Jadi Perempuan Harus Bisa Bekerja Sendiri agar Tak Diremehkan Orang Lain

Endah Wijayanti07 Des 2020, 07:50 WIB
Diperbarui 07 Des 2020, 07:50 WIB
cinta ibu dan bekerja sendiri

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: D

Ibu adalah sosok malaikat yang diturunkan Tuhan ke bumi ini, dengan hati yang tulus beliau merawat kami, tak peduli sebesar apa pun kesulitan beliau dalam merawat kami, beliau tetap menjaga kami dengan tulus sepenuh hati, menjalani hidup tanpa didampingi sosok suami disampingnya, bukan cerai, melainkan ditinggal merantau ke negeri tetangga.

Walaupun bekerja di luar negeri sekalipun ayah tidak pernah membiayai hidup kami sama sekali, bahkan tanpa kabar sedikit pun, dan terlebih lagi ibuku harus tinggal bersama mertua yang tidak merestui hubungan mereka, dengan alasan latar belakang ibuku yang bukan dari keluarga berkecukpan dan berpendidikan.

Segala sesuatu yang dilakukan ibuku selalu salah di mata mereka, segala cara mereka lakukan untuk bisa menjatuhkan nama ibuku, mulai dari membicarakan kebiasaan buruk ibuku yang bahkan tidak benar sama sekali sampai menyebarkan rumor kepada tetangga bahwa ibuku bekerja sebagai PSK, yang tak terbukti kebenarannya, membuat semua orang makin membenci ibuku.

Ibuku harus membanting tulang demi mencukupi kebutuhanku, membiayai sekolahku seorang diri, pekerjaan apapun beliau jalani, mulai dari bekerja di pabrik, berdagang di pasar, sampai jasa memasak di acara besar. Ketika beliau pulang membawa sekantung jajanan dari acara tersebut dengan tangan yang penuh luka sayatan karena seharian mengupas nanas membuatku tidak tega melihatnya, lalu kubawakan kotak obat dan mulai mengobati luka di telapak tangannya. 

 

Pesan Ibu

cinta ibu dan pekerjaan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/photographeeeu

Hampir seluruh telapak tangannya tertutup perban, sambil aku mengobati luka di telapak tangannya beliau berkata, “Nduk, kue kudu sekolah sing tememen, ben orak dienyek uwong, wong wedok kudu iso kerjo dewe ben orak di edak-edak wong lanang, angkat derajate wong tuomu, sing ngeniki wes tak lakoni ojo sampek kue koyok Ibu.”

Artinya, “Nak, kamu harus belajar yang rajin, agar tidak diremehkan orang lain, perempuan itu harus bisa bekerja sendiri, biar tidak diinjak-injak laki-Laki, angkat derajat orang tua kamu, yang begini biar tak jalani, jangan sampai kamu kayak Ibu.” Mendengar nasihat ibu aku hanya menatap ibu dengan senyuman polos dan berkata, “Enjih, Bu.” Artinya, “Iya, Bu," sambil menahan air mata agar ibu tidak khawatir.

Keadaan ekonomi keluarga kami saat itu bisa dibilang sangat memprihatinkan, kami hanya bisa makan hari demi hari, nasi dengan garam pun menjadi menu utama kami kala itu. Sampai suatu hari pada tahun 2006 ibuku pulang ke kota asalnya, menggandeng aku yang masih berumur 5 tahun kala itu dengan tas ransel besar berisikan pakaian kami berdua. Mendengar kabar itu untuk pertama kalinya ayahku yang berada di luar negeri pulang ke kampung halaman dan membujuk ibuku agar mau kembali pulang bersamanya, tidak ada pilihan lain bagi ibuku. Beliau tidak mau anaknya memiliki kenangan buruk tentang Orang tuanya.

Tak sampai disitu, dua minggu kemudian, ketika keadaan mulai membaik, ibuku tertangkap basah sedang bertukar pesan lewat handphone dengan laki-laki lain. Sontak ibuku dibuat habis oleh ayahku yang marah besar. Aku harus mendengar isak tangis ibuku kesakitan karena dipukul dengan batang besi. Perceraian hampir terjadi, tak tega melihatku yang masih kecil harus menghadapi perceraian orang tua, ibuku mulai terbuka mengungkapkan kekesalannya atas perlakuan ayahku selama ini, mereka pun akhirnya mulai menyadari kesalahan masing-masing dan saling memaafkan.

Berkat kesabaran dari ibuku, hari demi hari ayahku mulai berubah, mulai dari selalu mengabari kami dan menafkahi kami. Ibuku tidak pernah menuntut lebih, bagi beliau setidaknya dia masih ingat anaknya. Keadaan makin membaik saat adikku lahir. Apa pun kebutuhan anaknya selalu menjadi prioritas utama untuknya, dan baiknya lagi, ayah mulai sering mengajakku bicara.

Pesan yang ingin aku sampaikan pada ibu adalah, “Bu, aku akan menjadi apa yang Ibu inginkan, doamu selalu menyertaiku. Aku bahagia punya Ibu yang hebat di sisiku. Aku sayang Ibu.”

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓