Survey: Mayoritas Orang Indonesia Anggap Penting Pewarna Makanan dan Minuman Alami

Karla Farhana16 Jan 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 16 Jan 2021, 11:00 WIB
Minuman Kemasan

Fimela.com, Jakarta Makanan dan minuman kemasan kerap kali menggunakan pewarna. Seiring dengan gaya hidup sehat yang kian populer di kalangan masyarakat usia muda, pewarna makanan menjadi salah satu bahan yang menjadi sorotan. Pewarna makanan alami merupakan pilihan utama untuk membuat makanan dan minuman tampak lebih menarik bagi konsumen. 

Bahan pewarna makanan selain dibuat dari sumber alami seperti tumbuhan, buah-buahan dan sayuran juga dibuat dengan menggunakan metode produksi sederhana dan tradisional untuk menghasilkan konsentrat yang dapat memberikan warna sebagaimana yang diinginkan pada makanan dan minuman. Hal ini diakui sebagai bahan makanan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan memberi label sebagai konsentrat buah atau sayuran pada daftar bahan. Seperti konsentrat wortel jeruk, konsentrat kunyit, konsentrat ubi jalar dan konsentrat spirulina. 

Dengan begitu, konsumen menjadi lebih mudah untuk mengenali bahan alami apa saja yang digunakan sebagai pewarna. Hal ini juga sudah menjadi regulasi yang juga berkaitan dengan adanya gerakan 'Clean Label' untuk mengajak industri makanan global menyederhanakan daftar bahan makanan yang digunakan dan lebih transparan dalam mengkomunikasikan bahan makanan apa saja yang terkandung di dalam produk tersebut, termasuk proses manufakturnya. 

Selain lebih gamblang dalam menuliskan bahan-bahan yang terkandung, pewarna alami juga digemari banyak konsumen. Studi studi menunjukkan bahwa sekitar 88% konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang mengandung bahan-bahan alami. Sementara itu, sekitar 80% konsumen menganggap pentingnya membaca daftar bahan makanan yang tercantum pada produk sebelum membeli. Di Indonesia sendiri, 67% konsumen paling banyak memeriksa daftar bahan makanan setiap kali mereka membeli produk makanan dan minuman.

Clean Label

ilustrasi pewarna makanan
ilustrasi pewarna makanan | pexels.com/@nicole-michalou

Sementara itu, survey yang dilakukan FMCG Gurus menunjukkan, 70% konsumen Indonesia familiar dengan istilah Clean Label pada makanan dan minuman kemasan. Ketika ditanya bagaimana pendapat mereka tentang 'clean label', 81% mengatakan bahwa produk makanan tersebut bebas sintetik, 78% mengatakan produk ‘clean label’ non-GMO, 77% mengatakan ramah lingkungan, 75% mengatakan bebas dari zat aditif, dan 74% mengatakan bahwa produk tersebut berbahan alami.

Dalam studi yang sama juga mengungkapkan bahwa 71% konsumen Indonesia melihat pentingnya penggunaan pewarna makanan alami pada makanan dan minuman. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran konsumen akan produk yang lebih alami dan lebih bersih semakin berkembang.

Simak Video Berikut

Lanjutkan Membaca ↓