Solo Traveling Sembuhkan Depresi Perempuan Ini akibat Pengalaman Seumur Hidup Hadapi Rasisme di Negaranya Sendiri

Annissa Wulan02 Des 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 02 Des 2020, 16:00 WIB
Diane Wesh

Fimela.com, Jakarta Dalam biografi Bell Hooks tahun 1995 berjudul "Killing Rage: Ending Racism," ia membuat klaim yang tak terbantahkan, menyatakan bahwa semua orang berkulit hitam di Amerika, terlepas dari kelas, status, atau politiknya, hidup dengan kemungkinan diteror oleh orang berkulit putih. Saat masih anak-anak, Diane Wesh sudah mengalami teror rasisme.

Tidak ada yang bisa melindunginya dari rasisme, hingga ketika Diane menginjak usia dewasa, ia kelelahan. Menjadi orang berkulit hitam di Amerika mempengaruhi tingkat stresnya.

Diane sangat memperhatikan gerak geriknya sendiri, tidak memasukkan tangannya ke dalam saku ketika berada di luar rumah, tidak memakai hoodie, tidak jooging di siang maupun malam hari, tidak masuk ke dalam toko secara berkelompok, membuat kontak mata, selalu tersenyum, selalu sopan, tidak pulang larut malam, dan kembali ke rumah hidup-hidup. Tidak hanya kehidupan sehari-hari, Diane juga menghadapi rasisme di tempatnya bekerja.

Di tahun 2016, Diane bekerja sebagai karyawan di City of Virginia Beach. Setiap hari, Diane dan temannya mengalami pelecehan rasial, mulai dari ditolak promosi, hingga serangan pelecehan verbal yang bermuatan rasial.

Diane lelah dengan semua ketidakadilan ini, sempat menuntut penyelidikan internal mengenai struktur rasis di tempat kerja, namun lingkungannya justru memaksanya untuk keluar. Pada Mei 2017, menggunakan sisa uangnya, Diane memesan tiket sekali jalan ke Eropa.

Ia membutuhkan istirahat dari teror rasisme, walaupun hanya sesaat, di manapun lebih baik daripada berada di Amerika. Ketika berada di pesawat, Diane baru menyadari bahwa itu adalah pertama kalinya ia melakukan solo traveling.

 

 

Pengalaman solo traveling pertama yang dilakukan oleh Diane

Diane Wesh
Diane Wesh. Sumber foto: Document/Diane Wesh.

Ia merasa khawatir dan menangis. Perhentian pertamanya adalah Dublin, Irlandia.

Diane membawa 2 ransel, yang satu tersampir di punggung, yang lainnya ia bawa di depan. Lama kelamaan, ia mulai menikmati perjalanannya, bebas menjelajahi jalanan Dublin, berteman dengan penduduk setempat, dan berpesta di malam hari dengan orang asing.

Setelah Irlandia, Diane melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah, yaitu Istanbul dan Turki. Dari Turki, ia ke Athena dan Santorini, Yunani, di mana ia menghabiskan hari-harinya dengan menjelajahi Acropolis, berlayar di sepanjang Laut Aegea, menunggang kuda, dan menikmati masakan Mediterania.

Meskipun rasisme juga ada di negara-negara itu, Diane hanya mengalami beberapa tatapan penasaran dan orang-orang yang ingin berfoto dengannya. Berbeda dengan yang dialaminya di Amerika, Diane selalu merasa ketakutan akan kekerasan, kemarahan terhadap supremasi kulit putih yang mendarah daging dalam sejarah dan strukturnya, serta kelelahan untuk menjadi seseorang yang selalu tangguh.

Ketika Diane kembali bekerja, semuanya sama, namun ia telah berubah. Pengalaman solo travelingnya memberikan Diane tingkat keberanian yang berbeda, kepercayaan diri, dan kekuatan baru.

Ia tidak lagi membiarkan dirinya menjadi korban, justru menginvestasikan energinya untuk memetakan rencana perjalanan, impian, dan harapannya yang baru. Di bulan Juli 2017, penyelidikan internal selesai, Diane mendapati bahwa laporannya atas pelecehan rasial di tempat kerja terbukti benar.

Diane memutuskan meninggalkan Amerika

Diane Wesh
Diane Wesh. Sumber foto: Document/Diane Wesh.

Berdasarkan bukti yang ditemukan, Diane memutuskan untuk berhenti dari lingkungan kerjanya yang rasis. Sayangnya, itu justru membuat Diane depresi, mengalami episode kecemasan, serangan panik, dan trauma yang berusaha ditekan.

Di saat dirinya putus asa, Diane memutuskan untuk melakukan solo traveling selama 4 tahun. Ia menghabiskan 2 tahun pertama berpergian ke Amerika, mulai dari tinggal di Alaska, ke Arizona, ke Colorado, dan negara bagian lainnya.

Diane mondar mandir mengerjakan pekerjaan musiman, sampai akhirnya ia mendapatkan visa liburan kerja di Selandia Baru. Di bulan Oktober 2019, Diane akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada orangtua dan negara rasisnya.

Sebelum ke Selandia Baru, Diane menghabiskan 1 bulan pergi ke berbagai negara di Asia, menikmati "Eat Pray Love" versinya sendiri. Ia pergi ke Vietnam dan Indonesia.

Hal terpenting yang didapatkan Diane saat melakukan solo traveling adalah ia dapat mendekolonisasi pikirannya sendiri, memisahkan diri dari kepercayaan supremasi kulit putih Amerika, dan mengalami kehidupan yang lebih baik. Diane akhirnya pindah ke Auckland, Selandia Baru.

Solo traveling membantu Diane melepaskan diri dari kejadian traumatis dan menemukan dunia yang baru. Pengalaman ini memberinya ruang bernapas untuk menyembuhkan dan mengangkat diri sendiri.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓