamu Waspadai

Imelda Rahma25 Nov 2020, 10:35 WIB
Diperbarui 25 Nov 2020, 10:35 WIB
Modus Penipuan

Fimela.com, Jakarta Saat pandemi masih berlangsung, pilihan untuk menggunakan layanan secara digital sudah jadi pilihan yang tidak bisa dikompromikan lagi. Namun, bahaya akibat penggunaan layanan secara digital juga tidak bisa dibendung karena modus penipuan dan kejahatan juga sudah mulai canggih dan merambah para pengguna layanan digital.

Jika biasanya penipuan atau kejahatan dilakukan secara langsung dan terang-terangan, kini modus penipuan juga bisa dilakukan via digital. Caranya bermacam-macam, mulai dari mengaku sebagai anggota keluarga yang meminta tebusan hingga melakukan ancaman untuk menyetorkan sejumlah uang.

Maka dari itu, kamu patut berhati-hati dan juga waspada dengan modus-modus baru penipuan secara digital, jangan sampai kamu menjadi salah satu korbannya. Untuk itu, kamu perlu tahu modus-modus apa saja yang biasa dilakukan oleh para pelaku kejahatan saat menipu korbannya secara digital.

Fimela.com kali ini akan mengulas 5 modus penipuan via digital yang wajib kamu waspadai. Dilansir dari Liputan6.com, ulasan ini tentu bisa jadi informasi yang bermanfaat agar kamu semakin mawas diri. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Penipuan Melalui Undian Berhadiah

Penipuan Melalui Undian Berhadiah
Ilustrasi Mendapatkan Undian Berhadiah Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Modus penipuan via digital yang pertama ialah penipuan melalui undian berhadiah. Modus penipuan yang satu ini sudah sangat sering di temukan di dunia online. Munculnya informasi mengenai undian berhadiah sering tampak di layar gadget saat kita sedang melakukan aktivitas di dunia maya.

Aksi modus ini sangat sederhana. Pertama-tama, para korban diajak untuk bergabung lebih dulu di situs undian online dengan iming-iming hadiah yang sangat besar. Lalu para korban disuruh mengisi identitas diri (nama, usia, tanggal lahir, jenis kelamin, dan lainnya). Tidak sampai di situ, para korban nantinya akan disuruh untuk mentransfer sejumlah uang sebagai biaya pendaftaran sebelum akhirnya ikut undian.

Jika kamu mengalami kejadian seperti yang telah dijelaskan diatas, sebaiknya langsung tinggalkan situs tersebut, bila perlu diblokir saja karena biasanya undangan undian berhadiah tersebut akan datang lagi sewaktu-waktu jika tidak kamu blokir.

Penipuan Secara Phising

Penipuan Secara Phising
Ilustrasi Penipuan Secara Phising Credit: unsplash.com/Jefferson

Modus penipuan via digital yang kedua dikenal dengan phising atau metode penyalipan informasi pribadi untuk keuntungan pihak tertentu. Modus penipuan ini biasanya ditawarkan website yang tidak terpercaya di mana korban disuruh untuk mengisi data diri secara lengkap (nama, nomor KTP, nomor rekening, dan PIN) sebelum melanjutkan metode phising.

Para pelaku yang menggunakan metode ini biasanya mereka yang sudah sangat profesional di bidang teknologi. Sebut saja para hacker. Karena itu, kamu harus lebih berhati-hati saat membuka konten di website yang tidak terpercaya.

Sengaja Menunda Pengiriman Resi

Sengaja Menunda Pengiriman Resi
Ilustrasi Pengiriman Resi Credit: pexels.com/Karolina

Modus penipuan via digital yang ketiga ialah sengaja menunda pengiriman resi. Barang yang sudah dikirimkan melalui ekspedisi tertentu biasanya akan disertai dengan nomor resi yang berguna untuk melacak status pengiriman barang. Namun, penjual yang tidak reliable sering mengucapkan alasan “nomor resi baru akan dicetak esok hari oleh bagian ekspedisi, saya tidak bisa mengirimkannya”.

Padahal, sesudah barang masuk ke bagian ekspedisi, nomor resi akan langsung dicetak secara bersamaan. Kalau penjual berusaha mengelak untuk mengirimkan nomor resi, maka kamu patut curiga karena penjual tersebut sedang berusaha menipu.

Bukti Transfer Palsu

Bukti Transfer Palsu
Ilustrasi Bukti Pengiriman Palsu Credit: unsplash.com/Roberto

Modus penipuan via digital yang keempat ialah bukti transfer palsu, kali ini yang menjadi korbannya bukan pembeli, melainkan penjualnya. Para penjual biasanya ditipu lewat bukti transfer yang dilakukan pembeli sehubungan dengan barang yang dibelinya. Nahasnya, bukti transfer tersebut adalah palsu yang didapat dari hasil editan komputer, bukan langsung dari ATM.

Kalau dilihat sekilas, bukti transfer asli dan palsu memang hampir mirip. Padahal, keduanya bisa dibedakan lewat logo bank yang tertera pada bukti pembayaran. Bukti pembayaran palsu biasanya tidak memiliki logo bank, berbeda dengan bukti pembayaran asli.

Jika kamu bekerja menjadi pebisnis online, maka kamu harus lebih teliti saat mengamati bukti pembayaran yang dikirimkan pembeli. Jangan sampai tertipu.

Harga Barang yang Terlalu Miring atau Murah

Harga Barang yang Terlalu Miring atau Murah
Ilustrasi Online Shop Credit: unsplash.com/Brooke

Terakhir, modus penipuan via digital yang kelima ialah harga barang yang dicantumkan terlalu murah. Belakangan ini, ada modus penipuan baru yang bernama e-bay scam. Berbeda dengan modus lainnya, modus ini bermain di sektor harga jual produk.

Produk yang dijual di situs yang bersangkutan sangat miring harganya. Artinya, jauh dibawah rata-rata. Tujuannya hanya satu yaitu agar pengunjung tertarik untuk membeli produk yang dijual di situs tersebut.

Namun, jangan buru-buru langsung membelinya, kamu perlu membandingkan harga jual produk tersebut dengan situs online lain untuk mengetahui harga pasar yang sebenarnya. Kalau harganya tidak jauh berbeda, boleh saja untuk membeli produk tersebut. Sebaliknya, kalau perbedaan harganya terlalu signifikan, bisa dipastikan situs tersebut adalah penipu.

Lanjutkan Membaca ↓