Mama adalah Kekuatanku untuk Bertahan dari Setiap Badai Hidup yang Menerpa

Endah Wijayanti07 Des 2020, 09:45 WIB
Diperbarui 07 Des 2020, 10:49 WIB
cinta ibu dan harapan hidup

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Dian Fibry

Mama, satu kata yang tak bisa aku mendeskripsikannya. Satu sosok yang tak akan pernah sanggup aku membalas semua pengorbanannya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengasuh dan merawatku hingga dewasa. Menghabiskan sisa umurnya hanya untuk membuat dan melihatku bahagia. Betapa pun aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Tak bisa selalu di sampingnya. Membelanya dari kezaliman dan fitnah orang lain, mengurangi beban di pundaknya, meringankan setiap masalah yang menghampirinya bahkan menyeka setiap tetes air mata yang mengalir di pipinya.

Bangga aku terlahir dari rahim seorang wanita kuat, tegar, dan sabar sepertinya. Dibesarkannya hingga dewasa dengan kasih sayang dan cinta. Melalui tahapan hidup dan ujian yang tak mudah, hingga takdir membawaku pada titik terendah. “Allah, jangan sekarang. Aku mohon, jangan sekarang. Aku masih mau di sini meraih dan melakukan banyak hal, aku mau bahagiain Mama,” satu kalimat yang selalu kuucapkan dalam hati setiap kali aku dilarikan ke IGD.

“Mama. Mama,” panggilku dalam hati sambil terisak di dalam ruang operasi. Percaya atau tidak, mama mendengarnya. Ya, ikatan batin antara ibu dan anak. Mama selalu menggenggam erat tanganku, membisikkan doa dan kekuatannya untukku. Dia selalu ada menemani di saat aku merasa sepi, sendiri, lemah, tak berguna dan tak berdaya. Maka aku selalu merasa cukup karena aku tahu, aku punya Allah dan mama yang selalu ada. Sosok mama yang membuatku tetap merasa lengkap meski 10 tahun sudah papa pergi ke sisi-Nya.

Mama Sumber Kekuatanku

cinta ibu dan kenangan bersamanya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/witthayap

Ketika mereka bisa berlari, aku hanya bisa berjalan. Ketika mereka bisa mendaki tinggi, aku tertatih menggapai puncak. Hingga aku berada di satu titik, menyadari satu hal yang kurang dari semua yang sudah kulakukan. Menerima. Aku bangkit dan membuka jendela. Membiarkan hangat cahaya matahari menerangi gelap hariku yang tertutup oleh ketakutan dan kecemasan. Bahkan kubuka pintu dan membiarkan sejuk angin harapan meyapaku. Harapan yang akan selalu ada ketika kita percaya.

Mama adalah alasanku bertahan untuk setiap badai yang menerpa. Mama layaknya kekuatan yang selalu menopang lemahnya jiwa. Mama adalah representasi kesabaran yang sesungguhnya. Mama mengajarkan arti menerima atas segala ketetapan-Nya. Saat gelap dan dingin pernah berkali-kali menyapa, hanya ada dua nama yang selalu bertahta yaitu Allah dan mama yang selalu ada.

Bagaimana mereka menjalaninya sementara ku belum bisa mempersembahkannya. Tentang sebuah kata “bahagia”, penyiratan makna yang mengharuskan manusia merasa. Tak apa kata mama, semua akan baik-baik saja. Belajarlah untuk tidak berlomba dengan waktu dan manusia lainnya. Belajarlah untuk tidak berlomba dengan kebahagiaan mereka karena hati yang selalu bersyukurlah yang menjadikan kita bahagia. Terima kasih mama untuk segala cinta, pengorbanan dan perjuanganmu yang luar biasa.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓