Momen Aku Berubah Menjadi Persis seperti Mamaku

Endah Wijayanti12 Des 2020, 08:01 WIB
Diperbarui 12 Des 2020, 08:01 WIB
cinta ibu dan kemiripan

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Marantina

Dear Mama, 

Ketika aku masih belum dewasa dan sangat naif, mama pernah jadi musuh nomor satuku. Malu sebenarnya aku mengakui hal ini pada mama. Dahulu, rasanya semua yang aku suka selalu mama tentang habis-habisan. Mama juga sering sekali menyuruhku melakukan hal-hal yang aku benci.

Tidak ada lagi yang bisa disalahkan di sini. Toh semuanya sudah berlalu. Kita hanya bisa belajar dari apa yang sudah kita lewati.

Aku harus minta maaf karena pernah membenci mama. Saat mama mengingatkanku untuk belajar pelajaran sekolah, aku malas minta ampun. Ketika mama menyuruhku belajar memasak, aku sangat enggan. Waktu mama minta aku membereskan rumah, aku selalu punya alasan. 

Jujur saja, dulu aku pernah berusaha mati-matian untuk tidak menjadi seperti mama. Aku tidak mau jadi mama yang terlalu tegas dan bawel yang sering mengingatkan anak untuk mengerjakan semua tugasnya. Tadinya aku tidak mau jadi mama yang “nggak asyik” yang terus-terusan menuntut anak untuk menjadi orang yang baik dan bertanggung jawab.

Pokoknya, dulu, aku sangat tidak mau menjadi orang seperti mama. Aku bahkan mengubah gayaku berpakaian, caraku berbicara dan berjalan, serta mengambil jurusan yang bertentangan dengan jurusan kedokteran yang mama tekuni. Semua itu karena aku tidak mau seperti mama.

 

Merasa Seperti Mama

dengan ibu
Dengan ibu./Copyright Marantina

Sekarang kita sama, Mama!

Yang kusadari sekarang adalah mama selama ini jadi fasilitatorku untuk belajar. Mama ingin aku belajar kecewa. Mama berharap aku tumbuh jadi orang yang mau berjuang. Mama membentukku jadi orang yang disiplin dan bisa bertanggung jawab. Mama ingin aku belajar menjadi pribadi yang dewasa.

Kenapa aku bisa sadar? Klise memang. Aku baru sadar betapa berharganya “pelajaran” yang mama beri setelah aku punya anak. Di saat aku pun melahirkan seorang manusia ke dunia ini, aku sadar bahwa aku punya tanggung jawab besar terhadap anak ini. Aku pun ingin jadi fasilitator belajar untuk anakku. Aku pun ingin anakku jadi manusia dewasa. Sama seperti apa yang mama inginkan terhadapku dahulu.

Namun, semua tegas, bawel, dan “nggak asyik” itu memang dibutuhkan. Mama bagaikan seorang guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan padaku sebagai muridmu. Dan sekarang setelah aku pun menjadi seorang mama, aku sadar bahwa aku berubah persis menjadi seperti kamu, Ma.

Betapa bangganya aku karena bisa lulus dari sekolah kehidupan yang selama ini mama dirikan, ketika mama bilang, “Anak kamu pintar ya, pasti karena kamu nih yang ajari.” Sungguh, Ma, tidak ada pengakuan yang lebih berharga ketimbang ucapanmu. 

Aku bersyukur karena mama sudah jadi guru terbaik yang aku punya. Kini, seperti mama dulu, biarkan aku pun jadi guru untuk anakku. 

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓