Menilik Urutan Pernikahan Adat Jawa yang Penuh Makna

Imelda Rahma01 Des 2020, 14:35 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 14:35 WIB
Married

Fimela.com, Jakarta Sebagai sebuah negara yang penuh dengan keanekaragaman, Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan budaya punya ciri khas khusus dalam melaksanakan pernikahan. Biasanya bagi keluarga yang masih memegang erat adat akan melaksanakan prosesi pernikahan dengan khas suku dari asalnya.

Tentu saja pernikahan menurut adat suatu suku tertentu akan memiliki tahapan yang berbeda dan bisa jadi lebih rumit dari proses pernikahan biasa. Hal ini karena adanya ketentuan maupun tahapan wajib yang didalamnya penuh makna, harus dilakukan untuk kebaikan pernikahan maupun mempelainya.

Salah satu pernikahan adat yang terkenal ialah pernikahan adat Jawa. Pernikahan adat Jawa memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui baik bagi perempuan maupun pria. Setiap tahapannya mengandung makna-makna penting yang dipercaya akan memengaruhi keharmonisan bahtera rumah tangga kedepannya.

Nah, untuk kamu yang penasaran dengan pernikahan adat Jawa, berikut Fimela.com akan mengulas urutan atau tahapannya yang penuh makna. Dilansir dari berbagai sumber, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Urutan Pertama: Seserahan

Urutan Pertama: Seserahan
Ilustrasi Seserahan Credit: unsplash.com/Wijdan

Urutan pertama dalam pernikahan adat Jawa ialah momen seserahan atau serah-serahan. Tahapan ini ialah kondisi dimana keluarga calon mempelai pria mendatangi kediaman keluarga calon mempelai perempuan dengan tujuan melamar putri keluarga tersebut untuk menjadi istri putra mereka.

Sembari mengutarakan maksudnya itu, keluarga pihak pria membawa serah-serahan atau yang diartikan sebagai barang-barang yang mempunyai makna tersendiri, seperti cincin, makanan tradisional, dan yang lainnya. Biasanya seserahan ini jumlahnya banyak dan beragam serta dibawakan oleh sanak saudara dari keluarga pria atau rombongan yang mengikuti proses seserahan.

Urutan Kedua: Siraman

Urutan Kedua: Siraman
Ilustrasi Siraman Credit: Liputan6.com

Urutan kedua dalam pernikahan adat Jawa ialah prosesi siraman. Ritual yang satu ini memiliki makna untuk membersihkan jiwa pengantin. Diselenggarakan sebelum proses akad nikah, biasanya satu atau dua hari sebelumnya di kediaman calon mempelai perempuan.

Urutan tahapannya yaitu calon pengantin memohon doa restu kepada kedua orangtuanya, kemudian calon pengantin pria dan perempuan duduk di tikar pandan dan disiram oleh pinisepuh, yakni orang yang ‘dituakan’ dan orang lain yang telah ditunjuk. Terakhir, calon pengantin disiram air kendi oleh ibu bapaknya.

Urutan Ketiga: Paes atau Ngerik

Urutan Ketiga: Paes atau Ngerik
Ilustrasi Ngerik Credit: pexels.com/Kaboompics

Urutan ketiga dalam pernikahan adat Jawa ialah prosesi ngerik atau upcara paes. Upacara paes dilakukan di kamar calon mempelai perempuan. Bukan hanya oleh si calon mempelai saja, tapi upacara ini diikuti juga oleh ibu calon mempelai, dan beberapa ibu-ibu sepuh lainnya.

Kemudian istilah ngerik dalam tahapan ini ialah mengerik atau menghilangkan rambut-rambut halus di wajah calon mempelai perempuan agar nampak bersih dan wajahnya jadi bercahaya. Tentu saja tahapan ini menggunakan alat yang aman dan nyaman sehingga calon pengantin tidak terluka atau merasa kesakitan.

Urutan Keempat: Dodol Dawet

Urutan Keempat: Dodol Dawet
Ilustrasi Dodol Dawet Credit: unsplash.com/Valeey

Selanjutnya, urutan keempat dalam prosesi pernikahan adat Jawa ialah acara dodol dawet atau menjual dawet. Penjualnya adalah ibu calon mempelai perempuan yang dipayungi oleh ayah calon mempelai perempuan.

Sementara itu, yang berperan sebagai pembelinya ialah para tamu dan saudara yang hadir. Mereka menggunakan pecahan genting sebagai uang untuk membeli dawet tersebut. Prosesi ini bermakna agar dalam upacara pernikahan yang akan dilangsungkan, dikunjungi banyak tamu dan dawet pun laris terjual.

Urutan Kelima: Midodareni

Urutan Kelima: Midodareni
Ilustrasi Pengantin adat Jawa Credit: Merdeka.com

Berikutnya, urutan kelima dari pernikahan adat Jawa ialah prosesi midodareni. Kata midodaren sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu 'widodari' atau bidadari dalam bahasa Indonesia.

Upacara ini dilangsungkan pada malam hari setelah prosesi siraman, yang dimaksudkan menjadikan sang mempelai perempuan secantik Dewi Widodari. Pada malam midodareni ini, keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai perempuan untuk mempererat tali silaturahmi.

Urutan Keenam: Upacara Panggih

Urutan Keenam: Upacara Panggih
Ilustrasi Upcara Panggih Credit: Merdeka.com

Kemudian, urutan keenam dalam pernikahan adat Jawa ialah acara upacara panggih yakni, prosesi datangnya calon mempelai pria dan rombongan ke kediaman calon mempelai perempuan, yang berhenti di depan pintu masuk rumah. Pada sisi rombongan mempelai laki-laki, ada 2 orang lelaki muda atau 2 orang ibu membawa masing-masing serangkaian bunga yang disebut kembar mayang.

Salah satunya membawa sanggan yang dibungkus daun pisang dan ditaruh di atas nampan. Lalu, sanggan diserahkan kepada ibu mempelai perempuan. Sedangkan kembar mayang dibawa keluar area rumah dan dibuang ke jalan di dekatnya, dengan maksud agar upacara pernikahan selalu berjalan lancar tanpa gangguan.

Upacara Balangan Suruh

Upacara Balangan Suruh
Ilustrasi Balangan Suruh Credit: Fimela.com

Terakhir, urutan ketujuh dalam pernikahan adat Jawa ialah upacara balangan suruh. Upcara ini berada pada titik yang sama dengan upacara panggih tadi, jarak antar mempelai kurang lebih lima langkah.

Kedua mempelai akan saling melempari ikatan daun sirih yang diisi kapur sirih dan diikat benang. Kedua mempelai saling melempar sambil tersenyum, mempelai laki-laki mengarahkan lemparannya ke arah dada mempelai perempuan, dan mempelai perempuan meleparnya ke arah paha mempelai pria. Menurut kepercayaan kuno, daun sirih punya daya untuk mengusir roh jahat dalam diri masing-masing calon mempelai.

Lanjutkan Membaca ↓