Walau Keyakinan Kita Kini Berbeda, Mama Tetap Menemaniku dalam Doa

Endah Wijayanti10 Des 2020, 11:35 WIB
Diperbarui 10 Des 2020, 11:35 WIB
cinta ibu dan keyakinan berbeda

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  I Gusti Ayu Nyoman Sawitri

Menjadi ibu muda, dengan pendidikan yang tidak tinggi, dengan ekonomi yang masih pas-pasan membuat mama menjadi sosok yang keras. Mama harus bertahan, membangun rumah tangga, merawat empat orang anak dan memastikan mereka tumbuh dengan baik sehingga bisa menjejak tangguh di atas kaki sendiri.

Di waktu kecilku, dengan pikiran anak-anakku yang sederhana, aku hanya tahu bahwa mama marah karena tak sayang. Ah kalau aku ingat jadi malu sendiri. Semua kemarahan mama ada sebabnya, mama marah justru karena sayang walau kadang juga hanya karena pelampiasan lelahmu, kepenatan pikiranmu, atau perasaanmu yang sedang kacau.

Kini aku mengerti itu mama. Mengerti bahwa setiap hela napasmu hanyalah demi kebahagiaan anak-anak dan keluargamu. Mengerti bahwa mama hanya manusia biasa yang kadang salah. Mama memang bukan manusia super tapi mama adalah sosok teristimewa, terkuat dan terhebat bagiku.

Ibu Tetap Ada di Sisiku

cinta ibu dan anak sulung
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Aku masih ingat bagaimana waktu itu, waktu aku memilih jalan yang berbeda. Dengan keras kepala kupalingkan wajah dan memilih pergi dengan orang yang kucintai. Tetapi mama tetap menemani dalam doa sehingga meringankan langkahku. Walau keyakinan kita kini berbeda mama tetap menerima. Mama mencari, memeluk, dan memastikan jalan yang aku pilih adalah yang terbaik.

Bahkan di saat terberatmu, mama selalu menguatkanku. Aku tahu tidak ada yang lebih sedih kehilangan bapak selain mama. Mama harus kehilangan sosok bapak yang selalu menemani hari-hari mama selama puluhan tahun tetapi mama tetap tegar. Mama menangis tapi tetap memeluk dan meyakinkanku bahwa ini sudah jalannya. Bahwa bapak sudah terlalu sakit sehingga kematian mungkin yang terbaik.

Pelukan mama selalu ada, hangat, sehangat mentari pagi. Tiada kata yang bisa terucap selain aku mencintaimu mama. Terima kasih sudah menjadi ibu yang sempurna.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓