Kadang Saat Kita Makin Dewasa, Kita Makin Merasa Tak Butuh Siapa pun

Endah Wijayanti11 Des 2020, 12:15 WIB
Diperbarui 11 Des 2020, 12:15 WIB
ada yang menggosipkan

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Larasaty Aprillia

Hai Ma, apa kabar? Apa Mama bahagia? Ma, kita liburan bareng yuk! Sepertinya pertanyaan itu sudah lama tak lagi kulontarkan, bahkan aku lupa kapan terakhir kali kutanyakan. Entah, seberapa egoisnya aku selama ini terhadap Mama. Jangankan menghabiskan waktu berdua, untuk sekadar bertanya kabar saja aku sering lupa. Padahal Mama selalu bertanya hal-hal kecil seperti kapan aku pulang? Apakah aku sudah makan? 

Ya, aku terlalu egois. Semakin aku dewasa, semakin aku merasa tidak memerlukan siapa pun. Aku bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan. Tapi nyatanya aku tidak sehebat Mama. Untuk mengurus diri sendiri saja aku sudah kewalahan dan bahkan kehabisan waktu. Tak sebanding dengan dirimu, yang mampu menangani semuanya dan masih punya waktu untuk sekdar menanyakan kebutuhanku.

Apakah Mama Bahagia?

cinta ibu dan keyakinan berbeda
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GBALLGIGGS

Aku yang selalu berpikir bahwa membelikanmu ini dan itu akan membahagiakanmu. Namun dengan tulusmu menanyakan apakah masih ada cukup uang untuk diriku. Padahal aku sering kali bersenang-senang dengan diriku tanpa sedikit pun mengingatku. Mama selalu mendahulukan aku untuk apa pun walaupun sekadar kue kecil dari pengajian. Sengaja kau tak makan karena ingat itu adalah kue kesukaanku. Sebaliknya aku? Bahkan ulang tahun Mama saja sering terlewat. 

Ma, aku banyak melewatkan waktu hanya untuk diriku sendiri. Tanpa sadar, sekarang rambut mama sudah hampir semuanya memutih. Ma, mereka bilang aku hebat karena menyelesaikan studiku, mendapat pekerjaan baru, beli ini dan itu. Mereka salah besar, Mamalah orang yang hebat itu. Mama yang mengantarkan aku sampai aku mampu melakukan ini dan itu. Mama memperjuangkan segalanya untukku.

Ma, Mama tak pernah memuji keberhasilanku, tapi kau selipkan namaku dalam tiap sujud akhirmu.

Ma, mama selalu terlihat marah-marah, tapi mamalah orang yang setia menungguku dipintu rumah.

Ma, maafkan aku yang selalu egois atas waktuku yang seolah tipis. Maafkan aku yang selalu lupa, membalas pesanmu yang muncul di halaman utama. Maafkan aku yang tak pernah lagi bertanya, "Apakah mama bahagia?"

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓