Kisah Pasangan Gay yang Memantapkan Hati saat Melakukan Perjalanan Berkemah

Annissa Wulan12 Jan 2021, 17:00 WIB
Diperbarui 12 Jan 2021, 17:00 WIB
Mark dan Michael 2 tahun setelah melakukan perjalanan berkemah

Fimela.com, Jakarta Liburan pertama Mark Jason Williams bersama pasangan gay yang bernama Michael adalah berkemah. Sebagai warga New York berusia 40 tahun, ide berkemah bukan hal yang menarik bagi Mark, namun ia ingin mencobanya.

Mencari perkemahan secara online, akhirnya Michael memilih salah satu yang semuanya pria dan diperbolehkan untuk tidak mengenakan busana di sana. Mark sempat ketakutan.

Namun, beberapa hari kemudian Mark duduk di kursi penumpang melewati ladang jagung menuju ke tempat perkemahan. Ketika sampai di pintu masuk perkemahan, mereka bertemu dengan 2 orang pria berusia awal 50-an yang mengenakan kemeja berkancing calico.

Saat keduanya check in di ruang utama, Mark dan Michael disambut pemilik perkemahan yang tidak mengenakan busana apapun, benar-benar telanjang. Mark berharap pasangan gay-nya, Michael memperlihatkan reaksi terkejut yang sama, sayangnya tidak.

Michael adalah seorang profesor kesehatan masyarakat berusia 45 tahun dan ia juga yang memimpin perjalanan ini, tidak ada satu hal pun yang tampaknya membuatnya terkejut. Mark mengagumi kedewasaan Michael sebagai pasangan gay-nya, sesuatu yang berkaitan dengan menjadi putra diplomat AS dan tumbuh di luar negri.

 

 

Mark merasa Michael mampu melengkapi dirinya

Mark dan Michael
Mark dan Michael. Sumber foto: Document/Huffpost.

Pada kencan pertama, mereka makan hamburger dengan santai dan Mark terpesona dengan semua kisah Michael ketika tinggal di Lebanon, Siprus, Filipina, Jerman, dan Australia sebelum dirinya berusia 10 tahun. Sedangkan berbeda dengan Michael, Mark tumbuh sebagai pria gay yang terlindung dan tertutup dalam keluarga penganut Katolik konservatif dari Yonkers.

Ketika Mark meninggalkan rumah di usia 18 tahun, ia hanya pindah sejauh 25 mil ke Manhattan. Di pertengahan usia 20-an, Mark masih belum sepenuhnya berani mengakui dirinya gay, kurang percaya diri dan belum ingin pergi ke pesta seks atau sekedar berkenalan dengan pria di bar, seperti teman-temannya yang lain.

Di masa tuanya, Mark merasa seperti pria gay paling membosankan di dunia. Ia adalah seseorang yang menikmati seks di tempat tidur dengan lampu dimatikan. Michael menyakinkan Mark bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak memiliki masalah.

Di perkemahan, Mark berusaha keras menyesuaikan dirinya, sedangkan Michael terlihat dapat beradaptasi dengan mudah. Untuk pertama kalinya Mark menyadari bahwa ia dan Michael belum memiliki status hubungan apapun.

Keduanya memantapkan hati di perjalanan berkemah yang kedua

Mark dan Michael
Mark dan Michael. Sumber foto: Document/Huffpost.

Ketika Mark memberanikan diri bertanya, Michael menjawab bahwa ia tidak suka status pacar. Momen itu menyadarkan Mark bahwa selama ini ia selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Ia terlalu dingin, terlalu berhati-hati, atau selalu mengatakan hal yang salah. Namun, segalanya berbeda ketika bersama Michael.

Mark merasa sadar diri, sikap tenang dan sabar yang dimiliki Michael membuat Mark rileks. Mark bisa membuka diri dengan cara yang tidak pernah diduganya, bercerita tentang segala hal, mulai dari bagaimana ia menghabiskan masa kecil melawan leukimia hingga kecintaan Mark pada gulat profesional.

Saat itu, Michael berbaring tepat di sebelah Mark dan Mark merasa semakin mencintainya lebih dari sebelumnya, tapi apakah Michael mencintainya? Setahun kemudian, Michael menyarankan mereka melakukan perjalanan berkemah lagi.

Mark menyetujuinya dengan beberapa syarat. Di kesempatan liburan berkemah yang kedua itulah kedua sepakat untuk menganggap satu sama lain sebagai suami. 

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓