Berkarier atau Tidak, Seorang Perempuan Perlu Berpendidikan Tinggi

Endah Wijayanti12 Des 2020, 10:45 WIB
Diperbarui 12 Des 2020, 11:21 WIB
perempuan milenal

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Mia Yusnita

Ibu pernah berkata padaku, entah mau jadi wanita karier atau ibu rumah tangga seorang wanita harus berpendidikan tinggi, agar bisa melahirkan generasi yang cerdas nantinya. Pendidikan dan pengalaman akan membawamu menjadi orang tua yang tangguh untuk anak-anakmu kelak.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang juga pekerja. Apa pun dulu dijalaninya demi keluarga. Saat dia di rumah dia menjalankan tugas rumah tangganya dari pagi sampai sore. Setidaknya itu adalah pemandangan yang bisa aku lihat sedari kecil ketika beliau ada dirumah. Melihat ibu bekerja seperti melihat dua manusia menjadi satu. Sekuat-kuatnya dia membantu ayah mencukupi nafkah. Selembut-lembutnya beliau mengurusi rumah tangga. Keduanya bisa dilakukan sekaligus. Hidupnya penuh dengan cara mengabdi.

Sedari kecil aku ‘dipaksa’ berpisah dari ibu. Karena kebutuhan ekonomi pada masa itu, yang mengharuskan beliau turun tangan untuk membantu perekonomian keluarga. Mengorbankan masa kecilku tanpa asuhan beliau membuatku kehilangan sosok ibu dalam hidupku.

Kita jarang sekali bisa bertemu. Empat bulan sekali bahkan kadang bertahun-tahun baru bisa bertemu. Melepas rindu dengan membaca secarik surat dan mendengar suaranya sudah membuatku bahagia ketika mendengar beliau sehat disana. Aku melewati banyak kejadian penting dalam hidupku tanpa kehadiran ibu di sisiku. Yang paling kuingat adalah wisuda kelulusanku.  Dari banyaknya pengalaman itu membuat aku ketika masih muda dulu pernah berniat bahwa tidak mau menjadi seperti ibuku.

Ibu adalah Perempuan Hebat

berkarier 20an
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Namun seiring berjalannya waktu, dan aku pun sudah dewasa, terlebih lagi sekarang statusku adalah seorang ibu juga. Aku mulai berpikir bahwa sebenarnya aku sangat menyukai ibuku dalam hal-hal tertentu. Tanpa ibu menjelasakan pun akhirnya aku sudah mulai paham. Kenapa dulu beliau memilih meninggalkanku demi sebuah pekerjaan. Karena perempuan harus berdaya. Perempuan tidak bisa berpangku tangan saja.

Aku sendiri juga menyadari sekarang bekerja keras demi anak. Agar anak yang akan mengenyam pendidikan tidak memikirkan apa-apa. Tidak perlu berfikir bagaimana caranya bayar uang sekolah, bagaimana cicilan dana pendidikan. Bagaimana beli seragam sekolah. Anak hanya tinggal melakukan tanggung jawabnya sebagai manusia. Menjadi warga negara yang taat pada peraturan.

Semakin tumbuh dewasa dan mulai menyadari susahnya mengisi pundi-pundi tabungan dan mengatur keuangan saya bertekad ingin berhenti menyusahkan orang tua. Membiarkan mereka menikmati hasil kerja kerasnya ketika masih muda. Tidak harus susah payah memikirkan anaknya. Terutama ketika salah satu tugas pokok mereka kepadaku sudah tunai. Menyekolahkan.

Hidup memang selalu menawarkan pilihan. Dan aku sangat ingin berterima kasih atas banyak hal yang kau tanamkan dalam perjalanan hidupku. Ibu mungkin tidak menyadarinya tapi terlepas dari apa pun itu, ibu adalah perempuan yang hebat. I love you ibu.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓