Merindukan Serumah dengan Ibu

Endah Wijayanti12 Des 2020, 08:35 WIB
Diperbarui 12 Des 2020, 09:16 WIB
sulit memaafkan

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Alfachip

Aku adalah seorang anak yang merindukan tinggal serumah dengan ibuku. Sejak SMP aku sudah terpisah jauh oleh ibuku, karena aku harus melanjutkan sekolahku di pesantren yang berbeda kota dengan ibuku. Pesantrenku di Jakarta dan jarak dari sekolahku ke rumah ibuku bisa dilewati sekitar 16 jam dengan kendaraan mobil.

Selama 6 tahun aku di pesantren hanya 1 tahun sekali aku bertemu ibuku. Setelah lulus pun aku kuliah di Jakarta dan tinggal di rumah di Jakarta. Walau kami punya rumah di Jakarta aku tidak tinggal serumah dengan orangtuaku karena bisnis orangtuaku di kota lain dan mereka tinggal di sana. 

Maaf dan Terima Kasih

cinta ibu dan harapan hidup
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KomootP

Selama aku kuliah setiap ibuku ke Jakarta aku selalu bolos kuliah untuk bisa menemani ibuku dan jalan bersamanya. Teman belanjaku ya ibuku, teman bicaraku ya ibuku, aku selalu cerita apa pun ke ibuku.

Buatku ibu segalanya untukku. Ibu selalu ada di saat aku senang dan sedih, tidak pernah meminta apa pun padaku. Dia selalu di pihakku walau dia memarahiku karena kesalahanku dia tetap selalu mendampingiku.

Aku selalu iri dengan orang-orang yang bisa tinggal serumah dengan ibunya, bisa makan masakan ibunya setiap hari, bisa berada di dekat ibunya setiap hari. Dan walau ceritaku terlihat sangat manis dengan ibuku, dulu pun aku sering bertengkar dan berbeda pendapat dengan ibuku. Aku pun sama seperti anak lainnya yang menganggap nasihat ibuku adalah hal yang bawel dan tidak bisa kuterima. Aku mengalami banyak proses untuk akhirnya bisa menerima nasihat ibuku dan menyadari bahwa ibuku hanya takut aku salah jalan, dan itu sangat wajar karena ibuku pasti sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya.

Yang ingin aku ucapkan kepada ibuku adalah maaf belum bisa membahagiakanmu dan terima kasih sudah melahirkanku. Jika aku dilahirkan kembali aku akan tetap memilih beliau sebagai ibuku.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓