Merasakan Luka Sekaligus Cinta di Saat yang Bersamaan Bukanlah Hal Mudah

Endah Wijayanti02 Des 2020, 12:59 WIB
Diperbarui 02 Des 2020, 12:59 WIB
hati yang pernah patah

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Ana Hidayah

Aku memiliki hubungan yang kurang baik dengan ibuku. Selayaknya orangtua zaman dulu, ibu adalah orang yang otoriter dalam mendidik anak. Semua harus kata ibu. Aku tidak memiliki hak untuk memilih jalan hidupku sendiri. Alhasil, aku tumbuh dengan luka, aku tumbuh dengan kurangnya kasih sayang. Hal itu mempengaruhiku dalam memilih pasangan.

Aku menjadi orang yang terlalu berharap dan menyandarkan diri kepada pasangan. Berharap dia dapat memberikan kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah aku dapatkan dari kedua orang tuaku. Padahal, bukan tugas dia sebenarnya untuk menggantikan peran orang tuaku.

Sialnya, ternyata pasanganku pun hidup tanpa kasih sayang orang tua juga. Sehingga dia melakukan hal yang sama terhadapku. Dia berharap aku bisa menjadi sosok ibu yang dia inginkan. Hasilnya, hubungan kami tak bertahan lama. Kami berpisah dan menimbulkan luka baru dalam hidupku. Tidak berhenti sampai di situ, aku kembali menghadapi ibu dengan berbagai otoritasnya. Aku tidak tahan. Aku jadi anak yang pembangkang sejak saat itu.

Namun, bukan berarti aku tidak menyayanginya. Ada satu impian yang selalu aku rencanakan dapat aku lakukan bersama ibu. Aku ingin liburan dengan ibu, menyewa villa di kawasan Ciater, Subang. Kami selalu melewati jalan itu setiap kali hendak ke Bandung sejak aku kuliah dulu. Aku selalu berkeinginan untuk mampir dan menikmati pemandangan indah di sana sambil menikmati pemandian air panas. Namun ibu selalu menganggap itu adalah pemborosan, sehingga kami tidak pernah ke sana.

Aku tahu, sebenarnya ibu pun pasti menyayangiku. Namun dia tidak mengerti bagaimana menunjukkan kasih sayangnya. Entah karena faktor pendidikan, atau karena beliau juga tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua? Karena kudengar, ibuku sudah menjadi yatim piatu sejak usianya masih sangat kecil. Aku tidak bisa membayangkan, orang yang sudah membesarkanku ternyata dia sendiri struggle sejak kecil, hidup menumpang kepada orang lain. Saat keluarga yang ditumpanginya meninggal, dia harus pindah menumpang kepada keluarga lain. Ah, malangnya ibuku.

 

Ibu Tetaplah Orangtuaku

cinta ibu dan pekerjaan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/photographeeeu

Memang tidak nyaman rasanya merasakan luka sekaligus cinta di saat yang bersamaan. Terlebih rasa itu tertuju kepada ibu kita. Di mana dalam budaya kita di Indonesia, tabu untuk membicarakan kesalahan orang tua. Namun luka tetaplah luka.

Seharusnya izinkan saja aku terluka, dengarkan saja keluh kesahku tentang kesalahan ibu dalam mendidikku selama ini. Lalu ajarkan aku bagaimana memaafkannya. Sehingga yang aku rasakan hanyalah cinta, tidak ada luka. Sayangnya tidak seperti itu yang lingkunganku lakukan kepadaku.

Aku dibungkam untuk tidak boleh menceritakan keburukan ibu. Memang benar kita harus punya sopan santun, kita harus menjaga harga diri orang tua kita. Tapi bisakah cukup akui saja bahwa cara dia memperlakukanku itu salah? Akibat pola asuhnya, aku menjadi perempuan yang selemah ini! Aku dihina dan diinjak-injak habis-habisan oleh mantan suami dan mertuaku. Tapi yang ibu lakukan bukannya merangkulku, malah menyalahkanku dan membenarkan mereka. Apakah perempuan harus selalu sehina itu dalam budaya kita? Perempuan yang dituntut harus selalu kuat, dan perempuan juga yang selalu menjadi objek untuk disalahkan dalam konflik rumah tangga.

Ibu memang terlalu cinta dengan budaya kita. Tapi tidak bisakah dia sedikit bersikap manusiawi? Jika rasanya aku sudah tidak sanggup menahan luka ini, bisakah aku dirangkul saja? Jangan terus-terusan menjadikanku kambing hitam atas kegagalan dia mendidik anak, atau kegagalan mantan suamiku memimpin keluarga. Dan di saat aku seterluka itu, ibu malah meninggal.

Bu, kenapa harus pergi secepat itu? Kenapa tidak memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita? Aku juga ingin merasakan liburan bersama denganmu, aku ingin merasakan lembutnya belaian tanganmu, dan hangatnya pelukmu. Kenapa kau pergi sebelum sempat aku merasakan semua itu, Bu?

 

Kata-Kata untuk Ibu

cinta ibu dan kesabaran
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/9nong

Andai aku bisa mengirim surat kepada ibu, aku ingin mengatakan :

“Ibu, aku menyayangimu. Aku terluka olehmu tapi aku juga menyayangimu. Aku sedang menabung untuk mengajakmu liburan ke Ciater kalau ibu mau tahu. Tidakkah ibu merasa iri mendengar cerita teman-teman ibu yang diajak liburan sama anak dan menantunya? Dulu saat aku menjadi istri, aku tidak bisa mengajakmu liburan karena terkendala izin suami. Sekarang, seharusnya tidak ada yang menghalangi kita, Bu. Kenapa malah ibu yang mendirikan sekat untuk menjauh dariku?

Bu, terima kasih telah membesarkanku. Mungkin aku anak yang tidak tahu terima kasih buatmu, karena kau sudah membesarkanku sejauh itu, aku malah menginginkan kasih sayang yang lebih darimu. Aku hanya ingin perhatian, aku hanya ingin pengakuanmu, Bu. Semua orang mengagumi prestasiku, hanya kau yang terus meremehkanku, Bu. Aku juga ingin jadi anak yang dibanggakan. Saat orang lain memujiku karena aku berprestasi, aku juga ingin pujian itu datang darimu. Jangan hanya terus mendorongku untuk mencari laki-laki kaya. Karena aku tidak mau, harga diriku terlalu tinggi untuk diinjak-injak oleh mereka, Bu.

Bu, terima kasih, sudah menunjukkan semua ini kepadaku. Setidaknya aku jadi tahu, model pengasuhan seperti apa yang akan aku terapkan kepada anak-anakku. Saat kecil kau selalu bilang menyesal telah melahirkanku. Dan itu membuatku sangat terluka, Bu. Jadi setelah aku mempunyai anak, aku tidak akan pernah menyesali telah melahirkan mereka.

Saat kecil aku berpikir, andai aku dilahirkan dari rahim yang berbeda, dari orang yang memiliki kasih sayang dan perangai yang lembut, mungkin hidupku akan lebih bahagia. Namun saat ini pun aku mempunyai anak, yang mungkin dia juga tidak pernah berharap terlahir dari rahimku. Dia juga tidak pernah berharap masa kecilnya berantakan seperti ini. Tapi ternyata takdir tidak bisa diubah. Kita hanya bisa menjalaninya.

Anak-anakku tidak bisa memilih siapa ibunya. Maka yang perlu aku lakukan hanyalah menjadi ibu yang terbaik untuk mereka. Aku juga sempat berpikir, Bu, apakah kau sempat memikirkan hal itu sebelum kau mengatakan kepadaku bahwa kau menyesal telah melahirkanku? Namun ternyata, mendidik anak itu memang sangatlah sulit. Sulit untuk memberi tahu kondisi kita kepada anak. Sulit untuk mengajak anak memahami situasi kita. Mungkin itu juga yang kau rasakan kepadaku ya Bu? Maaf, aku tak pernah mengerti apa yang kau inginkan. Seandainya kau pun mengerti posisiku.

Bu, aku iri setiap kali teman-temanku menulis hal yang indah-indah tentang ibu mereka. Terkadang aku sampai muak mendengar cerita mengharu biru tentang perjuangan ibu mereka dalam membantu kesuksesan mereka. Karena setiap kali aku mencari hal baik yang bisa aku banggakan darimu, aku tidak menemukannya, Bu. Bahkan terkadang aku berbohong, seolah-olah kau terlihat baik di mata mereka, tapi yang terngiang di kepalaku hanyalah nasehat-nasehat konyolmu yang sangat materialistis.

Bu, tolong, bantu aku memaafkanmu. Sakit rasanya menyimpan benci kepada orang yang sudah tiada. Tapi bagaimana? Apa yang bisa membuatku memaafkanmu? Sejujurnya ini sulit. Apalagi kematianmu membuatku semakin berada pada posisi sulit. Entah kenapa orang-orang jadi semakin berani menggunjing dan mencaci-maki aku sejak kepergianmu, Bu. Seolah semua orang ingin mengendalikanku. Mereka semua ingin mengurusi hidupku.

Kau tahu aku bukan orang yang seperti itu. Aku bahkan tak suka hidupku kau campuri. Apalagi oleh orang lain! Namun entah kenapa, hal itu malah membuatku semakin merindukanmu, Bu. Setidaknya, seburuk-buruknya perbuatan dan perkataanmu, kau tidak pernah sejahat itu kepadaku. Aku baru tahu kalau orang-orang sejahat itu tanpamu. Ternyata kebaikan mereka kepadaku hanya karenamu. Entah karena mereka takut, atau menghormatimu. Aku bahkan tidak tahu, siapa yang bisa aku percaya. Aku tidak percaya kepada siapa pun, bahkan kepada saudara kandungku.

Bu... tolong aku. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Mungkin aku hanya merasa kesepian. Aku seharusnya mengajakmu jalan-jalan, tapi kau malah pergi.

Ah... aku menyadari sesuatu. Ternyata aku tak perlu alasan apa pun untuk memaafkanmu. Karena cinta orang tua dan anak adalah cinta yang murni. Dia tak butuh alasan apa pun untuk mencintai. Seburuk apa pun orang tuanya, atau anaknya, orang tua dan anak tetaplah akan saling mencintai. Aku sempat memaksakan diriku untuk menyukainya karena dia sudah melahirkanku, membesarkanku, dan menyusuiku. Ternyata tidak, aku tidak perlu alasan itu semua. Aku tetap mencintainya meski tanpa semua itu. Karena ikatan batin kita bersatu. Aku tetap mencintainya seburuk apa pun dia. Mungkin begitu juga dengannya. Dia tetap menyayangiku meski seburuk apa pun aku. Ah... kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu?

Andai saja aku menyadarinya lebih awal, aku tentu bisa memprioritaskan siapa yang pantas untuk aku cintai. Aku tidak perlu memberikan cintaku kepada laki-laki asing yang hanya bisa menyakitiku. Aku seharusnya tahu, bahwa seburuk apa pun orang tuaku, mereka jauh lebih pantas mendapatkan cinta dariku.

Orang tua, anak, bahkan saudara-saudaraku yang terkadang aku tidak percaya padanya lebih berhak untuk aku cintai daripada orang lain. Ya, bagaimana pun ikatan darah jauh lebih kental daripada air. Dan lebih dari itu semua, yang paling pantas mendapatkan cinta kita adalah diri kita sendiri. Andai aku lebih mencintai diri sendiri dari dulu, mungkin aku tidak akan sehancur ini.

Tapi, tidak ada yang terlambat untuk memperbaiki semuanya. Aku berjanji, aku akan hidup dengan baik, demi ibuku. Maafkan aku yang selama ini sudah menyia-nyiakan hidup untuk seseorang yang tidak pernah mengharapkan kebahagiaanku. Kini aku akan memprioritaskan kebahagiaan aku dan anak-anakku, Bu. Aku tidak akan mempedulikan mereka yang melihatku bahagia, Bu. Mereka tidak berhak menghancurkan hidup dan mimpiku. Tidak akan lagi.

Anyway, Bu, aku menyayangimu. Semoga kau pun bahagia di sana. Semoga kau kembali berkumpul dengan Bapak, melepas rindumu yang selama ini kau simpan sendiri. Aku akan selalu berdoa untuk kalian.”

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓