Ibu, Terima Kasih Memberiku Senyuman meski Aku Masih Sering jadi Beban

Endah Wijayanti11 Des 2020, 07:15 WIB
Diperbarui 11 Des 2020, 09:48 WIB
cinta ibu dan tanpa beban

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Dewi Lestari

Dear Ibu,

Aku mengenal seorang wanita yang serbabisa, multitalenta tanpa harus berpendidikan tinggi, dan selalu memberikan yang terbaik agar aku tetap tersenyum. Dia yang selalu aku panggil “ibu”.

Aku adalah seorang anak perempuan pertama tapi bukan anak yang pertama engkau lahirkan. Kurang lebih sembilan bulan aku berada dalam rahimmu yang hangat, penuh kasih sayang. Meskipun aku belum pernah berada di posisimu, tapi aku yakin tidaklah mudah berjalan, tidur, dan melakukan berbagai aktivitas dengan menggendongku di perutmu.

Ibu, meskipun di keadaan yang serba kekurangan, tak henti-hentinya engkau selalu berikan yang terbaik untukku. Engkau menyisakan makanan kesukaanku, tidak boleh bapak mengambilnya, engkau persembahkan hanya untukku, padahal aku sering meminta yang aneh-aneh. Sepulang dirimu dari suatu tempat yang engkau singgahi, engkau upayakan membawa oleh-oleh yang tak engkau makan selama perjalanan. Misalnya, nasi kotak/snack dari pengajian yang rutin engkau ikuti. Tidak nampak ada sisa/bungkus kosong makanan di dalamnya. Engkau baru makan ketika aku, adik, dan bapak memilih snack pilihannya masing-masing.

Perempuan Hebatku

surat perempuan hebat
Untuk perempuan hebat./Copyright Dewi Lestari

Bidadari yang pertama dikenalkan Tuhan kepadaku di dunia ini adalah ibu. Seorang srikandi juga. Memiliki keahlian berburu di dalam keramaian pasar. Menjajakan dagangannya, membantu bapak mencukupi kebutuhan keluarga. Jika dihitung-hitung aku berhutang terlalu banyak kepadamu ibu. Tapi, dirimu tidak pernah menganggapku sebagai beban, dirimu selalu berikan senyuman meskipun menahan perih.

Aku juga terkadang tidak paham rasa perih yang bagaimana engkau rasakan. Maafkan aku ibu, karena sering tidak peka melihatmu dalam kesusahan. Karena selalu engkau sisipi dengan senyuman.

Maafkan aku ibu, belum bisa berbakti sepenuhnya untukmu. Padahal dirimu selalu memberikan sepenuhnya untukku. Tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan cinta, dan kasih sayangku untukmu, ibu. Tapi, melalui tulisan ini aku mencoba menggambarkan dirimu dalam untaian kata. Seorang guru pertama untukku, seorang teman pertama untukku. Dirimulah yang pertama untukku, ibu. Terima kasih untuk semuanya.

Tuhan, aku mohon kepada-Mu, meskipun dalam tulisan yang berantakan ini, aku sisipkan doa untuk ibuku. Semoga yang ibu “semogakan” dalam sujudnya tengah malam, maupun dalam keadaan kedua tangan mengadah memohon kepada-Mu, tolong, tolong kabulkan, Ya Rabb.

Sehat dan bahagia selalu, ibu. Dalam setiap hembusan napasku, aku akan selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk ibu.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓