Ibu Telah Mengubah Duniaku, Kini Aku Berharap Kau Bahagia di Surga

Endah Wijayanti26 Nov 2020, 11:45 WIB
Diperbarui 26 Nov 2020, 11:45 WIB
cinta ibu dan surganya

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Ridha Hrn

Ibu... . Sebenarnya di saat menggoreskan pena ini, rasanya aku tak sanggup menahan kristal bening yang mendesak keluar dari kedua pelupuk mataku. Motivasi darimulah yang membuatku ingin selalu berbagi tulisan yang inspiratif dan penuh manfaat buat dunia. Aku ingat saat pertama kali memulai karierku di dunia tulis menulis. Kaulah orang pertama yang selalu memompa semangatku dengan ucapan yang meneguhkanku.

“Nak, teruslah berjuang mengukir dunia dengan tulisanmu yang penuh manfaat bagi semua orang. Sebab menulis adalah sebuah perjuangan yang akan kau kecap imbalannya di akhirat kelak,” ucapmu berkali-kali di saat semangatku melemah kala tak satu pun cerpenku dimuat di media. Caramu mendukungku sangat indah dan mengharukanku. 

Ibu adalah Inspirasiku

Ibu tak pernah mau rumahnya dijual, meski dia harus tinggal sendiri tanpa anak-anaknya. Padahal kami khawatir dengan ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bayangkan saja, hampir semua anak ibuku tinggal di perantauan. Ada yang di Jakarta, ada yang di Padang, dan ada yang di Yogyakarta.

Sebenarnya bukan setelah anak-anaknya menikah saja ibu harus rela ditinggal sendiri di Medan. Semenjak anak-anak ibuku tamat SMA, hampir semuanya memilih merantau ke Yogya untuk kuliah, termasuk diriku. Tak dapat kubayangkan bagaimana kesepiannya ibuku. Apalagi ayahku telah lebih dahulu dipanggil Tuhan, otomatis ibu sering sendirian.

Tapi ibuku tak pernah melarang anak-anaknya untuk pergi. Baginya yang utama adalah anak-anaknya menjadi orang yang pintar dan bisa bersekolah setinggi-tingginya. Meski harus merantau meninggalkan dirinya.

Ibuku benar-benar mengikuti sunnah nabi yang berbuny, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China." Sungguh luar biasa sosok ibuku di mataku. Padahal setiap kami kembali lagi ke Yogya setelah masa liburan habis, mata ibu akan berembun karena sedih dan haru. Sedih karena harus kembali ditinggal anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama. Haru, demi melihat kami bisa mencicipi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah menikah, aku sangat ingin ibu pindah ke Jakarta. Selain semua anaknya tinggal di ibu kota, aku ingin tinggal berdekatan dengan ibu. Maklumlah sedari SMA hingga menikah, aku hidup dirantau terus.

Aku ingin membahagiakan beliau dengan sering mengunjunginya dan mengurusnya. Dan itu bisa terlaksana kalau ibu tinggal tak jauh dariku. Tapi ibu menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan asam dan manisnya hidup bersama ayah. Ah, ibu. Tak inginkah di hari tuamu, kau bisa berkumpul dengan anak-anakmu? Padahal kami sangat merindukan hal itu.

Untuk mengobati rasa kangenku pada ibu, setahun sekali ibu kukirimi ongkos untuk datang ke Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, ibu akan kubawa pergi jalan-jalan ke mana pun dia suka. Bahkan ke kolam renang sekalipun, bersama anak-anakku yang ingin berenang. Tapi ibu paling suka bila kuajak ke pasar Anyar Bogor. Kebetulan aku tinggal di daerah Bojonggede yang tak jauh dari Bogor. Jadilah dengan nekat kuajak ibu naik kereta. Meski awalnya ibu takut, tapi kulihat dari matanya ibu begitu antusias dan bahagia dengan ajakanku.

Namun saat ibu harus kembali lagi ke Medan, aku tak dapat menutupi rasa sedihku padanya. Dan lagi-lagi aku meminta agar rumah di Medan dijual saja, supaya ibu bisa membeli rumah tak jauh dari rumahku. Agar setiap saat aku bisa bersama ibu dan mengajaknya jalan-jalan. Juga membacakan cerita-ceritaku padanya.

Kebetulan aku suka menulis cerpen dan sering dimuat di media. Ibu berkata akan mempertimbangkannya. Aku merasa diberi setitik harapan. Hingga berdoa semoga ibu tak merubah niatnya untuk membeli rumah di daerah Bojongggede. Karena ibu merasa betah tinggal di daerah tempat tinggalku yang menurutnya sejuk dan tidak panas seperti di Jakarta.

Beberapa bulan setelah ibu pulang ke Medan, ibu jatuh sakit. Kami pun memutuskan untuk mengobati ibu di Jakarta saja agar lebih efisien dan efektif. Mengingat hampir semua anaknya tinggal di kota metropolitan. Ibu pun tak menolak dan segera kembali lagi ke Jakarta untuk berobat.

Begitu sampai, ibu segera kami bawa berobat ke dokter. Dan vonis yang mengerikan itu benar-benar menghancurkan hati kami anak-anaknya. Ibuku positif terkena kanker ganas.  Di tengah kebahagiaanku mendapat kabar bahwa salah satu cerpenku menjadi pemenang dan akan dibukukan bersama 11 penulis lainnya. Sementara ibuku harus terkapar di rumah sakit karena menderita kanker dan komplikasi paru-paru yang parah. 

Ibu Pendukung Sejatiku

cinta ibu dan ketegaran hatinya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Prot56

Aku tak bisa lupa betapa antusiasnya ibu memintaku untuk membacakan ceritaku yang dimuat, karena matanya mulai kabur di usianya yang sudah beranjak senja. Dengan senang hati aku pun membacakan ceritaku sendiri untuk ibu hingga selesai.

Dia pun dengan tekun menyimak setiap kata demi kata yang aku bacakan untuknya. Juga ketika kuutarakan pada ibu bahwa aku ingin membuat cerpen tentang gempa dengan judul “Rumah Mande” Cerpenku yang akhirnya di muat dan menjadi cerpen pilihan pembaca di bulan November 2009. Cerpen inilah yang akhirnya kukembangkan menjadi sebuah novel berjudul Rumah Mande dan diterbitkan oleh Elexmedia.

"Nanti bagaimana kalau rumah kita benar-benar kena gempa,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Nggak mungkinlah, Bu. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersama-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat ibu bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.

Awal Duka Terbesar Ibuku

Sejak kedua kakak lelakiku meninggal karena kanker, ibuku sempat murung dan bersedih. Bahkan tak lama abang tertuaku meninggal karena kanker hati. Ibu pergi berjalan seorang diri entah ke mana. Dia terus berjalan tanpa tujuan. Dan akhirnya pulang setelah kami menunggu dengan cemas di rumah.

“Entah mengapa, ibu tiba-tiba ingin berjalan kaki ke mana ibu suka,” jawabnya saat kami tanya ke mana saja dirinya. 

Ah, mungkin ibuku bingung harus bagaimana melepaskan rasa sedihnya karena baru kehilangan anak kebanggaannya yaitu Uda Wan, kakak tertuaku. Anaknya yang paling cerdas dan berprestasi. Hingga bisa sekolah ke luar negeri tanpa biaya. Sekaligus tulang punggung keluarga pengganti ayah yang telah lebih dulu meninggalkan kami.

Sungguh! Hati ini tak kuat membayangkan tubuh ibu yang sudah renta itu harus menjalani pengobatan seperti kemotrapi, dsb. Apalagi yang kudengar dari orang-orang yang pernah terkena kanker mengatakan bahwa setelah habis dikemo, rasanya sakit sekali. Lebih baik digebuki oleh orang sekampung daripada harus dikemo. Duh Robbi! Betapa pilunya hatiku saat itu. Setiap malam aku menangis memikirkan ibu. Aku tak kuat memandang wajahnya yang selalu meringis menahan sakit.

Penyesalan Terbesarku

cinta ibu dan istri kedua
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Aku tersadar betapa banyak kesalahanku padamu selama ini.

Sedari kecil, aku sudah sering membuatmu marah dengan ulahku. Mulai dari bermain seharian hingga lupa pulang. Bahkan sering membolos dan pindah-pindah sekolah. Tolong maaf ibu aku suka nakal hingga membuatmu sering sedih dan kecewa.

Aku juga suka membantah saat kau bicara, padahal itu semua demi kebaikanku. Kala menasihatiku untuk tidak keluyuran seharian dan membantumu di rumah karena aku anak perempuan.

Tapi apa yang kulakukan? Sudah tahu berbuat salah jarang meminta maaf. Malah sering membuatmu sakit hingga pernah pingsan karena ulahku. Sekali lagi maaf ibu.

Aku tumbuh menjadi anak perempuanmu yang memberontak. Bahkan pernah protes, “Mengapa Mamak masih melahirkanku? Padahal anak mamak kan sudah banyak? Harusnya aku mengerti, tak mudah bagimu membesarkan 11 orang anak sendirian tanpa seorang suami. Sejak almarhum bapak telah menghadap Ilahi saat aku berusia 10 tahun. Apalagi di saat aku sudah menjadi ibu dari 3 orang buah hati."

Sampai akhirnya aku putuskan merantau ke Yogya, demi menghindari konflik denganmu, ibu. Karena aku takut akan lebih sering melukai perasaanmu dengan tingkah lakuku. Durhakanya aku, karena selama di rantau malah sering lupa menanyakan kabarmu. Apalagi meneleponmu sesering mungkin mengabarkan kondisiku selama di rantau. 

Padahal aku tahu kau pasti merindukanku dan ingin sering-sering mendengar kabar tentang keadaanku. Bahkan dirimu sampai pergi ke rumah salah satu saudara untuk meminta tolong menuliskan sepucuk surat buatku. Karena kutahu, matamu sudah mulai kabur ditelan usia, Ibu. Hingga tidak bisa begitu melihat dalam menulis dan membaca. Oh, sekali lagi maafkan aku.

Allah akhirnya menyadarkanku dengan divonisnya dirimu terkena kanker getah bening.

Aku pun menyadari, setelah ini takkan ada lagi rasa cemas dan kekhawatiran itu kulihat dari matamu. Ketika kau terbaring koma tak berdaya.

Takkan ada lagi yang sering menasihati dan memotivasiku terutama dalam dunia menulis. Sebab kaulah satu-satunya motivator yang membuatku tetap harus menulis. Sebagaimana kata-kata indahmu padaku. Kata-kata indah yang kuselipkan dalam novel Rumah Mande yang lahir dari inspirasi kisah hidupmu.

“Tetaplah mengukir dunia dengan tulisanmu Nak, karena kelak akan kau rasakan imbalannnya di akhirat kelak.”

Ya Tuhan.

Andai waktu bisa terulang kembali, sedetik pun aku tak ingin lagi membantah dan menyakitimu hatimu. Apalagi sampai melupakanmu, Ibu karena alasan tidak sempat atau lalai karena sedang asyik bersama teman-teman dan duniaku.

Kesadaran itu pun benar-benar menohok hatiku, saat aliran napasmu berhenti. Diiringi isak tangis penyesalan, aku meraung dan mengiba. Menubruk tubuhmu yang terbaring kaku untuk selama-lamanya.

“Ibu, jangan pergi, aku masih membutuhkan nasihat dan belainmu,” tangisku pecah memenuhi ruang kamar rumah sakit.

Akhirnya kusadari, surga itu kini telah benar-benar pergi dalam hidupku untuk selamanya.

Anakmu yang keterlaluan ini hanya bisa berdoa tiada henti, agar kau merasakan surga itu di alam sana lewat rintih malam-malamku. Hanya ini yang bisa kulakukan sebagai bakti dan penebus kesalahanku dulu padamu, Ibu. Sekali lagi, maafkanlah aku ibu, karena pernah lupakan kehadiranmu selagi masih ada. Karena begitu dirimu pergi, surga itu pun  hilang dalam hidupku.

Terima kasih ibu. Kau telah mengubah duniaku yang sempit menjadi lebih luas dengan mengenalmu lewat kisah perjuanganmu membesarkan kami. Kau akan terus hidup di hatiku dan lewat tulisan-tulisanku. 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓