5 Langkah Memahami Pengetahuan Kesehatan Seksual dan Reproduksi Sejak Dini agar Terhidar dari HIV/AIDS

Anisha Saktian Putri01 Des 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 13:00 WIB
kesehatan mental

ringkasan

  • Di Indonesia, estimasi jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) telah mencapai 543,100 orang
  • Kegiatan pendidikan seks ini harus senantiasa dipupuk sejak masa kanak kanak hingga dewasa
Lanjutkan Membaca

Fimela.com, Jakarta Data dari Kementerian Kesehatan RI tentang perkembangan HIV/AIDS dan PIMS pada triwulan II Tahun 2020 hingga Juni 2020, memperlihatkan bahwa estimasi jumlah pasien HIV/AIDS (ODHA) telah mencapai 543,100 orang, 398,784 orang telah ditemukan, dan hanya 205,945 ODHA yang baru memulaikonsumsi ARV.

Survei Durex Eduka5eks pada tahun 2019 masih memperlihatkan bahwa topik IMS belum dibicarakan oleh konsumen remaja, orang tua, dan pasangan menikah. Bahkan 3 dari 10 kelompok remaja di lima kota besar Indonesia masih percaya bahwa berinteraksi dalam kegiatan sehari-hari bersama ODHA dapat menyebabkan penularan HIV/AIDS.

Ketua Tim Penasihat Kolegium PERDOSKI, Prof. dr. Sjaiful Fahmi Daili, SpKK(K) menekankan pentingnya pendidikan seks bagi remaja sebagai kegiatan promotif dan preventif untuk memberikan tuntunan hingga bimbingan kehidupan yang berkaitan dengan jenis kelamin, kehidupan mencintai, hingga rasa tanggung jawab.

Menurutnya, kegiatan pendidikan seks ini harus senantiasa dipupuk sejak masa kanak kanak hingga dewasa.

"Terdapat korelasi yang tinggi antara IMS dan HIV/AIDS, sehingga upaya preventif harus dimulai dari unitterkecil masyarakat di keluarga. Bagi organisasi profesi ini, edukasi seksual harus meliputi aspek moral, sosial, kesehatan, dan agama, di mana dokter akan berperan memberikan pengobatan dan pemerintah mendesain program dan regulasi," ujar dr. Sjaiful dalam Webinar “Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas” Antar Pemangku Kepentingan Untuk Menuju 10 Tahun Akhiri AIDS di 2030".

Berkomitmen pada isu kesehatan reproduksi dan edukasi seksual di kalangan remaja, pasangan, dan orang tua. Reckitt Benckiser melalui merek kontrasepsinya, Durex, bersama dengan Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) di bawah Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) telah membangun koalisi dalam pemilihan duta mahasiswa dan modul komprehensif Eduka5eks.

Eduka5eks merupakan 5 langkah mudah memahami pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang setiap langkahnya memberikan rekomendasi yang jelas bagi anak muda, orang tua,dan pasangan menikah.

1. Sikap terbuka untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi

Ilustrasi remaja
Ilustrasi remaja. Sumber foto: unsplash.com/Matheus Ferrero.

Mari mulai mencari tahu dan memahami apa yang terbaik untuk diri kita sendiri mengenai kesehatan reproduksi dan seksual. Jika terdapat hal yang sulit dipahami ada baiknya segera menemui ahli kesehatan atau dokter yang mengerti akan hal ini, sehingga kita mendapatkan informasi yang tepat sesuai dengan masalah yang dialami.

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial yang menyeluruh dan tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecatatan yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi serta prosesnya. Remaja harus paham tentang hasrat seksual, pahami mengenai kehamilan, hingga risiko infeksi dari berhubungan seksual seperti bisa terjadi HIV.

2. Mari Bicara: Berani untuk memulai percakapan

Generasi muda yang baru memasuki masa pubertas, jangan ragu untuk membicarakan perubahan yang kamu alami dan bahkan pengalaman pacaran dengan orang tua atau pun orang-orang yang kamu percaya memiliki informasi yang benar. Oleh karena itu, jangan lagi ragu untuk membicarakan seputar kesehatan reproduksi dan seksual kepada orang terdekatdan juga praktisi kesehatan jika diperlukan.

Pacaran sehat adalah hubungan kedekatan yang akan membawa lebih banyak kesenangan dan kenyamanan bagi masing-masing pasangan. Harus tahu mengapa hubungan seksual seharusnya dilakukan setelah menikah hingga definisi pelecehan seksual.

3. Saling Menghargai: Menghargai pendapat dan keputusan orang lain

Anak remaja/unsplash Tim Mossholder
Anak remaja/unsplash Tim Mossholder

Jika sedang berpacaran dan menjalin hubungan dengan seseorang, harus mampu memutuskan apa yang disetujui dan apa yang tidak, dan harus dapat menghargai keputusan yang dibuat. Sikap menghargai adalah sikap toleransi sesama manusia, menerima perbedaan antara setiap manusia sebagai hal yang wajar, dan tidak melanggar hak asasi.

Menghargai orang lain adalah salah satu kecerdasan moral yang penting untuk ditanamkan sejak dini. Hubungan yang sehatsaat berpacaran yang dilandasi saling menghargai akan dapat menghindarkan diri dari berhubungan seksual sebelum menikah, mencegah kehamilan dini, dan mencegah penyebaran IMS.

Remaja harus memiliki kesepakatan mengenai apa yang baik dilakukan dan yang tidak boleh. Sebagai pasangan yang belum terikat pada suatu pernikahan resmi, harus menjaga kesepakatan tersebut.

4. Selalu Bertanggung Jawab: Bertanggung jawab atas diri sendiri, pasangan kita, dan keluarga kita.

Ilustrasi Remaja
Ilustrasi Remaja. (Sumber: Unsplash)

Bagi generasi muda yang belum menikah, penting untuk mengetahui sejauh mana tindakan yang dapat berimbas pada hidupmu di masa depan. Melakukan hubungan seksual di luar nikah dapat menyebabkan ketidaksiapan kita ketika terjadi kehamilan yang tidak direncanakan atau terjangkitnya penyakit menular seksual. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk mengambil keputusan yang tepat untuk masa depan kamu. Jangan pernah memperbolehkan seseorang memaksa atau campur tangan untuk menentukan masalah seksual, karena ini menyangkut dirimu dan masa depanmu.

Kesadaran penuh untuk bertanggung jawab tidak hanya kepada diri sendiri namun calon pasangan atau orangtua. Saat seseorang memahami bahwa tubuhnya adalah milik dirinya sendiri,ia juga akan mudah bertanggung jawab menjaga kesehatannya. Pacaran yang bertanggung jawab dapat menghindari risiko pelecehan seksual, kekerasan, hubungan seksual sebelum menikah, dan Infeksi Menular Seksual (IMS).

Pahami tentang aktivitas seksual sebelum menikah yang mengakibatkan risiko sepertti kehamilan, rasa malu, merasa dihakimi, perubahana masa depan, rasa bersalah pada keluarga, hingga muncul keinginan untuk mengugurkan kandungan.

5. Cek Rutin: Mulai melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin

Cek rutin untuk C. trachomatis direkomendasikan setiap tahun bagi perempuan yang aktif secara seksual dan berusia <25 tahun.

Cek rutin untuk N. gonorrhoeae direkomendasikan setiap tahun bagi perempuan yang aktif secara seksual dan berusia <25 tahun.

Pemeriksaan darah anti HIV direkomendasikan terutama pada populasi berisiko misalnya proskuimitas yang tinggi, pengguna narkoba, atau perempuan dan laki-laki yang bekerja untuk mendapatkan kepuasan seks dan uang.

Jangan takut untuk segera ke dokter yang tepat karena tenaga medis akan selalu menjaga privasi dan kerahasiaan pasiennya.

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓