Black Dot Campaign Ajak Korban KDRT untuk Berani Meminta Pertolongan

Karla Farhana27 Nov 2020, 17:00 WIB
Diperbarui 27 Nov 2020, 17:00 WIB
Ilustrasi KDRT

Fimela.com, Jakarta Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT kerap kali sulit keluar dari pasangan yang kerap menyiksanya, baik secara verbal maupun non verbal. Pasalnya, pelaku kerap kali mengancam dengan berbagai cara. Mulai dari mengambil hak asuh anak hingga ancaman untuk dibunuh. 

Hal ini menyebabkan sulitnya para korban untuk meminta pertolongan kepada orang lain secara terbuka. Rasa takut penyiksaan akan terus berlanjut dan bahkan terjadi secara lebih kejam membungkam banyak korban KDRT. 

Untuk itu, para profesional dan figur publik mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap tanda-tanda dan simbol yang diberikan korban KDRT kepada orang lain untuk meminta pertolongan secara rahasia agar pelaku kekerasan tidak mengetahuinya. Salah satu cara adalah dengan menggalakkan Black Dot Campaign. 

Kampanye ini diramaikan di media sosial. Bukan kampanye baru, namun Black Dot Campaign sebenarnya sudah dilakukan sejak September 2015. Kampanye ini merupakan sebuah cara bagi para korban KDRT untuk meminta pertolongan dengan cara menggambar titik hital besar pada telapak tangannya, dan menunjukkannya secara diam-diam kepada orang lain. 

 

Telah Menyelamatkan 6 Korban dalam 24 Jam

KDRT
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Sinisha Karich

Kampanye ini, Beacon Rescue Mission dalam postingan Facebooknya menulis, telah menjangkau 6.000 pengguna Facebook dan berhasil mneyelamatkan 6 perempuan yang menjadi korban KDRT dalam 24 jam. 

Untuk mengedukasi lebih banyak orang lagi untuk peduli dan memahami cara menyelamatkan para korban, para pengguna media sosial menggalakkan kampanye lewat selfie dengan titik hitam di telapak tangan, untuk mendukung para korban dan penyintas KDRT. 

#ChangeMaker

Simak Video Berikut

Lanjutkan Membaca ↓