Gerhana Bulan Penumbra, Fenomena Alam yang Tidak Tersinari Penuh oleh Matahari

Vinsensia Dianawanti01 Des 2020, 13:30 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 14:13 WIB
gerhana bulan

Fimela.com, Jakarta Pada Senin (30/11) terjadi fenomena alam yang disebut Gerhana Bulan Penumbra di sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena ini terjadi ketika ada bagian dari piringan bulan purnama yang tidak tersinari penuh oleh matahari.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Deli Serdang, Teguh Rahayu, menjelaskan gerhana bulan penumbra ini terjadi akibat dari posisi bulan, matahari, dan bumi yang tidak persis sejajar. Saat gerhana terjadi, bulan nampak lebih redup atau penumbra dari saat purnama.

Gerhana Bulan Penumbra dimulai pada pukul 14.32 WIB dengan puncaknya pada 16.42 WIB, berakhir pada 18.53 WIB. Durasi dari gerhana muncul hingga berakhir adalah 4 jam 20 detik 59 detik.

Pengamatan gerhana bulan penumbra dapat dilakukan menggunakan teropong atau bahkan mata telanjang. Wilayah yang dapat mengamati puncak gerhana ini adalah daerah Papua, sebagian besar Amerika Utara, dan Samudera Pasifik.

 

Tidak menyebabkan cuaca ekstrem

[Bintang] Netizen Ramai-ramai Pamer Foto Planet Mars yang Terlihat Saat Gerhana Bulan Terlama
Gerhana bulan total terlama pada 28 Juli 2018 dihiasi dengan kemunculan planet Mars. (Ilustrasi: Bintang.com/Bambang E.Ros)

Beberapa hari sebelum gerhana, bulan berada di titik terjauhnya dari bumi. Ini membuat pasang surut air laut tidak berada dalam situasi yang tertinggi.

"Saat puncak (gerhana Bulan), lautan di Indonesia sedang berada pada fase surut," ujar Peneliti astronomi dan astrofisika Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Rhorom Priyatikanto melansir dari Liputan6.com.

Dampak dari fenomena gerhana bulan penumbra pada akhir November 2020 tidak mengkhawatirkan bagi dunia pelayaran. Hanya saja, perlu diantisipasi adanya cuaca ekstrem.

Simak video berikut ini

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓