Berkat Doa Ibu, Tiap Masalah Bisa Kuatasi dengan Baik

Endah Wijayanti26 Nov 2020, 08:45 WIB
Diperbarui 26 Nov 2020, 08:45 WIB
kasih sayang ibu

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Suharyanti Asti Oktavia

Assalamualaikum wr wb.

Halo teman-teman Fimela, terima kasih untuk redaksi yang telah menyelengagrakan lomba ini karena aku tahu tidak semua anak dapat mengungkapkan perasaan mereka terhadap orang tuanya. Semoga dengan adanya lomba ini, seorang anak dapat mengungkapkan perasaan mereka melalui tulisan.

Perkenalkan nama saya Suharyanti Asti Oktavia, biasa dipanggil Astici. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Umur saya saat ini 22 tahun. Kesibukan saya sedang menjalani proses semester akhir dalam tahap penulisan skripsi.

Saya terlahir dari keluarga yang sederhana, tapi saya mengakui betapa kayanya orang tua saya dalam memberikan kasih sayang mereka. Tidak hanya seorang ibu, ayah saya juga sangat memprioritaskan kami sebagai seorang anak, sebab kami berdua seorang perempuan. Beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan perhatian ke kami berdua. Walaupun seorang ayah terkadang mempunyai caranya tersendiri buat menyalurkan kasih sayangnya.

Teringat masa kecil dulu, di saat saya belum mempunyai seorang adik. Keluarga saya hidup kurang berkecukupan, bahkan saya, ibu, dan ayah masih tinggal di rumah Mbah Uti dan Mbah Kakung dari ayahku. Kalau ibu, sejak dia sebelum menikah, sudah yatim piatu.

Siapa sih yang ingin hidup sulit? Pasti jawabannya tidak ada yang mau. Tapi ibuku dari dulu selalu mengajarkan bahwa rezeki yang kita dapatkan itu tidak akan pernah tertukar sedikit pun. 

Di saat aku berumur 3 tahun, ibu dan ayahku bekerja untuk memenuhi ekonomi rumah tangga. Berangkat pagi hingga sore, terkadang ibu sudah tidak terlalu memenuhi kegiatan aku bermain saat dulu, karena kelelahan. Ayah selalu pulang larut malam, karena selalu mengambil jam lembur yang lumayan banyak dalam seminggu.

Ibuku termasuk orang yang rewel dalam hal didik mendidik. Bukan dalam bidang Akademik melainkan dalam hal pergaulan. Dia selalu mengajarkan bagaimana cara untuk mengontrol emosi atau anggapan dari orang lain.

Aku pernah merasakan saat manusia di sekelilingku memandang kami dalam hal ekonomi, tapi kedua orang tuaku terutama ibu selalu menutupi dengan kebahagiaan yang mereka buat dan senyum yang mereka tampilkan. Kebahagiaan kami tentunya tidak selamanya berjalan, aku pernah diomeli dan aku juga pernah nangis karena sikap ibuku atau ayahku. Tetapi, ibu selalu memberikan pelukan di akhir amarah atau nasihatnya.

Ya, dia seorang wanita yang menginginkan anak-anaknya untuk bisa tumbuh besar menjadi orang yang bijaksana. Mungkin di saat aku masih kecil, aku punya rasa sensitif yang terkadang membuat aku jadi sedikit merasa kesal. Tapi, besoknya udah baik lagi kok.

Ibu Selalu Memberi Arahan yang Positif

ibu tercinta
Ibu tercinta./Copyright Suharyanti Asti Oktavia

Ibuku selalu mengajariku untuk tidak pernah meninggalkan ibadah wajibku, cuma sesekali aku suka lalai. Makin ke sini, makin bertambahnya umur, aku jadi lebih sering mengingat hal-hal yang pernah disampaikan sama ibuku. Dari nasihat-nasihatnya, bahkan dari ajarannya. 

Tiap kali aku melalui masalah, kalau bukan karena arahan dari seorang ibu yang selalu mengajariku untuk berusaha tetapi juga harus tetap berserah diri, mungkin aku akan menyerah menghadapi hidup karena permasalah remaja terkadang sulit aku mengerti.

Satu per satu masalahku dapat aku lalui, aku yakin ini semua berkat doa-doa dari orang tuaku terutama ibuku. Bahkan banyak hal yang tidak bisa aku sampaikan didalam tulisan ini, untuk menggambarkan betapa berharganya ibuku, hal yang dia berikan selalu berarti untuk aku dalam menjalani hidup.

Harapanku yang selalu aku panjatkan kepada Tuhan, aku ingin sekali bisa membahagiakan mereka dengan cara yang sangat indah. Ingin sekali bisa merawat mereka di hari tuanya, memberikan kasih sayang, dan belajar untuk bersabar menemani dihari tuanya seperti ibu yang selalu sabar dalam merawat aku di saat aku kecil hingga sampai saat ini. 

Jika suatu saat nanti ibuku membaca, semoga dia dapat tersenyum, tertawa dan tertanam rasa haru bahagia di hatinya atas kalimat yang aku lampirkan dalam tulisan ini.

Terima kasih Fimela.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓