Kecelakaan dan Gegar Otak, Perempuan Ini Sembunyikan Kondisi Cacatnya selama 2 Tahun

Annissa Wulan01 Des 2020, 20:00 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 20:00 WIB
Kara Garbe Balcerzak

Fimela.com, Jakarta Peristiwa ini terjadi di beberapa hari terakhir Kara Garbe Balcerzak bekerja, pada bulan Desember 2017. Kara dan suaminya Eric sedang mengadakan pesta liburan di gedung apartemen mereka, ketika ada pasangan lain yang mendekat.

"Apa yang kamu kerjakan," tanya perempuan itu kepada Kara. Ragu-ragu, Kara melihat ke arah Eric.

"Saya sedang istirahat sebelum mulai bekerja lagi," sahut Kara.

"Oh, pasti terasa sangat menyenangkan! Saya pernah melakukannya dan istirahat bisa terasa sangat menyegarkan!"

Kara tersenyum dan mencoba berpura-pura bahwa segala hal baik-baik saja. Dua tahun yang lalu, Kara bersepeda ke rumah dari tempat kerjanya lewat pusat kota Minneapolis. Ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu mobilnya, membuat Kara terbang sejauh 10 kaki di udara dan mendarat di aspal.

Kecelakaan tersebut membuat Kara mengalami gegar otak yang tidak kunjung sembuh, migrain kronis, kelelahan, dan sulit berkonsentrasi. Tapi setelah itu, Kara bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan pemerintah untuk membuat program memerangi kemiskinan.

Kara tidak akan pernah bisa pulih

[Fimela] Ilustrasi rumah sakit
ilustrasi rumah sakit | pexels.com/@oles-kanebckuu-34911

Dalam seminggu, Kara hanya bisa bekerja selama 20 jam saja, itupun dirasa masih terlalu lama. Beberapa kali Kara berharap dirinya bisa sembuh, namun sampai sekarang ia masih mengalami sakit kepala yang hebat, kesulitan konsentrasi, dan harus pulang untuk tidur siang selama 3 jam setelah bekerja selama 4 jam.

Kara tidak bisa melanjutkan bekerja pada bidang yang disukainya, sampai akhirnya dokter menyatakan bahwa ia cacat permanen. Jadi, hal paling jujur yang bisa dikatakan tentang pekerjaannya adalah Kara dinonaktifkan.

Namun sebaliknya, Kara berkata dirinya adalah seorang penulis lepas. Memang benar, Kara sesekali mengambil pekerjaan menulis yang membatasi dirinya bekerja hanya 10 jam dalam seminggu.

Sayangnya, tingkat pemikiran yang intens dalam pekerjaan menulis justru memperburuk sakit kepalanya. Kara menjadi sering meminta maaf kepada suaminya, karena ketika suaminya sibuk bekerja dan melakukan tugas di rumah, ia hanya bisa tidur sepanjang sore.

Kara akan bekerja selama 10 jam dalam seminggu selama 1 atau 2 bulan, lalu mengambil cuti 2 sampai 3 bulan sebelum ia mencari pekerjaan lainnya. Kondisi ini tidak pernah diungkapkan secara jujur oleh Kara, karena ia takut dengan reaksi orang lain.

Hal tersebut pernah dialaminya ketika Kara memberitahu temannya tentang kondisi yang dialaminya. Temannya berasumsi bahwa Kara menjadi kurang cerdas daripada sebelumnya.

Referensi tentang gegar otak di mana-mana selalu negatif

Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Insung Yoon
Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Insung Yoon

Ternyata, ada alasan di balik pemikiran ini. Jika kamu mencari referensi cedera otak, orang akan melihat gambaran negatif di mana-mana, yang faktanya, gegar otak tidak serta merta menghilangkan kecerdasan seseorang.

Kara tidak tahu apakah ia kehilangan kecerdasannya karena gegar otak. Yang ia tahu adalah ada lebih banyak karakter seseorang daripada menilainya sebatas ujian atau pekerjaan yang dilakukannya.

Ada hal-hal yang disebut welas asih, baik, dan murah hati. Sekitar 9 bulan lalu, Kara menghadiri sebuah pertemuan yang berisi dari beberapa orang, ketika seorang pria menyebutkan bahwa dirinya baru saja meninggalkan pekerjaannya karena cacat.

Tidak ada orang yang memberikan reaksi atau Kara melewatkannya, karena ia terlalu terkejut. Kara kagum pada kepercayaan diri pria tersebut.

Pria tersebut membuat Kara berpikir mengapa ia harus berbohong tentang kondisi dirinya sendiri. Sekarang, saat berada di rumah sepanjang waktu karena pandemi COVID-19, Kara berpikir bahwa jika kelak ada kesempatan untuk menghadiri suatu acara, ia tidak akan menyembunyikan kebenaran tentang kondisinya lagi.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓