Tidak Bekerja Kantoran Itu Tidak Hina, Nak

Endah Wijayanti26 Nov 2020, 13:35 WIB
Diperbarui 26 Nov 2020, 13:35 WIB
cinta ibu dan pekerjaan

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Nitya Krisnantari

Mama adalah sosok pejuang yang sangat hebat di mataku. Beliau terakhir menjabat posisi direktur di salah satu kantor pemerintahan negara, sebelum pensiun di umur 60 tahun. Mama selalu menyemangati aku dan kakakku untuk menyelesaikan pendidikan tinggi kami.

Aku hampir selalu ingin menyerah menyelesaikan S1-ku, tapi dengan melihat sosok mama yang berusaha terus mencapai puncak karier, aku pun jadi semangat lagi. Aku sempat terpuruk saat kuliahku di salah satu PTN tidak bisa lanjut ke tahun kedua, karena kondisi psikisku yang depresi. Tidak menyerah, mama mendukungku untuk kembali berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Selama aku kuliah, aku selalu disemangati mama untuk pantang menyerah. Dan akhirnya aku pun berhasil menyelesaikan pendidikan S1-ku walaupun dalam jangka waktu lama.

Aku sering melihat diriku sebagai sosok "orang gagal" karena aku tidak pintar beradaptasi dengan lingkungan dan cepat panik saat menghadapi tantangan. Berulang kali aku mencoba bekerja kantoran, tapi ujungnya selalu resign. Padahal dalam lubuk hatiku, aku ingin sekali seperti mama, yang sukses berkarier dan membina rumah tangga harmonis.

Ibu Menyemangatiku

cinta ibu dan istri kedua
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Malam itu, aku menghampiri mama untuk ngobrol sebelum tidur. Air mataku tumpah tidak hentinya mencurahkan isi hatiku kepada mama. Mama bilang, "Tidak bekerja kantoran itu tidak hina, Nak, lakukan apa saja yang kamu sukai, dan fokus pada bidang itu. Sadari kekuranganmu, dan kembangkan keahlianmu. Kamu bisa melukis, mengajar, dan banyak keahlian lain. Lakukan hal-hal yang buat kamu bahagia, Mama akan lebih bahagia melihat kamu juga tersenyum bahagia." Aku selalu berpikir, aku harus selalu bersyukur memiliki sosok ibu seperti Mama.

Selepas pensiun bekerja kantoran, aku dan mama membuat kreasi seserahan untuk calon pengantin di hari pernikahan atau tunangannya. Mama yang punya hobi kerajinan tangan di rumah, secara otodidak membuat kotak-kotak seserahan menjadi sangat cantik, unik, dan elegan.

Aku membantu mama di pemasaran untuk mencari klien seserahan baru, melalui media sosial seperti Instagram. Aku juga memotret kotak-kotak yang sudah siap diambil, lalu menulis caption menarik di tiap unggahan Instagram-ku. Dari usaha seserahan ini, kami banyak bertemu klien yang umumnya puas dan suka sekali dengan rias seserahan karya mama.

Orang yang selalu bersemangat, itulah mamaku. Memulai karier dari bawah, hingga di antara jajaran board of directors, dan berwirausaha di masa pensiunnya. Semoga mama selalu sehat, hingga aku juga bisa sukses seperti beliau, supaya aku bisa membanggakan mama. Aku bersyukur punya mama, sumber inspirasiku, sepanjang hidupku.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓