Meski Dibesarkan tanpa Sosok Ayah, Aku Tetap Bisa Menjadi Perempuan Tegar

Endah Wijayanti01 Des 2020, 10:39 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 10:39 WIB
cinta ibu dan tanpa ayah

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Anggria Vashaffa

Teruntuk perempuan hebat dalam hidupku, yang dengan fasih kulafalkan dengan panggilan bunda. Bercerita tentangmu, aku selalu kekurangan waktu untuk menjelaskannya. Bahkan, kata-kata saja sepertinya tidak akan mampu untuk menjelaskan bagaimana hebatnya dirimu.

Anakmu, anak kecil ini yang semakin besar tidak tahu arah jalan tujuannya, terombang ambing mencari dermaga untuk berlabuh, dihantam badai dengan habis habisan. Selalu bertanya-tanya, apakah sosok kuat dalam tubuhmu itu akan diwariskan ke tubuh anak kecil ini? Atau bahkan sosok mandirimu itu? Tapi setidaknya aku selalu suka ketika cara berpikirmu dan keras kepala mu ada di tubuh kecil ini, setidaknya aku punya bagian dari tubuh hebat itu. 

Sosok Ibu yang Luar Biasa

cinta ibu dan ketulusan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Chakkaphong+Nutalay

Tumbuh berkembang tanpa seorang ayah mungkin memang terlihat menyedihkan untukku, namun merawat dan melihatku tumbuh tanpa sosok laki laki yang membantumu mungkin sangat membebanimu. Entah bagaimana, tubuh kurus itu dulu mampu menenangkan rewelku sedangkan kerumitan kerumitan di luar lingkungan rumah juga menghantuimu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan, jika aku berada dalam posisi itu apakah aku mampu? Atau malah aku habis babak belur di pukul kenyataan.

"Kamu akan punya ayah," dulu saat perkataan ini terlontar dari mulutmu, sontak aku kaget. Bukan, bukan tidak menyangka bahwa aku akan punya ayah, namun ada perasaan takut dan khawatir tentang sosok asing yang akan tiba tiba memasuki duniaku dan duniamu. Ketakutan dia akan menyakitimu lagi seperti seseorang masa lampau yang kupanggil ayah. Ketakutan dia tidak bisa menyayangiku seperti kamu memberikan separuh hidupmu untukku. Namun, ketakutan itu sedikit demi sedikit aku singkirkan demimu, agar beban di pundakmu bisa sedikit berkurang.

Bun, mungkin anakmu ini tidak mudah menyingkirkan egonya untuk bisa mengatakan secara langsung, "Aku sayang Bunda," atau meskipun banyak keluhan terlontar dari mulutku mengomentari sifatmu yang tak kusukai. Namun, bersamaan sifat baik burukmu, anak kecil ini sangat bersyukur bisa lahir dari rahim mu. Bahkan ketika kehidupan akan berulang kembali, aku berharap aku akan tetap lahir menjadi anak kecilmu lagi.

Bun, banyak maaf yang tidak mampu kutuangkan melalui kata-kata, namun besar rasa syukur dan terima kasih aku ucapkan. Terima kasih telah merawat anak kecil ini dengan sangat baik.

 

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓