Terinfeksi Polio, Kisah Pria Terakhir dengan Paru-Paru dari Besi

Karla Farhana18 Jan 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 18 Jan 2021, 11:30 WIB
ilustrasi paru-paru

Fimela.com, Jakarta Paul Alexander hanya bisa terbaring. Gerakannya hanya sebatas mata, mulut untuk bicara, dan kepala sedikit menengok ke kanan dan ke kiri. Pasalnya, hidup Paul sangat bergantung pada sebuah alat masif seperti tabung. 

Paul harus selalu tiduran dengan leher hingga kaki berada di dalam tabung tersebut. Tabung masif itu merupakan sebuah alat medis pengganti paru-parunya yang sudah rusak akibat virus Polio. Dilansir dari ABC.net.au, Paul terinfeksi virus Polio pada saat dia masih berusia 6 tahun. 

Kini, di usianya yang sudah mencapai 74 tahun, Paul menceritakan kisah dan pengalamannya hidup bergantung pada paru-paru besi tersebut. 

Meski gerak tubuhnya sangat terbatas, Paul tidak pernah menyerah untuk hidup. Dia bahkan tetap melanjutkan pendidikannya hingga ke Universitas. Sebelum pensiun, Paul bahkan bekerja sebagai pengacara dan memiliki banyak klien. 

Awal Mula Terinfeksi

Dilansir dari the Guardian, Paul yang masih berusia 6 tahun saat itu sedang bermain di luar. Tiba-tiba, dia merasa tidak enak badan. Lehernya sakit, kepalanya seperti dipukul-pukul. Dia kemudian meninggalkan sepatunya di luar dan masuk ke dapur tanpa alas kaki. 

Ketika sang ibu melihat wajah Paul yang pucat, dia pun terkesiap dan langsung menidurkannya di ranjang. Orangtua Paul memanggil dokter. Usai menganalisa, Paul didiagnosa terkena polio. Namun, karena Polio saat itu mewabah dan rumah sakit penuh akan pasien, dokter tersebut menyarankan Paul untuk tetap berada di rumah. 

Lima hari kemudian, kondisi Paul justru memburuk. Hanya dalam waktu singkat, Paul tak bisa berbicara, menggenggam krayon, menelan makanan, dan bahkan batuk. Kedua orangtuanya langsung melarikan Paul ke RS Parkland. Namun, dokter pertama mengatakan  Paul tak bisa lagi ditolong. 

Untung saja, ada dokter lain yang akhirnya mau menerima Paul. Dokter tersebut langsung melarikannya ke ruang operasi dan melakukan trakeotomi darurat untuk menyedot kemacetan di paru-parunya yang tidak bisa digerakkan tubuhnya yang lumpuh. 

Tiga hari kemudian, Paul bangun dengan tubuh yang terbungkus sebuah mesin besar. Tak bisa bergerak, tak bisa berbicara, tak juga bisa batuk. Setelah menjalani perawatan, Paul akhirnya boleh keluar dari rumah sakit. 

Namun, virus Polio membuatnya lumpuh dari leher ke bawah. Kini, mesin besar tersebut menggantikan tugas paru-parunya agar dia bertahan hidup. 

#elevate women

Simak Video Berikut

Lanjutkan Membaca ↓