Meski Orang Tercinta Tak Lagi Ada di Sisi, Hidup Tetap Perlu Dijalani Sepenuh Hati

Endah Wijayanti09 Des 2020, 14:15 WIB
Diperbarui 09 Des 2020, 14:15 WIB
berdamai introver

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Nilawati Kurdiansyah

Dear Mama,

Kalau ada orang yang bilang, “Mama is another word for love," itu bener banget. Mama itu ibarat rumah yang hangat isinya penuh dengan cinta. Cinta, cinta, dan cinta. Rumah yang akan selalu dirindukan. Rumah yang akan selalu jadi tempat untuk pulang sejauh apa pun pergi. Rumah yang akan selalu membuat diri ini nyaman dengan segala kekurangan yang dimiliki. Rumah yang selalu nyaman dan aman untuk beristirahat dari segala macam kegaduhan dan kepenatan yang terjadi di hidup ini. Rumah yang tak akan pernah tergantikan.

Kalau ada syair lagu yang bilang, “Kasih Ibu Tak Terhingga Sepanjang Masa” itu pun juga benar sekali. Sungguh luar biasa Tuhan menciptakan sesosok makhluk yang punya hati sangat luas dan memiliki sabar yang tak berbatas. Tak hanya puluhan kali, mungkin ratusan, ribuan atau mungkin jutaan kali diri ini membuat kesalahan yang melukai hati mama, namun selalu ada maaf dan ampunan dari mama.

Entah berapa kali, tak sanggup dihitung lagi, diri ini menguji kesabaran mama. Puluhan tahun tetap saja mama selalu penuh dengan kehangatan cinta. Entah seberapa banyak kasih yang mama punya hingga seolah tak ada habisnya, tak ada ujungnya cinta kasih yang mama beri. Berapa banyak pun anak mama, seberapa tua pun kami anak-anak mama, kami semua selalu tetap dapat merasakan kasih sayang dari mama. Tak ada henti. Tak ada batasnya. Cinta kasih mama terlalu besar, terlalu luas.

Kalau ada dari mereka yang bilang bahwa mama adalah soulmate mereka, mungkin aku juga sama. Mama itu belahan dari jiwaku. Tiang dari hidupku. Poros dari duniaku. Mama adalah setengah dari kehidupanku. Dari lahir hingga tumbuh dewasa, mama selalu saja dengan setia menemaniku. Mendampingiku dan membimbingku dalam menjalani hidup. Mama tak pernah keberatan untuk menjadi tongkat ketika aku sedang mencoba melangkah, ketika aku terjatuh dan harus bangkit lagi. Selalu ada uluran tangan mama yang membuat aku merasa bahwa aku tak pernah sendiri. Selalu ada pelukan yang membuatku merasa, “If you’re not okay, it’s okay." Hidup akan terus berjalan maju. Mama akan selalu ada di sampingku.

Ma, aku sangat merindukanmu.

Andai surat ini sampai ke surga, aku ingin bercerita banyak hal ke mama. Aku ingin sekali bercerita tentang bagaimana aku harus tetap bertahan dan melangkah maju tanpa mama. Aku ingin sekali bercerita tentang bagaimana runtuhnya duniaku ketika poros dari hidup ku harus pergi. Hidupku up and down, Ma.

Otakku masih tak mampu menerima tentang kepergian mama. Lalu akhirnya aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. Kematian memang tak selamanya harus diterima oleh otak. Kuasa Tuhan memang di luar kemampuan otak kita. Bukankah kematian bagian dari janji kita kepada Tuhan?

Dadaku masih saja terasa sesak ketika mengingat hari-hari terakhir mama di rumah sakit. Ketika aku harus berlari dari depan rumah sakit ke ruang inap mama dengan tangan berlumur nasi yang saat itu aku sedang dipaksa makan agar tidak ikutan sakit. Saat suapan ketiga, handphoneku berbunyi dengan suara kakak menangis dan menyuruhku cepat kembali ke ruangan. Aku berlari terseok-seok. Aku tak sanggup berlari lagi. Aku berlari sambil menangis. Aku berharap mama tidak pergi.

Aku Akan Berusaha Menjalani Semuanya dengan Lebih Kuat

cinta ibu dan serbabisa
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/szefei

Ma, ada begitu banyak penyesalan dari diri ini yang belum disampaikan. Ada begitu banyak dosa yang belum sempat diri ini minta ampunannya dari mama. Anakmu ini belum bisa memberikan apa-apa untuk mama. Apalagi memberikan yang terbaik.

Sering kali aku bertanya kepada Tuhan. Mengapa mama harus Tuhan jemput secepat ini? Mengapa Tuhan tidak memberikan banyak waktu agar diri ini memiliki banyak kesempatan untuk membuat mama bahagia? Ada begitu banyak pertanyaan yang rasanya ingin sekali aku tanyakan kepada Tuhan.

Apa yang aku gapai sekarang seolah tiada berarti. Kebahagiaan, kesuksesaan yang aku gapai sekarang rasanya tak memiliki arti. Tetap terasa sepi. Kebahagiaan yang aku dapat selalu saja ingin kubagi kepadamu, Ma. Aku selalu ingin menceritakan segalanya kepada mama. Pedih rasanya ketika kebahagiaan ini hanya dinikmati sendiri tanpa dibagi kepada orang yang paling kita sayangi. Bahagiaku selalu berujung pada rasa perih pedih yang ada di hati. Bahagiaku selalu berujung pada air mata yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi. Bahagiaku tak berarti tanpa mama.

Maafkan aku, Ma. Anakmu ini masih sering saja berandai-andai mama ada di sini. Pengandaian yang berujung pada luka di hati.

Aku merindukanmu, Ma. Aku tak mampu menahan air mataku ketika mengingatmu. Bahkan ketika hanya menuliskan surat ini.

Semoga kelak kita bertemu lagi, Ma. Baik-baik di sana ya, Ma. Jangan khawatir. Anakmu ini mungkin sekarang sedang tidak baik-baik saja. Namun percayalah, anakmu ini akan baik-baik saja. Anakmu akan tumbuh kuat dan penuh cinta seperti mama.

Aku menyayangimu, Ma. Jika kelak ada kehidupan baru lagi, aku tetap ingin selalu menjadi anakmu. I love you, Ma. Always.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓