Kekerasan Terhadap Perempuan Terjadi Secara Online Meningkat Selama Pandemi

Vinsensia Dianawanti01 Des 2020, 18:30 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 18:30 WIB
Orang Produktif Kerja Cerdas, Orang Sibuk Kerja Keras

Fimela.com, Jakarta Pandemi COVID-19 telah mengubah hidup miliaran orang di seluruh dunia. Tantangan terbesar yang dihadapi warga dunia bukan hanya soal masalah kesehatan fisik, melainkan juga mental.

Seiring dengan semakin banyaknya korban jiwa akibat pandemi, semakin jelas terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak serta kekerasan dalam rumah tangga. Begitu banyak perempuan yang dikurung dalam situasi yang berbahaya. Menurut PBB pun terlihat kekerasan berbasis gender ini juga meningkat secara online.

United Nations Special Rapporteur tentang kekerasan terhadap perempuan menunjukkan informasi terkait tren kekerasan dan pelecahan terhadap perempuan secara onelin meningkat selama pandemi COVID-19. Meningkatnya kekerasan dalam rumah yang disaksikan selama pandemi menyebar ke dunia maya, mengubah kehidupan internet menjadi ruang yang tidak bersahabat.

Dalam survei yang dilakukan meunjukkan 52% perempuan muda dan anak perempuan pernah mengalami pelecahan seksual secara online. Pelecehan secara online ini melibatkan pesan yang mengancam hingga berbagi gambar pribadi tanpa persetujuan.

 

Kekerasan secara online

Kekerasan
Ilustrasi Kekerasan dalam Pacaran Credit: pexels.com/pixabay

Ancaman berbagi gambar intim juga terjadi dalam sebagian besar konteks kekerasan pasangan. Salah satu saluran bantuan di Inggris melihat terjadi dua kali lipat lalu lintas situs web sejak lockdown di negara tersebut. Dengan 50% penggunaan mengakses hal-hal yang terkait kekerasan dalam rumah tangga.

Pelecehan secara online dapat menimbulkan kerugian mental dan fisik yang dapat menghancurkan kehidupan perempuan dan anak perempuan. Terutama jika mereka sering dibiarkan sendirian akan membuat korban terdiam dan malu. Terkadang hal ini juga membuat korban menyakiti dirinya sendiri, depresi dan bunuh diri.

Seorang penulis bernama Morgan Barbour pun mengalami pelecehan eksual di instagram. Saat melaporkan tindak pelecehan seksual yang ia alami ke instagram, respon yang ia dapatkan tidak sesuai ekspektasi.

 

Belum jadi prioritas

kekerasan seksual perempuan
ilustrasi kekerasan perempuan/copyright by Jacob Lund (Shutterstock)

"Kami tidak dapat meninjau laporan Anda. Kami memiliki lebih sedikit orang yang tersedia untuk meninjau laporan karena wabah virus corona (Covid-19), jadi kami hanya dapat meninjau konten dengan potensi bahaya paling besar," respons instagram.

Padahal, pelaku pelecehan mengancam akan menemukannya, memperkosanya, dan membunuhnya. Melihat respons instagram, Morgan melihat laporan paling potensial yang menimbulkan bahaya menjadi subjektif.

Seiring berjalannya waktu, Instagram pun mengembangkan beberapa solusi, seperti alur pelaporan pelecehan yang lebih baik untuk pelecehan.

Simak video berikut ini

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓